Total Pageviews

Saturday, January 15, 2011

Tentang Pertempuran 10 November 1945 Surabaya

Wartawan Pencetus Hari Pahlawan
Diskusi Hari Pahlawan GP Ansor
Kamis, 11 November 2010 | 10:14 WITA

TOKOH utama sekaligus pencetus Hari Pahlawan Nasional, Bung Tomo, ternyata sehari-harinya seorang wartawan.

Seruan perlawanan dan pekik Allahu Akbar dari suara Bung Tomo pada 10 November 1945 itu menjadi pelecut bangkitnya perlawanan rakyat semesta warga Surabaya, Jawa Timur, untuk melawan sekutu yang kembali bermaksud menjajah Indonesia ketika itu.
Hal itu diungkapkan budayawan nasional asal Madura, Jawa Timur, Zawawi Imron, di redaksi Tribun, Makassar, Rabu (10/11).
Zawawi "digiring" oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sulsel ke redaksi Tribun untuk menjadi narasumber tunggal dalam diskusi Hari Pahlawan tersebut.
Ketua GP Ansor Sulsel Azhar Arsyad mengatakan, diskusi dengan budayawan yang juga kiai Nahdlatul Ulama (NU) itu sebagai bagian dari peringatan Hari Pahlawan, kemarin.
"Bung Tomo lahir 3 Oktober 1920. Saat peristiwa 10 November 1045 itu, dia baru berusia 25 tahun. Jadi masih sangat muda. Dua tahun kemudian diangkat menjadi jenderal mayor," ujarnya.
Menurut Zawawi, setelah 17 Agustus 1945, Belanda tidak tinggal diam. Mereka ingin kembali mencengkram Tanah Air menjadi jajahannya kembali.
Tokoh lain di balik peristiwa 10 November itu, kata Zawawi, adalah KH Hasyim Asy'ary dan KH Wachid Hasyim.
Zawawi menjelaskan, setelah mencermati gelagat Belanda dan sekutunya, maka pada 21-22 Oktober 1945, dua bulan lima hari setelah Proklamasi, KH Hasyim Asy'ari mengumpulkan ulama-ulama se-Jawa di Surabaya.
"Sebenarnya ulama-ulama dari Sulsel juga bermaksud diundang karena di sini waktu itu sudah ada NU-nya, tapi karena sangat sulit didatangkan dan mengingat situasi yang semakin mencekam, sehingga yang didatangkan hanya ulama-ulama se-Pulau Jawa," jelas Zawawi.
Dalam pertemuan para ulama itu, disepakati resolusi bahwa mempertahankan kemerdekaan merupakan jihad fi sabilillah. "Fatwa ini disebarkan di seluruh Surabaya melalui kiai-kiai dan tokoh-tokoh kampung, saya masih membaca surat aslinya itu. Awal November mulai ada agresi. Puncaknya pada 10 November oleh Bung Tomo, sang wartawan itu," ujar Zawawi.
Menurutnya, sulit terjadi perlawanan besar-besaran di Surabaya itu kalau tidak ada resolusi para ulama.
Dua hari sebelum 10 November, kembali digelar Kongres Umat Islam yang melahirkan Majelis A'la Syura Indonesia (Masyumi) dan resolusi bahwa berjuang mempertahankan Tanah Air adalah jihad fi sabilillah. Aktor terpenting dalam pertemuan ini adalah KH Wachid Hasyim.
"Jadi Hari Pahlawan ini adalah salah satu bukti keperkasaan dan keteguhan hari ulama dan para santri mempertahankan Tanah Air dari cengkeraman penjajah," tegas Zawawi.
Di zaman moderen, kata Zawawi, perang yang terbaik dilakukan adalah, sesuai hadis Rasulullah, "Afdhaluljihadi, ayyujahada nafsahu wa hawahu." (jihad yang terbaik adalah memerangi hawa nafsu, memerangi egoisme, dan keakuan sendiri sendiri).
Hadir dalam diskusi yang dipanduWakil Ketua GP Ansor Sulsel Wahyuddin AB Kessa itu mantan calon DPD RI asal Sulsel Andi Ardiansyah, Direktur Program Lembaga Pendidikan dan Advokasi Anak Rakyat (LAPAR) M Mabrur L Banuna, Direktur Aditama Production Alamsyah, aktivis PMII Sulsel Zulfikar Limolang, dan Ketua Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Wajo (Hipermawa) Harmansyah.
Hadir pula aktivis PMII dan mahasiswa seperti Saldhy, Vabdhy, Mahmd, Suardi, M Yusuf, Firman, Isnan Pratama, Syahrul Jeka, Surahman, Arman Beddu, dan Harrol Oddang.
"Kalau ada hari pahlawan, kita jangan hanya mau dapat abunya, tapi raih apinya. Mari kita hayati syair Al Ma'ari, 'Tuhan janganlah hujan menyirami kebunku kalau tidak membasahi seluruh dunia'. Ini yang disebut kesalehan sosial. Dan pahlawan sejati adalah pengabdian untuk orang lain," ujar Zawawi.
Menurutnya, lebih baik jadi tukang becak tapi bermanfaat daripada jadi pilot tapi merugikan penumpang.
"Istilah pahlawan itu dari pahala karena sikapnya selalu didedikasikan untuk kepentingan orang lain. Dalam menghayati hari pahlawan, kita harus hayati diri kita sendiri agar menjadi aktor-aktor terbaik," tegas Zawawi.(as kambie)

(Sumber: http://makassar.tribunnews.com/read/artikel/136525/Wartawan_Pencetus_Hari_Pahlawan)

No comments: