Total Pageviews

Sunday, August 8, 2021

DARI PBB KE BUNDARAN HI

5 Agustus 2021 merupakan hari peringatan diresmikannya hotel termegah di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara pada zamannya, Hotel Indonesia, yang ke 59 tahun. Hotel bersejarah terletak di jantung kota Jakarta, bundaran HI itu sengaja dibangun untuk memfasilitasi pesta olahraga Asian Games 1962 sekaligus menunjukkan pada dunia kalau Indonesia mampu melaksanakan event olahraga internasional bertaraf global.

OLEH-OLEH DARI PBB

KH Zainul Arifin saat menyertai Presiden Sukarno ke Kantor Pusat PBB di New York pada 1960 sempat menyaksikan kekaguman Sukarno akan rancang bangun gedung megah rancangan arsitek Abel Sorensen. Presiden kemudian mengundang Sorensen dan istrinya yang juga perancang bangunan Wendy untuk mendesain hotel berbintang pertama Indonesia sekaligus termegah di Asia Tenggara di atas tanah berukuran 25.85 meter.

Selama dua tahun hotel 16 lantai berkapasitas 500 kamar tersebut dibangun dengan menuangkan konsep dasar dari Presiden berslogan "A Dramatic Symbol of Free Nations Working Together". Konsep itu terkait erat dengan program politik nasional berlabel Trisakti.

KEPRIBADIAN INDONESIA

Pada upacara peresm⅖ian Hotel Indonesia, 5 Augustus 1962, KH Zainul Arifin didampingi Nyai Hamdanah Abdurrahim tampak duduk di deretan bangku paling depan VVIP selalu Ketua DPR seraya menyimak pidato Sukarno bertajuk, "Tunjukkanlah Kepribadian Bangsa".

Dibagian depan dinding hotel terukir relief kehidupan tradisional masyarakat Bali seluas 68 meter dikerjakan oleh 53 seniman. Hingga kini karya seni ini tetap terjaga keindahan pahatannya.

Sebagai bangunan bersejarah, Hotel Indonesia memiliki Heritage Room yang masih menyimpan memorabilia peresmiannya. Didalamnya dapat disaksikan gunting asli digunakan Presiden kala acara pengguntingan pita peresmian. Juga ada peranti makan yang digunakan dalam acara jamuan. Foto KH Zainul Arifin beserta istri sedang mendengarkan Presiden Sukarno masih terawat rapi dalam ruangan ini.



Wednesday, August 4, 2021

Waperdam KH Zainul Arifin dan Presiden Sukarno Berangkat Haji (1)

Tiga bulan seusai berlangsungnya Konferensi Asia- Afrika di Bandung bulan April 1955, KH Zainul Arifin dalam kapasitasnya sebagai Wakil Perdana Menteri (Waperdam) pemerintah Kabinet Ali-Arifin mendampingi kepala negara Presiden Sukarno melakukan kunjungan kenegaraan ke beberapa negara di kawasan Asia (Singapura, Thailand, India, dan Pakistan), Jazirah Arab (Persatuan Arab Emirates dan Irak) serta Mesir di Afrika dan mengakhirinya dengan menjadi tamu negara Kerajaan Saudi sekaligus melaksanakan ibadah haji untuk pertama dan terakhir kalinya.

Ikut dalam rombongan berjumlah 31 orang itu beberapa pejabat negara diantaranya: Menteri Agama KH Masykur, Ruslan Abdulgani, Achmad Subarjo dan para ajudan serta pengawal presiden dan wartawan. 

Menyongsong peringatan kelahiran KH Zainul Arifin ke 111, akan dibahas rinci catatan perjalanan kenegaraan yang berlangsung selama 18 Juli - 4 Agustus 1955 itu dalam dua bagian tulisan. Bagian pertama mengupas kisah kunjungan bersejarah rombongan ke Mesir, sedangkan bagian lainnya menguraikan jadwal kegiatan Presiden Sukarno ketika menunaikan ibadah haji akbar di Tanah Suci.

Mampir ke Singapura hingga Irak 

Rombongan berangkat meninggalkan bandara Kemayoran pada 18 Juli menggunakan pesawat Garuda G-40 menuju Singapura. Di negeri jiran tersebut Presiden dan rombongan menemui masyarakat Indonesia yang tinggal di sana. Selanjutnya kunjungan non-formal di Bangkok. Sedangkan di New Delhi India, kunjungan agak lebih formal dengan Perdana Menteri Jawarhal Nehru menyambut Sukarno di Bandara didampingi dubes Indonesia untuk India, LN Palar.

Tidak berlama-lama perjalanan langsung berlanjut berturut-turut singgah di Karachi, Pakistan, kemudian Sharjah di Persatuan Arab Emirates dan Baghdad, Irak. Tidak banyak ditemukan rincian kunjungan ke negara-negara tersebut selain keterangan bahwa perjalanan pesawat kala itu memang harus terputus-putus sedemikian rupa. Memerlukan 2 hari sebelum rombongan mendarat di Kairo, Mesir.

Menginap di Istana Raja

Tanggal 20 Juli 1955, Presiden Sukarno beserta rombongan tibalah di Kairo, Mesir dan kunjungan kenegaraan berlangsung sampai 5 hari lamanya. Sambutan resmi di bandara secara militer dipimpin langsung oleh Presiden Mesir, Abdul Gamal Nasser. Sedangkan KH Zainul Arifin diterima resmi oleh mitranya Waperdam Mesir, Gamal Salim. Surat kabar Mesir Al-Ahram melaporkan sambutan yang gegap gempita dari rakyat Mesir yang mengelu-elukan Sukarno sepanjang perjalanan dari bandara menuju tempat menginap rombongan di Istana Kerajaan Mesir Koubbeh yang sangat megah dan indah. 

"Seolah seluruh rakyat Mesir keluar rumah menyambut kedatangan Presiden Indonesia. Sepanjang jalan yang dilalui Presiden Soekarno dipenuhi rakyat segala umur", tulis koran Al-Ahram. Keesokan harinya, tetamu negara dari Indonesia dibawa mengunjungi Museum Nasional Mesir, melihat mumi para Firaun dilanjutkan dengan lawatan ke piramida. Hari ketiga, Jumat, 22 Juli 1955, saat Presiden Sukarno dan anggota-anggota rombongan lainnya solat Jumat di Masjid Agung Kairo, jamaah masjid mendoakan para tamu negara asal Indonesia yang sedang dalam perjalanan ke Tanah Suci guna melaksanakan ibadah haji.

Acara kemudian dilanjutkan dengan menaiki kapal menyusuri Sungai Nil hingga ke Delda Barrages. Malamnya, Presiden Sukarno beserta rombongan menghadiri Perayaan Hari Kemenangan Nasional di kawasan Jumhuriah Square. Sukarno lantas didaulat untuk berpidato di depan rakyat Mesir yang membanjiri perayaan, disambut oleh pidato kenegaraan Presiden Gamal Abdul Nasser.

Dalam kesempatan itu pula, Waperdam Zainul Arifin mengundang Waperdam Gamal Salim untuk menghadiri dan menjadi Tamu Kehormatan Negara dalam perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 10 di Jakarta. 

Koran berbahasa Belanda Het nieuwsblad voor Sumatra, 25-07-1955 menulis:  'Wakil Perdana Menteri Mesir diundang (Wakil Perdana Menteri Zainul Arifin ) sebagai tamu negara dari Pemerintah Indonesia untuk menghadiri 17 Agustus di Jakarta. (Gamal Salim) akan tinggal di Indonesia dua minggu dimana Mesir juga akan berpartisipasi dalam pameran perdagangan internasional ketiga di Jakarta yang akan dibuka 18 Agustus sekaligus untuk mengkonsolidasikan hubungan perdagangan antara Mesir dan Indonesia’."

Ketika beberapa minggu kemudian Gamal Salim melakukan kunjungan ke Indonesia, KH Zainul Arifin sendiri menyambutnya di Kemayoran dan membawa tamu negara tersebut menemui Sukarno di Istana Bogor.

Bintang Nisyah

Hari terakhir di Mesir, dipandu oleh Letkol Anwar Sadat para tamu negara dibawa berwisata ke daerah Alexandria di pesisir laut Mediterania. Dari sana, rombongan Presiden RI kemudian dijamu pertunjukan demonstrasi kekuatan Pasukan Angkatan Bersenjata Mesir di lapangan El Jumhuria.

Selanjutnya, Presiden Gamal Abdul Nasser menganugerahi Sukarno dan KH Zainul Arifin bintang kehormatan Republik Mesir, Bintang Nisyah. Sedangkan, sebagaimana dilaporkan harian Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 25-07-1955: Ulama Besar dan Rektor Universitas Al Azhar menghadiahi Presiden dan Waperdam RI salinan Quran langka yang dicetak di atas kertas linen. Rektor Al Azhar juga mengantar rombongan menuju bandara dan melepas tetamu negara berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.


Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/121862/waperdam-kh-zainul-arifin-dan-presiden-sukarno-berangkat-haji--bagian-1-

Monday, August 2, 2021

SEKELUMIT KENANGAN (2): HAMDANAH ZAINUL ARIFIN


Oleh: Ario Helmy

Begitu dipecat dari pekerjaannya di Gemeente (pemda) oleh penjajah Belanda yang tetiba merombak kebijakan karena dilanda kemerosotan ekonomi global di era 30-an, KH.Zainul Arifin beralih profesi menjadi pekerja seni sandiwara tradisional Samrah dan guru sekolah di Batavia. Selain itu, Arifin kembali mendalami ilmu agamanya serta aktif di organisasi pemuda NU, Ansor. Sebentar saja namanya sudah dikenal luas di kalangan ulama NU di Batavia dan Jawa Barat sebagai dai muda yang mumpuni dalam berdakwah. Dalam waktu singkat, dia sudah menjadi Konsul Majelis NU Batavia. Istrinya, Hamdanah Zainul Arifin dikenal sebagai istri kiai.

Ketika Jepang datang, Zainul semakin aktif di organisasi ulama Masyumi mewakili NU. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menugasinya untuk menggalang kekuatan di antara pemuda-pemuda Islam guna bersiap-siap menyongsong kemerdekaan yang dijanjikan Jepang.

"Umat Islam yang mempunyai jiwa yang hidup harus menuntut dan mempertahankan kemerdekaan jika perlu dengan jiwa raganya," seru Arifin ketika berkeliling Jawa Barat guna mengobarkan semangat menuntut kemerdekaan di kalangan santri. 

Tak lama sesudahnya, dia terpilih sebagai Komandan laskar pemuda Islam Hizbullah yang pelatihannya berlangsung selama 2 bulan di Cibarusah, Bekasi.

ISTRI PEJUANG

Hamdanah Zainul Arifin secara berangsur-angsur mulai menyusaikan diri sebagai istri pejuang auh dari kehidupan nyaman dan aman. Sebagai Panglima Hizbullah, Zainul Arifin termasuk dalam daftar tokoh yang dicari-cari oleh Tentara Belanda selama masa perang kemerdekaan. Belanda ingin kembali menjajah Indonesia yang sudah memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Para pejuang yang terdiri dari tentara dan laskar-laskar yang juga sudah bersenjata harus melaksanakan Perang Gerilya di hutan-hutan dan gunung-gunung. Bisa berbulan-bulan lamanya keluarga yang ditinggalkan tidak dapat berhubungan dengan suami/ayah mereka.

Hamdanah Arifin yang sudah memiliki 10 orang anak harus berjuang keras menghidupi keluarganya. Dia harus pandai-pandai mencari penghasilan sendiri agar dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Untuk itu dia berjualan makanan sebisanya.

"Anak tertua dan kedua lelaki sudah mulai remaja. Sudah mulai ikut bergerilya," kenang Zuraida Fatma, putri keempat.

"Kami bertahan hidup dengan makanan seadanya. Mamih memasak sayur apa saja: daun pepaya, daun singkong, daun katuk, lalapan," lanjut Zuraida, "Mamih juga mengajarkan kami beternak ayam untuk diambil telurnya dan kambing untuk susunya. Karena adik-adik masih kecil-kecil. Di Kediri Mamih melahirkan adik kami Siti Aisyah. Dia terpaksa diberi susu kambing karena ASI Mamih tidak keluar."

Perang Kemerdekaan adalah zaman yang sangat sulit bagi semua orang. Selain susah mendapatkan bahan makanan, pakaian juga langka. Setiap anak-anak perempuan Hamdanah diharuskan belajar menjahit untuk memperbaiki dan menambal baju yang rusak.

"Karena Ayah harus bergerilya di hutan dan gunung, serta keadaan yang tidak aman kami terpaksa harus sering mengungsi. Berjalan kaki ratusan kilo sambil menggendong adik-adik yang lebih kecil," rinci Firman Arifin.

Kalau ada serangan udara keluarga besar ini harus mencari bunker, agar dapat bersembunyi di bawah tanah.

"Dalam perjalanan mengungsi sering kami temui mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Mamih sampai gemetaran membalik mayat-mayat itu satu-satu, takut kalau Ayah atau Uda Bai dan Uda Cecep tertembak mati." terang Firman pula.

Dari Kediri Hamdanah dan anak-anaknya mengungsi ke Malang, kemudian ke Solo. Sepanjang perjalanan harus melewati pos-pos penjagaan. Para pengungsi mengular antri menjalani pemeriksaan.

"Kami sampai mencubit adik bungsu yang masih bayi agar menangis keras. Lalu, biasanya kami di dahulukan."

GERILYA ALA AKTOR

Zainul Arifin bergerilya langsung di bawah koordinasi Jendral Sudirman. Dia memang termasuk lingkaran dalam Sudirman selaku Panglima Hizbullah dan anggota Dewan Kelaskaran Pusat dan Seberang.

Arifin menggunakan keahliannya sebagai aktor sandiwara untuk menyamar agar bisa menyusup kemana-mana.

"Ayah merubah penampilan dan gaya bicaranya sebagai seorang keturunan Arab dalam menyamar. Berkali-kali Ayah lolos dari kejaran tentara Jepang dan Sekutu." cerita putri Zainul, Siti Zuhara.

Namun pengorbanan seluruh Bangsa Indonesia menghadapi Perang Kemerdekaan yang diwarnai oleh dua kali Agresi Militer sepanjang 1945-1949 berbuah manis. Di penghujung tahun 1949 akhirnya Belanda mengakui kedaulatan NKRI sebagai negara bebas merdeka. Para pejuang pulang ke keluarga masing-masing. Zainul Arifinpun yang di awal kemerdekaan duduk di Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) kembali ke parlemen sebagai anggota DPRS. Kembali ke Jakarta dan menjadi kepala keluarga lagi.

Sunday, August 1, 2021

SEKELUMIT KENANGAN: (1)HAMDANAH ZAINUL ARIFIN


Oleh: Ario Helmy

Begitu suaminya, KH Zainul Arifin, menduduki kursi Wakil Perdana Menteri (Waperdam) dalam Kabinet Ali Sastroamijoyo I (1953-1956), Ibu Hamdanah Zainul Arifin tidak dapat menolak permintaan untuk aktif berkegiatan sebagai istri pejabat negara.

"Ibu Arifin adalah ibu rumah tangga sejati yang tidak terlalu suka diekspos," komentar Asmach Syahroni yang pernah lama menjadi Ketua Muslimat NU serta sejak muda akrab bersahabat dengan keluarga besar Zainul Arifin.

PEREMPUAN DESA

"Mamih benar-benar perempuan sederhana yang lahir dan besar di desa kecil Semplak, di Bogor," terang Zuhara Arifin, putrinya nomor 5. Sedang Hotimah, adik kandung Hamdanah mengenang, "Waktu dilamar Kang Aden, Ceu Danah baru 13 tahun. Tapi dari kecil sudah terbiasa mengurusi adik-adiknya karena ibu kami lama menderita sakit."

Zainul Arifin sendiri, meskipun baru berusia 17 tahun ketika pertama menikah namun sudah bekerja di pemerintahan kolonial (amtenar). Sesuatu yang masih sulit diraih oleh orang pribumi. 

Waktu Hindia Belanda menghadapi kesulitan ekonomi sebagai dampak runtuhnya perekonomian dunia, Arifin beralih profesi sebagai pegiat seni tradisional Samrah, cikal bakal Gambang Kromong Betawi. Hanya tuan-tuan tanah kaya raya yang mampu menyewa rombongan Samrah milik Zainul. Selain itu, Zainul Arifin juga mengajar di sebuah sekolah elit di kawasan Jatinegara. Kemudian, dia mulai aktif memperdalam mengaji hingga menjadi muballigh kondang di Batavia dan Jawa Barat. Hamdanah Arifin setia mendampingi sebagai ibu rumah tangga biasa.

"Ibu Zainul lebih sering berbahasa Sunda. Orangnya sederhana. Selalu memanggil saya Ujang," kenang Gusdur dalam suatu wawancara tahun 2009 di Ciganjur.

KEREPOTAN PROTOKOLER

"Waktu Anggut (Kakek) jadi waperdam, kegiatannya banyak sekali," cerita Ninik Hamdanah padaku suatu ketika, "Foto-foto. Resepsi ini itu. Kemana-mana mesti dikawal."

Hamdanah kemudian bercerita pula bagaimana repotnya selama Konferensi Asia Afrika berlangsung pada 1955. Banyak sekali yang harus ditemui.

"Raja Sihanouk dan Unu berdua orang yang ramah sekali. Yang lainnya lebih formal." urai Hamdanah.

Begitu usai Konferensi Asia Afrika, Presiden Sukarno semakin dekat dengan KH Zainul Arifin. Arifin selalu dibawanya serta keliling dunia dalam rangka menjalin persahabatan internasional. Dalam beberapa kesempatan melawat kenegaraan ke luar negeri, Hamdanah ikut mendampingi suaminya Zainul Arifin yang ketika itu sudah menjadi ketua parlemen."

"Kunjungan kenegaraan pertama waktu masih waperdam itu ke Kerajaan Arab Saudi. Sekalian naik haji." 

Menurut Hamdanah tidak banyak kegiatan buat ibu-ibu di Saudi waktu itu. Kunjungan kenegaraan berikutnya adalah lawatan bersejarah ke negeri Cina.

ISTANA KOTA TERLARANG

Di Cina, acara-acara protokoler untuk rombongan istri pejabat berlangsung padat. Hamdanah sendiri bersama para istri rombongan kenegaraan, selain melakukan kunjungan kehormatan ke istri Mao Zhedong, Jiang Qing, di Istana Kota Terlarang, juga mengunjungi pembangunan bendungan, pabrik tekstil dan sekolah.

"Jiang Qing perempuan cantik dan ramah," kenang Hamdanah akan istri Mao yang memang mantan artis tersebut, "Cuma makannya waktu di Cina agak repot. Takut tidak halal."

Selain Jiang Qing, ibu-ibu negara yang dikata sangat rupawan dan anggun oleh Hamdanah adalah Ratu Sirikit dari Thailand dan Ratu  Norodom Monineath Sihanouk atau biasa dipanggil "Monique".

Ratu Sirikit, permaisuri Raja Thailand dijumpai Hamdanah waktu mendampingi Zainul Arifin ikut dalam rombongan kenegaraan Presiden Sukarno ke Thailand.

"Permaisuri Thailand cantik sekali. Istana-istananya juga megah dan berlapis emas." ingat Hamdanah, "Rombongan tamu negara dijamu makan siang di atas kapal kerajaan menyusuri sungai di kota Bangkok. Satu kapal khusus untuk acara kesenian." Selain Istana Chitralada di Bangkok, Presiden Sukarno dan rombongan juga dijamu khusus di Istana di Chiangmai oleh Ratu Sirikit.

PERMAISURI INDO

Presiden Sukarno bersahabat erat dengan Raja Norodom Sihanouk dari Kamboja. Keduanya sering saling mengunjungi. Dalam salah satu kunjungan ke tanah air itulah, Hamdanah Zainul Arifin berkesempatan bertemu langsung dengan Permaisuri Norodom Monique Sihanouk yang berdarah campuran Perancis dan Vietnam.

"Wajahnya seperti orang Barat. Tetapi tingkah lakunya sangat Asia."

Tugas protokoler lainnya yang harus dijalani Hamdanah adalah menghadiri jamuan-jamuan kenegaraan di Istana Negara. Seringkali dalam acara-acara menghormati tamu negara yang datang, dia harus membawa putrinya Siti Zuhara sebagai penerjemah.

"Saya selalu menerjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Sunda. Mamih lebih lancar bahasa daerah." ujar Zuhara Arifin suatu ketika.

"Malah pernah ketika rombongan istri-istri anggota parlemen Filipina mendampingi suami-suami mereka berkunjungan kerja di Indonesia, Mamih menjamu mereka di rumah kami di Jalan Cikini Raya 48. Ayah waktu itu memang Ketua Parlemen. Saya menjadi penerjemah Mamih selama jamuan." lanjut Zuhara pula.

BERKHIDMAT DI MUSLIMAT

Meski tadinya tidak begitu berminat ikut organisasi, Hamdanah akhirnya terlibat sebagai pengurus ormas perempuan NU, Muslimat NU.

"Ibu Zainul bergabung sebagai bendahara selama beberapa tahun," jelas Ibu Asmach Syahroni, "kemudian dilanjutkan oleh anak-anak perempuannya yang tertua. Ibu Lies dan Ibu Neneng."

Rumah di Cikini Raya seringkali dijadikan ajang pertemuan tokoh-tokoh NU maupun Muslimat NU.

"Namun Ibu Zainul kalau di rumah lebih banyak sebagai istri dan nyonya rumah yang baik. Bukan sebagai istri pejabat," pungkas Ibu Asmach menutup wawancara.

Video kedatangan Pangeran Akihito dan istrinya Putri Michiko di era kepemimpinan Presiden Sukarno

Video kedatangan Pangeran Akihito dan istrinya Putri Michiko di era kepemimpinan Presiden Sukarno

https://youtu.be/L_ddo63qv0E

Menyerahkan Buku Biografi KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri Ikhlas Membangun Negeri kepada Ibu Meutia Hatta

Menyerahkan Buku Biografi KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri Ikhlas Membangun Negeri kepada Ibu Meutia Hatta

RIZKY-NYA PAK MENLU


Oleh: Ario Helmy

Namanya Rizky Syawal, murid saya di sebuah sekolah menengah pertama internasional di kawasan Jakarta Barat. Dalam suatu acara pertemuan antara guru dan orangtua, saya berkenalan dengan Mama Rizky, Ibu Irma. Kami mengobrol macam-macam termasuk tentang latar belakang keluarga masing-masing. Dari Ibu Irma saya tahu kalau Rizky adalah cicit Prof Mr Sunario Sastrowardoyo. Ketika kakek saya dalam Kabinet Ali Sastroamijoyo I menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri mewakili Partai NU, Pak Sunario dari PNI menjabat sebagai Menteri Luar Negeri.

Tokoh Sumpah Pemuda ini berperan penting di zaman Pergerakan Kemerdekaan saat duduk sebagai penasehat Panitia Kongres Pemuda II pada 1928. Sebelumnya, sekembalinya dari menempuh pendidikan Ilmu Hukum di Belanda, Sunario aktif sebagai pengacara membela para aktivis yang berurusan dengan aparat hukum.

Setelah Indonesia merdeka, Sunario menjadi anggota Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat). Di sanalah dia mulai berkenalan dengan Anggut KH Zainul Arifin sebagai sesama anggota parlemen.

Pada masa pemerintahan Kabinet Ali I, Prof Sunario dipercaya sebagai Menteri Luar Negeri sepanjang 1953-1955. Saat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika di Bandung 1955, Sunario Sastrowardoyo memimpin delegasi RI. Selain itu, selaku menlu dia juga menandatangani Perjanjian Dwi Kewarganegaraan bagi keturunan Cina dengan Chou En Lai.

Setelah Kabinet Ali I demisioner, Prof Sunario diutus Presiden Sukarno sebagai Duta Besar untuk Kerajaan Inggris. 

Diplomat kelahiran Madiun, 28 Agustus 1902 ini wafat di Jakarta dalam usia lanjut pada 18 Mei 1997.  Rizky Syawal, cicitnya yang menjadi murid saya merupakan siswa yang tekun dan aktif berorganisasi. Di tingkat SMP dia menjadi Ketua Osis (President of the Student Council). Tahun ini dia menamatkan SMA nya dan akan melanjutkan kuliahnya di IPB Bogor Jurusan Ilmu Komputer. Salah seorang tante Rizky, baru-baru ini sukses memerankan pahlawan nasional dalam film, "Kartini". Nama tantenya Dian Sastrowardoyo.