Total Pageviews

Monday, January 10, 2011

Foto-Foto Zainul Arifin dan Presiden Sukarno Shalat di Mesjid di AS tahun 1956







Foto ini dalam rangka kunjungan Presiden Sukarno ke Amerika Serikat tahun 1956. Ketika tiba saatnya shalat, Bung Karno dan rombongan menuju salah satu masjid di sana untuk bersujud. Foto-foto berikut terasa sejuk kalau kita resapi dalam hati. Karenanya saya merasa tidak perlu berpanjang kata mengomentari ataupun memuji. Kita nikmati saja deretan foto di bawah ini, sambil membenamkan imaji sedalam-dalamnya….

Bung Karno, dengan tongkat komandonya berjalan kaki melintasi koridor masjid. Para pengawal correct menjaga Presidennya, lantas mengiringkannya masuk ke dalam masjid.

Usai shalat berjamaah, Bung Karno berdoa sejenak. Sejurus kemudian, ia bangkit berdiri lagi untuk kembali melaksanakan shalat sunah dua raka’at…. Anggota rombongan lain, ada yang mengikuti Bung Karno shalat sunah, ada yang tekun berdzikir, ada pula yang beringsut mundur, dan menunggu di luar masjid.

Usai shalat, tak pernah lupa Bung Karno khusuk berdoa. Tampak di sebelah kiri Bung Karno adalah Roeslan Abdulgani. Diplomat muda, pahlawan pada pertempuran heroik 10 November 1945 di Surabaya. Ia kemudian diangkat menjadi Menteri Luar Negeri, dan termasuk tokoh di balik Konferensi Asia Afrika Bandung yang bersejarah itu. Roeslan Abdulgani wafat 29 Juni 2005 dalam usia 91 tahun.

Seperti umumnya jemaah masjid, begitu pula Bung Karno. Di dalam masjid, tidak ada presiden, tidak ada menlu, tidak ada pejabat. Yang ada hanya imam dan makmum. Begitu pula usai shalat, Bung Karno dengan santai duduk di tangga masjid untuk mengenakan sepatu, seperti halnya jemaah yang lain.Usai shalat, ia kembali melanjutkan protokol kunjungan kenegaraannya. Antara lain menggelar pembicaraan bilateral dengan Presiden Dwight Eisenhower yang dikisahkan “kurang mesra”.
* dari berbagai sumber*

(Sumber: http://putrahermanto.wordpress.com/)

Peringatan 100 Tahun KH Zainul Arifin

PP Lajnah Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU) menyelenggarakan Perayaan 100 tahun KH Zainul Arifin di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu 25 November 2009 kemarin, sebagai upaya untuk menghadirkan tokoh teladan dalam melanjutkan perjuangan bangsa.

Pada acara tersebut Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin memberikan sambutan mewakili Ketua MPR yang juga menantu Bung Karno, Taufik Kemas. Keluarga Bung Karno menyatakan, tidak akan pernah melupakan jasa KH Zainul Arifin.

Acara ini dihadiri oleh Mustasyar PBNU KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, Ketua DPR RI Marzuki Ali, Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Ryamizard Ryacudu, dan sejumlah politisi lintas partai seperti Effendy Choirie (PKB), Ahmad Mubarok (Partai Demokrat), Arif Mudatsir Mandan (PPP), para pengurus PBNU dan keluarga besar KH ZAinul Arifin.

Sumber: nu.or.id

Pejuang Berpanji Laskar Hizbullah

Ia merupakan tokoh berwawasan kebangsaan. Berbendera organisasi laskar Hizbullah yang berazaskan keagamaan, ia bersama tentara resmi berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

KH. Zainul Arifin, seorang pahlawan kemerdekaan yang mengawali perjuangan pergerakan nasional di bawah naungan organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Pada zaman Jepang, pergerakan Zainul Arifin dengan nama organisasi Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI), yang kelak kemudian berganti nama menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Di bidang kemiliteran, Zainul pernah menjabat Panglima Hizbullah (Tentara Allah) untuk seluruh Indonesia dan Sekretaris Pucuk Pimpinan TNI. Setelah kemerdekaan, ia berturut-turut menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS), Wakil II Perdana Menteri, Wakil Ketua DPR , dan Ketua DPRGR.

Gemeente Batavia atau Kotapraja Jakarta, itulah pekerjaan Zainul Arifin pada masa pendudukan Belanda. Dengan demikian, beliau adalah seorang pegawai negeri yang mendapat upah atau gaji dari pemerintah kolonial Belanda. Bekerja seperti itu memang sudah lajim pada zaman itu. Namun bedanya, walaupun bekerja pada pemerintah Belanda, pria kelahiran Barus, Tapanuli, tahun 1909, ini aktif dalam pergerakan nasional. Beliau masuk organisasi Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi keislaman yang waktu itu juga sekaligus menjadi partai.

Dalam perjalanan sejarah, pemerintah pendudukan Belanda akhirnya harus keluar dari bumi Indonesia akibat kalah perang dari Jepang pada Perang Dunia Kedua. Pemerintahan Belanda di Indonesia kemudian digantikan Jepang. Pemerintah pendudukan Jepang ini menerapkan kebijakan baru mengenai partai-partai. Semua partai yang ada dilarang berdiri, tak terkecuali Partai NU. Tapi kemudian mengizinkan berdirinya Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) sebagai satu-satunya wadah bagi umat Islam. Zainul Arifin yang memperoleh pendidikan Sekolah Dasar dan pesantren, kemudian memasuki organisasi tersebut yang kemudian terpilih sebagai Kepala Bagian Umum.

Di bidang kemiliteran, Zainul Arifin boleh dikata merupakan salah seorang tokoh yang sukses. Sebelum masuk ke dunia militer, beliau terlebih dulu latihan militer selama dua bulan. Selepas menjalani latihan, beliau masuk Hizbullah, sebuah organisasi semi militer yang anggotanya terdiri dari pemuda-pemuda Islam. Organisasi ini merupakan salah satu laskar di antara sekian banyak laskar bersenjata di Indonesia yang melakukan perjuangan di samping tentara resmi.

Di laskar Hizbullah ini, Zainul Arifin kemudian terpilih menjadi Panglima Hizbullah seluruh Indonesia. Di bawah organisasi tersebutlah ia melakukan perjuangan. Hingga era revolusi kemerdekaan, mereka berjuang bersama tentara resmi untuk mempertahankan kemerdekaan.

Dalam rangka penyatuan satu wadah tentara sebagai kekuatan pertahanan nasional, maka semua laskar yang ada dilebur atau disatukan ke dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI). Begitu pula halnya dengan Hizbullah, kemudian melebur menjadi TNI. Zaenul Arifin yang hingga akhir keberadaan Hizbullah duduk dalam pucuk pimpinan, kemudian diangkat sebagai Sekretaris Pucuk Pimpinan TNI hasil penggabungan.

Sementara di pemerintahan, KH Zaenul Arifin lebih banyak duduk di lembaga legislatif. Awal kemerdekaan, beliau duduk sebagai anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP). Kemudian sesudah pengakuan kedaulatan, tepatnya sejak tahun 1950 sampai tahun 1953, duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS).

Di lembaga eksekutif, beliau memang sempat duduk sebagai Wakil II Perdana Menteri dalam Kabinet Ali Sastroamijoyo. Namun pada Pemilihan Umum tahun 1955, beliau kembali duduk di lembaga legislatif sebagai anggota DPR, dan bahkan kemudian terpilih sebagai Wakil Ketua DPR.

Satu hal bersejarah terjadi pada periode ini. Pada periode ini, pertentangan politik di tanah air khususnya di lembaga legislatif sangat tajam. Negara Republik Indonesia ketika itu tidak lagi memakai UUD 45 sebagai dasar konstitusional negara, tapi telah memakai Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) sebelum dibuat UUD yang baru. Dan menjadi tugas DPR-lah menyusun undang-undang dasar baru tersebut. Namun, dengan proses yang sangat panjang dan melelahkan, Konstituante tidak berhasil membuat undang-undang dasar baru tersebut. Bahkan, pertentangan di tubuh lembaga legislatif itu semakin besar dan tajam. Melihat keadaan demikian, Presiden Soekarno akhirnya mengeluarkan dekrit yang menyatakan berlakunya kembali Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 45).

Masih berkaitan dengan kebuntuan yang terjadi di lembaga legislatif tersebut, akhirnya lembaga legislatif itupun dibubarkan dan selanjutnya dibentuk Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR). KH Zainul Arifin yang sejak awal diangkat menjadi Pejabat Ketua, kemudian dikukuhkan sebagai Ketua DPRGR.

Begitulah perjalanan hidup dan perjuangan salah seorang putra terbaik bangsa, KH Zainul Arifin. Sampai akhir hayatnya, beliau tetap mengabdi kepada nusa dan bangsa. Beliau meninggal dunia di usia 54 tahun, tepatnya pada 2 Maret 1963 di Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Mengingat jasa-jasanya pada nusa dan bangsa, maka negara menganugerahkan gelar penghormatan kepada KH Zainul Arifin sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Gelar penghormatan tersebut dikukuhkan dengan SK Presiden Republik Indonesia No.35 Tahun 1963, tanggal 4 Maret 1963.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

SEABAD PANGLIMA HIZBULLAH Muslimat NU: KH Zainul Arifin, Pahlawan Nasional yang Sederhana

Jakarta, BulZan

KH Zainul Arifin, salah seorang pahlawan nasional yang berlatar belakang Ahlussunnah wal Jamaah adalah sosok yang sederhana dan tidak glamour (bermewah-mewahan). Meski menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri dan Panglima Hizbullah, namun KH Zainul Arifin tetap suka menyapa dan akrab dengan rakyat kecil.
KH Zainul Arifin adalah sosok yang sangat berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan segala pengorbanannya. Pada masa hidupnya, KH Zainul Arifin berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dengan sepenuh jiwa raga, tenaga, fikiran dan harta benda bersama tokoh-tokoh nasional lainnya.

Demikian dinyatakan Ketua Himpunan Da’iyah dan Majelis Ta’lim Muslimat Nahdlatul Ulama (Hidmat NU) Hj. Machfudhoh Aly Ubaid kepada NU Online, Selasa (10/11). Menurut Machfudhoh, KH Zainul Arifin juga berjuang untuk membesarkan NU bersama para kiai dan ulama, baik melalui perjuangan bersenjata maupun diplomatik.

"KH Zainul Arifin juga mendidik anak-anaknya dengan semangat perjuangan dan pengabdian kepada rakyat. Termasuk untuk berjuang di jalur organisasi kemasyarakatan yang malatarbelakangi perjuangannya, yakni kelompok masyarakat tradisional," terang Machfudhoh.

Lebih lanjut, Machfudhoh juga menjelaskan, dalam kesehariannya KH Zainul Arifin adalah seorang bapak yang mengkader anak-anaknya dengan sangat baik dan bertanggungjawab. KH Zainul Arifin mengajak anak-anaknya untuk turut berjuang membesarkan NU.

"Salah satu buktinya adalah, anak-anaknya diajak untuk terlibat dalam perjuangan NU. Kita mengenal Neng Lilis dan Kak Neneng (dua puteri KH Zainul Arifin) yang aktif terlibat dalam perjuangan dan kepengurusan Muslimat NU)," tandas Machfudhoh. (nu/zayn)

NU Peringati 100 Tahun KH Zainul Arifin

Rabu, 25 November 2009 23:12 WIB | Peristiwa | Pendidikan/Agama | Dibaca 800 kali

Jakarta (ANTARA News) - Nahdlatul Ulama (NU) di Jakarta, Rabu malam menggelar peringatan 100 tahun KH Zainul Arifin, ulama dan tokoh nasional yang nyaris terlupakan.

Hadir dalam acara yang dilaksanakan Lajnah Taklif wan Nasyr (LTN) NU tersebut antara lain Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, mantan presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ketua DPR Marzuki Alie.

Kemudian Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Syaifuddin, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Achmad Mubarok, dan Ketua FPKB DPR Marwan Jafar.

Dalam sambutannya, Hasyim mengatakan, peringatan tersebut harus dijadikan tonggak generasi saat ini untuk meneladani kepahlawanan mantan wakil perdana menteri dan ketua DPRGR di era Bung Karno itu.

"Ketulusan dalam perjuangan dan moral perjuangannya perlu kita teladani," katanya.

Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Syaifuddin mengatakan, meski merupakan tokoh besar, Zainul cenderung terlupakan, seolah tenggelam oleh tokoh NU sezaman maupun yang belakangan yang lebih dikenal.

"Padahal sejarah mencatat beliau tokoh pertama NU yang menduduki jabatan eksekutif, yakni wakil perdana menteri di Kabinet Ali Sastroamijoyo," katanya.

Zainul, lajutnya, juga merupakan tokoh NU pertama yang menduduki jabatan legislatif yaitu sebagai ketua DPRGR.

"Semoga ini tidak sekedar romantisme tapi menjadi teladan semua anak bangsa," katanya.

Hal senada dikemukakan Gus Dur. Menurutnya, jasa Zainul terhadap negara sangat besar dan patut diteladani.

"Warisannya yang masih diperingati sampai saat ini adalah Konferensi Asia-Afrika yang diselenggarakan kabinet masanya," ujarnya.

Zainul juga mendirikan dan memimpin Laskar Hizbullah, salah satu milisi yang memainkan peranan penting di masa menjelang dan awal kemerdekaan.

Nama Zainul Arifin, yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional itu, juga terkenal saat peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno pada tahun 14 Mei 1962.

Saat itu, ketika sedang sholat Idul Adha, seorang anggota pemberontak kelompok Kartosuwiryo mencoba menembak Bung Karno namun meleset dan mengenai Zainul.(*)

Gus Dur: Zainul Arifin, Tokoh NU dalam Jajaran Militer

Jakarta - Zainul Arifin adalah tokoh NU yang sangat mumpuni dalam menjalin hubungan dengan militer. Beliau memiliki andil besar dalam pola hubungan militer-sipil hingga saat ini.

Demikian dinyatakan Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) seperti dimuat NU Online, Selasa (03/11) ketika dimintai pendapat mengenai kiprah KH Zainul Arifin, beberapa waktu lalu.

Menurut Gus Dur lagi, kyai yang lahir pada 2 September 1909 di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara ini merupakan salah satu tokoh NU yang berada dalam jajaran militer.

“Beliau adalah kawan sekaligus murid dari ayah saya, KH Ahmad Wahid Hasyim. Panglima HIzbullah ini merupakan pelobi ulung yang berperan sangat penting untuk mengimbangi kekuatan PKI di tubuh militer,” terang Gus Dur ketika ditemui di kediamannya.

Lebih lanjut, Gus Dur menjelaskan, ketika Republik sedang dalam ancaman PKI, KH Zainul Arifin berperan sangat penting untuk mengimbangi mengimbangi lobi PKI ke Presiden Soekarno.

“KH Zainul Arifin adalah salah satu tokoh NU dari luar Jawa yang berhasil naik ke pentas politik nasional melalui jalur kelaskaran. Karenanya, Beliau merupakan salah satu tokoh penting NU, terutama yang berasal dari luar jawa,” tandas Gus Dur. (Sumber: NU Online) FH

Gus Dur: Jangan lupakan kiprah KH Zainul Arifin

Berita Utama
Kamis, 26 November 2009

Gus Dur: Jangan lupakan kiprah KH Zainul Arifin

MANTAN Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengingatkan generasi muda, khususnya generasi muda Nahdlatul Ulama (NU), agar tidak melupakan peran dan kiprah (almarhum) KH Zainul Arifin dalam sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Menurut Gus Dur, banyak yang melupakan kiprah KH Zainul Arifin yang merupakan mantan Panglima Laskar Hizbullah. Bahkan, salah satu prestasi terbesar Almarhum yang pernah menjadi Wakil Perdana Menteri Kabinet Ali Sastroamidjojo pun banyak yang tak mengetahuinya.

�Beliau adalah bagian dari Kabinet Ali-Arifin (nama pemerintahan kabinet Ali Sastroamidjojo). (kata) �Arifin� itu yang dimaksud adalah KH Zainul Arifin. Inilah salah satu hal terbesar yang sering dilupakan,� terang Gus Dur dalam sambutannya pada peringatan Mengenang 100 Tahun KH Zainul Arifin di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (25/11) tadi malam.

KH Zainul Arifin, imbuh Gus Dur, juga turut berperan dalam memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika di Bandung, Jawa Barat, tahun 1955. Hal itu merupakan rintisan Almarhum yang masih bisa dikenang Bangsa Indonesia sampai sekarang.

Dalam acara yang dirangkai dengan peluncuran buku biografi KH Zainul Arifin berjudul �Berzikir Menyiasati Angin� itu, Gus Dur menjelaskan bahwa KH Zainul Arifin dapat disebut mewakili kelompok Islam�terutama kalangan Islam tradisional�di Indonesia dalam Kabinet Ali Sastro. �Sebab, Ali Sastro adalah penganut kebatinan atau aliran kepercayaan,� katanya.

KH Zainul Arifin, bagi Gus Dur, tidak hanya sebagai tokoh NU yang pernah menjadi Wakil Perdana Menteri, melainkan juga seorang yang memiliki kedalaman ilmu agama. �Beliau ditempa dengan pendidikan agama yang sangat keras (baca: kuat). Beliau juga seorang yang berjuang dari bawah,� jelasnya.

Pendapat senada disampaikan Ketua MPR RI, Taufik Kiemas, sekaligus mewakili keluarga mantan Presiden Soekarno (Bung Karno). Dalam pidato sambutan yang dibacakan Wakil Ketua MPR RI, Lukman Hakim Saifuddin, Taufik Kiemas mengatakan, nama KH Zainul Arifin memiliki tempat tersendiri di keluarga Bung Karno.

�Kami, atas nama keluarga Bung Karno, tentu tak pernah melupakan perjuangan dan pengorbanan KH Zainul Arifin. Beliau punya tempat tersendiri di keluarga kami,� kata Taufik Kiemas.

Kenangan paling mendalam bagi keluarga Bung Karno, ujar Taufik Kiemas, saat KH Zainul Arifin menjadi korban salah tembak dari upaya pembunuhan terhadap Bung Karno saat menunaikan salat Idul Adha pada 14 Maret 1962.

�Kejadian itu tentu tidak dapat kami (keluarga Bung Karno) lupakan. Kami sangat menghargai dan menghormati pengorbanan Beliau,� ujar Taufik Kiemas.
Peringatan Mengenang 100 Tahun KH Zainul Arifin itu dihadiri sejumlah tokoh nasional, antara lain Ketua Umum Pengurus Besar NU KH Hasyim Muzadi; Ketua DPR RI Marzuki Alie; mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Ryamizard Riyacudu, Pemimpin Umum Harian Duta Masyarakat Choirul Anam, putra dari almarhum KH Zainul Arifin, Jenderal
Purnawirawan Sanif, dan sejumlah tokoh lain.