Total Pageviews

Showing posts with label presiden sukarno. Show all posts
Showing posts with label presiden sukarno. Show all posts

Monday, December 26, 2022

KH ZAINUL ARIFIN DAN PRESIDEN SUKARNO KE ITALIA DAN SOWAN PAUS

Ario Helmy

Dalam rangkaian perjalanan panjang antara negara-negara Blok Barat dan Blok Timur pada 1956, dari benua Amerika, rombongan kenegaraan RI menuju Italia, negara Eropa pertama dikunjungi presiden pertama Indonesia, Sukarno. Di negara itu, rombongan mengadakan kunjungan resmi kenegaraan, termasuk pula acara audiensi 30 menit dengan Sri Paus di Tahta Suci Vatican, selama seminggu, 10 - 17 Juni 1956.

Menurut Willem Oltmans wartawan koran Belanda paling terkemuka De Telegraaph dalam bukunya, "Sukarno Sahabatku" (Pustaka Harapan, 2001), Kerajaan Belanda sangat kecewa karena sekutu pentingnya di NATO dan MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa) menyambut musuh Belanda Sukarno dengan penuh penghormatan. Belanda tahu betul kalau perjalanan lintas benua rombongan kenegaraan bekas jajahannya itu utamanya dalam rangka menggalang dukungan di PBB guna membebaskan Irian Barat dari cengkraman Belanda. 

KUNCI EMAS

Rombongan kepresidenan mendarat di bandara Ciampino di ibukota Roma pada 10 Juni 1956. Presiden Italia, Giovanni Gronchi menghelat upacara kehormatan kenegaraan dalam menyambut mitranya dari negara Asia Tenggara yang baru 10 tahun merdeka itu. 

Kemudian dari atas mobil terbuka rombongan memasuki kota Roma dimana masyarakat setempat berderet di sepanjang jalan ikut menyambut. Berikutnya, arak-arakan berhenti untuk menerima sambutan walikota Roma, Salvatore Rebochini yang menyerahkan kunci emas kota sebagai pengakuan pada Sukarno sebagai warga kehormatan. 

Dari situ pasukan pengiring Tamu Negara berganti dengan pasukan berkuda yang mengawal Sukarno dan rombongan menuju penginapan Castel Gandolfo yang adalah kediaman resmi musim panas Paus di Kota Roma. 

Begitu megahnya sambutan pemerintah Italia terhadap rombongan Sukarno, pemerintah Belanda menyerukan koran-koran Belanda untuk tidak memuat berita mengenainya. 

DARI SENI HINGGA MILITER

Jadwal kunjungan Presiden Sukarno dan rombongan selama 7 hari berlangsung padat. Sebagai pecinta seni, tuan rumah menyiapkan perjalanan-perjalanan yang meliputi kunjungan ke museum2 sejarah dan seni yang sangat di nikmati Tamu Negara. 

Tidak ketinggalan, peninjauan ke pabrik mobil Fiat yang kala itu merupakan pabrik mobil terbesar di dunia setelah General Motors dan Ford di AS. 

Presiden Sukarno juga diantar ke Naples guna menyaksikan perkembangan teknologi pembuatan kapal-kapal perlengkapan Angkatan Laut. 

CIUM CINCIN

Bambang Wijanarko dari Dewan Keamanan Presiden (DKP) tampak membungkuk di hadapan Paus Pius XII dan mencium cincin Bapa Suci dalam video acara audiensi rombongan kenegaraan RI ke Tahta Suci di Kota Vatikan. Presiden memperkenalkan Wijarnako sebagai penganut Katolik. Sedangkan Dr. J. Leimena diperkenalkan sebagai pemeluk Kristen. Sukarno sendiri adalah presiden Muslim dari negara mayoritas Muslim pertama yang diterima Paus. Tidak ketinggalan, Sukarno memperkenalkan KH Zainul Arifin sebagai tokoh Muslim terkemuka Indonesia. Paus Pius XII menganugerahi Presiden dengan medali tertinggi kepausan, Order of Pope. Sedangkan seluruh anggota rombongan menerima medali kepausan. 

Dari Italia, rombongan menuju Jerman mengendara kereta api. Membuat Kerajaan Belanda tambah masygul karena sekutunya yang inipun menyambut Sukarno dengan penuh penghormatan.




Sunday, November 13, 2022

SOEKARNO DAN ELIZABETH

Oleh: Ario Helmy

Duta besar RI pertama untuk Britania Raya, Subandrio, ikut berjalan dalam rombongan korps diplomatik yang dengan dukacita mengiringi kereta jenazah Raja George VI yang wafat dalam tidurnya pada 15 Februari 1952. Raja segera digantikan oleh Putri Mahkota Elizabeth Mary yang pada hari kematian ayahnya sedang berada di Kenya, Afrika, karena harus berkunjung ke negara bekas jajahan Inggris di Benua Afrika yang sedang bergolak memperjuangkan kemerdekaan penuh dari Kerajaan Inggris. Namun Raja George malah meninggal dunia pada 6 Februari 1952. Sejak hari itu pula Elizabeth mulai menjadi Ratu Elizabeth II yang memimpin Monarki Britania Raya menggantikan bapaknya.

GAGAP KARENA KIDAL

Seperti juga cicitnya Putra Mahkota William, Pangeran Wales, Raja George VI terlahir kidal dimana kala itu hal tersebut dianggap sebagai aib. Sejak kecil Raja dipaksa untuk makan, menulis dan melakukan hal-hal lainnya dengan tangan "manis" alias tangan kanannya. Hal ini menyebabkan George VI tumbuh dewasa sebagai pria canggung yang bicaranya tergagap-gagap. Yang Mulia sampai dipanggilkan guru pribadi khusus untuk melatihnya bicara tanpa jeda yang tidak perlu. Suatu hal yang dicoba ditekuninya namun tidak sepenuhnya berhasil. George VI kemudian menjadi seorang perokok berat yang membuatnya terkena kanker paru-paru kronis menjelang wafatnya.

TANPA INGGRIS DI EROPA

Elizabeth II baru dimahkotai sebagai Ratu Inggris lebih dari setahun kemudian. Tepatnya, 2 Juni 1953. Menlu Haji Agus Salim  mewakili pemerintah RI dalam upacara permahkotaan Ratu Elizabeth II.

Selama masa kepemimpinan Presiden Sukarno, Presiden RI tidak pernah mengunjungi London. Hubungan dengan Inggris memang terpengaruh dengan ketidaksukaan pemerintah Kerajaan Belanda ketika Rombongan kenegaraan dari Indonesia wara-wiri di Benua Eropa dan disambut dengan akrab oleh banyak negara yang mestinya lebih menghormati Belanda yang waktu itu masih ingin memisahkan Irian Barat dari Nusantara.

Tak sampai 2 bulan kemudian, Kabinet Ali-Wongso-Arifinpun (30 Juli 1953) terbentuk dimana KH Zainul Arifin dari Partai NU menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri (Waperdam). Tahun 1956, saat mana KH Zainul Arifin selaku Wakil Ketua MPR ikut dalam rombongan Presiden Sukarno ke AS, Kanada dan Eropa Barat, banyak negara Eropa dikunjungi kecuali Belanda dan Inggris. Rombongan memang membawa misi untuk meminta dukungan agar Irian Barat dapat tetap terintegrasi sebagai bagian dari NKRI.

Tentang Inggris Sukarno pernah berujar, "Aku sudah ke mana-mana kecuali ke London, sekalipun Ratu Inggris sudah dua kali mengundangku untuk berkunjung,” diungkap dalam otobiografinya yang disusun Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

UNDANGAN TERHALANG

Pada 28 Agustus 1961, Ratu Elizabeth II mengundang Sukarno mengadakan kunjungan kenegaraan ke London. Sukarno menyatakan bersedia tandang. Diaturlah rencana kunjungan kenegaraan ke Inggris pada Mei 1962. Pengumuman resmi pun diumumkan. Lagi-lagi Ratu Belanda yang masih kerabat Yang Mulia Ratu Elizabeth II mengritik rencana tersebut.

Sebenarnya, Ratu Elizabeth tidak pernah sampai membatalkan undangan resminya hanya karena ditegur Ratu Belanda. Namun, pada 21 April 1962, Sukarno melayangkan surat permintaan maaf kepada Ratu Elizabeth II. Karena situasi genting di dalam negeri, menyusul serangan Belanda terhadap armada Angkatan Laut Indonesia di Laut Arafuru pada awal tahun. Pada Maret 1962, perundingan yang dimediasi Amerika Serikat macet sehingga Indonesia dan Belanda terancam perang.

Ratu Elizabeth membalas surat Sukarno: “Menteri-menteri saya dan saya sendiri telah siap sedia menyambut kedatangan Yang Mulia, dan untuk memperlihatkan kepada Yang Mulia perihal negara kami, akan tetapi saya percaya bahwa kita akan mempunyai kesempatan untuk ini pada waktu yang lain,” sebagaimana dikutip Ganis Harsono dan dimuat dalam historia.id. Hingga kedua pemimpin wafat rencana itu tidak pernah terwujud.

Requiescat in pace, Her Majesty the Queen Elizabeth II


Friday, November 11, 2022

Kunjungan Kenegaraan Presiden Dewan Negara Polandia Alexander Zawadzki ke Indonesia 1963


Bulan Mei 1962 beberapa minggu setelah terjadi penembakan percobaan pembunuhan terhadap Presiden saat sedang melaksanakan solat Idul Adha yang pelurunya mengenai KH Zainul Arifin, 14 Mei 1962, Presiden Sukarno melakukan kunjungan kenegaraan ke negeri komunis Polandia. Di sana Sukarno diterima Presiden (Ketua Dewan Negara) Polandia Alexander Zawadzki. Kurang dari setahun kemudian, awal 1963, Zawadzki balas berkunjung ke IndonesiaIndonesia dan mengunjungi Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Bali. 

KH Zainul Arifin sebagai Ketua DPR ikut menyambut Presiden Polandia tersebut bersama para pejabat tinggi dan tertinggi negara lainnya. Dalam foto Zainul Arifin tampak menurun berat badannya, karena memang sejak terkena tembakan beberapa bulan sebelum itu, kesehatannya tidak pernah benar-benar pulih. Tidak sampai 3 bulan setelah kunjungan Zawadzki KH Zainul Arifin wafat. Tepatnya, 2 Maret 1963.



Tuesday, June 7, 2022

KETIKA DJAMALUDDIN MALIK BICARA FILM DI JEPANG DENGAN BAHASA PADANG



(Abdullah Zuma, NU Online) 

Hari ini 8 Juni, 51 tahun wafatnya H. Djamaluddin Malik. Dia adalah tokoh NU, pengusaha, politikus, dan produser film pendiri Perseroan Artis Indonesia (Persari). 

Ayah Camelia Malik ini lahir di Padang, Sumatera Barat 13 Februari 1917. Wafat di Munchen, Jerman, pada usia di 53 tahun, saat berobat penyakit komplikasi yang dideritanya di kota itu. 

Pada masa kecilnya, pada situasi penjajahan Belanda, ia turut serta dengan orang tuanya hijrah ke Jakarta. Di kota inilah, pada masa mudanya, ia pernah aktif di GP Ansor Kebun Sirih. 

Di kota ini pula, ia mengembangkan bakat wirausaha yang membawanya menjadi seorang pengusaha di kemudian hari. Pada saat yang sama, dia memiliki perhatian besar kepada kesenian, terutama teater. Dia mendirikan kelompok sandiwara Panca Warna. 

Aktivitasnya pada kelompok kesenian pada masa revolusi fisik, terekam pada buku karya KH Saifuddin Zuhri, Guruku "Orang-orang dari Pesantren": 

"Tadinya anak buah saya bermaksud, jika sudah sampai di daerah Republik, rombongan akan membubarkan diri. Lalu kami menerjunkan diri dalam badan-badan perjuangan. Ada yang di Hizbullah (pimpinan KH Zainul Arifin) ada yang barisan pemberontakan rakyat (Pimpinan Bung Tomo) dan sebagainya.”

Kiai Saifuddin menuliskan bahwa orang yang menjadi saksi atas ucapan Djamaluddin Malik itu adalah KH Fattah Yasin, laskar Hizbullah yang bergabung ke Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), dirinya dan KH Wahid Hasyim.   

Menurut Kiai Saifuddin, percakapan itu terjadi di Yogyakarta saat ibu kota pindah dari Jakarta sejak 4 Januari 1946 hingga 28 Desember 1949. Saat itu wilayah Indonesia menyempit akibat perjanjian Renville pada 8 Desember 1947. 

Aktif di kelompok teater, Djamaluddin sepertinya merasa tidak berjuang untuk Tanah Airnya. Karena itulah, ia bersama kelompoknya berniat menetap di Yogyakarta dan akan turut mengangkat senjata untuk terjun ke kelaskaran dan tentunya meninggalkan pentas sandiwara.

Namun, niatnya itu ditolak KH Wahid Hasyim, ayahnya Gus Dur itu. Ia punya pandangan lain tentang perjuangan. Menurutnya, berjuang tidak harus dengan senjata atau kelaskaran. Perlu ada yang berjuang di di berbagai lapangan dan bidang, termasuk dalam kesenian. 

Lagi pula, menurut Kiai Wahid, anggota kelaskaran sudah sangat banyak, sementara orang-orang yang berjuang lewat seni, khususnya sandiwara, masih sangat kurang. Padahal itu amat penting dalam perjuangan besar.

Menurut Kiai Wahid, dalam sebuah pementasan sandiwara, rakyat bisa bertemu dan berkumpul. Pada saat itu, laskar-laskar bisa menyusup. 

Karena itulah Kiai Wahid menyarankan supaya Djamaluddin segera ke Jakarta yang waktu itu sudah dikuasai Belanda. Kemungkinan besar, kelompok sandiwara tidak akan dicurigai.

Pandangan kiai jenius, putra Rais Akbar NU Hadratusyekh KH Hasyim Asy’ari ini diterima Djamaluddin Malik. Dia pun memantapkan diri dengan berjuang terus lewat kelompok sandiwaranya. 

Tak heran kemudian pada masa kemerdekaan, ia jadi Ketua Umum Lesbumi pertama, sebuah lembaga kebudayaan yang didirikan atas restu para ulama NU pada 28 Maret 1962. Pada masa kepemimpinannya, Lesbumi diperkuat budayawan Usmar Ismail (mendirikan Perfini), Asrul Sani, Anas Ma'ruf, dan lain-lain. 

Selain pernah menjadi anggota DPR RI dari partai NU, menjadi Ketua III PBNU. 

Sisi Lain Djamaluddin Malik
Pada buku "Djamaluddin Malik Melekat di Hati Banyak Orang" yang saya baca tahun lalu, Djamaluddin Malik bagaikan hidup di antara dua dunia yang berbeda. 

Di satu sisi, sebagai orang film, ia hidup bersama para artis dengan segala macam watak dan kebiasaannya. Di sisi lain, sebagai aktivis NU, dia harus bergaul dengan para kiai. 

Situasi semacam ini sering merepotkan pembantu rumah tangga, termasuk istrinya. Misalnya, setelah para artis mengadakan pesta di rumahnya, tiba-tiba para kiai mengabarkan akan berkunjung. Maka mau tak mau Djamaluddin Malik meminta agar seluruh sisa-sisa makanan dan minuman para artis itu dibersihkan. Jangan sampai ketahuan para kiai. Ini pula konon yang menyebabkan perceraian dengan istrinya. 

Ia juga dikenal sebagai orang yang suka membantu. Gampang merogoh kocek untuk para seniman saat dan kiai. Hari ini bisa banyak uang, esok tidak punya sama sekali. Hari ini punya lima sarung, besoknya tak punya sehelai pun. Ia juga termasuk salah seorang yang menjadi donatur peringatan Harlah NU ke-40 di Gelora Bung Karno pada tahun 1966.

Suatu ketika, ia mendapatkan undangan untuk berbicara film di negeri Jepang. Ia ditemani Usmar Ismail. Saat berpidato di hadapan mereka, Djamaluddin Malik malah menggunakan bahasa Padang.  

Usmar Ismail terperanjat atas ulah sahabatnya itu. Tak hanya itu, apa yang dikatakan Djamaluddin Malik pun bukan tentang film, melainkan apa saja diungkapkan dalam bahasa ibunya itu. 

Melihat gelagat kurang baik, Usmar kemudian memperlakukan diri sebagai penerjemah pidatonya ke dalam bahasa Inggris. Padahal tentu saja bukan menerjemahkan karena apa yang dikatakan Djamaluddin Malik tidak berkaitan sama sekali.  

Tentu saja Usmar menjelaskan pandangan-pandangannya tentang film kepada orang Jepang tanpa memperhitungkan perkataan Djamaluddin Malik. 

Atas jasa-jasanya dalam bidang kebudayaan, pemerintah mengukuhkannya sebagai penerima Bintang Mahaputra Kelas II/Adipradhana.

Thursday, January 6, 2022

KH Zainul Arifin Dan Masjid Istiqlal

Ario Helmy

Dari suatu catatan bersumber dari harian pagi berbahasa Belanda untuk masyarakat Belanda yang tinggal di Jakarta, De Niewsgier, terbit dari 1945 hingga 1957 didapat catatan menarik tentang peran Zainul Arifin dalam proyek pembangunan Masjid Istiqlal. 

Dari Menteri Agama

Ide awal untuk membangun sebuah mesjid negara dicetus oleh KH Wahid Hasyim selaku menteri agama pada tahun 1950 dengan didukung oleh Anwar Cokroaminoto. Setelah ide tersebut diajukan ke Presiden, Sukarno langsung meyambut baik. Namun ide tidak dapat segera diwujudkan karena situasi negara belum kondusif. 

Tak lama setelah Wahid Hasyim meninggal dunia karena mengalami kecelakaan lalu lintas, Zainul Arifin menjadi wakil perdana menteri II dalam Kabinet Ali Sastroamijoyo. Zainul kemudian melanjutkan upaya merealisasikan ide pembangunan mesjid negara Kiai Wahid. Harian berbahasa Belanda De Niewsgier terbitan 30 November 1953 melaporkan bahwa pada Jumat, 27 November 1953, Zainul Arifin selaku Waperdam didampingi mendagri Prof Hazairin mewakili pemerintah dalam pertemuan guna membentuk sebuah Komite Pembangunan Masjid Besar Jakarta. Pertemuan mengukuhkan Anwar Cokroaminoto sebagai ketua membawahkan anggota-anggota: Syafruddin Prawiranegara, Assaat, dan KH Taufiqrahman. Setelah melaporkan berdirinya komite pembangunan mesjid nasional tersebut ke Presiden Soekarno dan mendapat dukungan Kepala Negara, langkah selanjutnya adalah mengesahkan Komite dalam bentuk badan hukum bertajuk Yayasan Masjid Istiqlal yang disahkan berdasar akte Notaris Eliza Pondaag pada 7 Desember 1954. 

Antara Thamrin dan Willhelmina

Sempat terjadi perbedaan pendapat tentang lokasi pembangunan Mesjid, antara saran wapres Bung Hatta di kawasan Bundaran HI di Jalan Husni Thamrin sekarang dengan daerah Taman Willhelmina di seberang Gereja Katedral. Akhirnya usul kedua yang dicetus Presiden Soekarno yang diterima. 
Berikutnya, digelar sayembara nasional untuk rancang bangun masjid selama 3 bulan, dari 22 Februari hingga 30 Mei 1955. 

Dari 27 sketsa dan maket yang masuk ke Dewan Juri yang di ketuai langsung oleh Presiden Soekarno sendiri, terpilihlah rancangan karya seorang arsitek beragama Kristen, Frederich Silaban, sebagai pemenangnya. Pemenang diumumkan setelah para juri melakukan penilaian selama 3 bulan. 

Pada 5 Juli 1955, F. Silaban selaku pemenang sayembara diganjar hadiah medali emas seberat 75 gram dan uang sebesar Rp25 ribu. Sayangnya, proses pembangunan sempat terbengkalai 11 tahun lamanya, seiring dengan bubarnya Kabinet Ali Sastroamijoyo I tak lama sesudah pengumuman pemenang sayembara. 

Sempat Mangkrak 

Pernah ada upaya merealisasikan proyek pembangunan masjid pada enam tahun sesudahnya, dimana Soekarno melakukan peletakan batu pertama bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi, 24 Agustus 1961. 

Saat terjadinya peristiwa G-30 S 1965, proyek kembali mangkrak sampai tahun 1966. Meski kementerian agama berinisiatif melanjutkan impian besar mewujudkan sebuah Masjid Nasional yang membanggakan dengan menetapkan KH Idham Chalid sebagai Koordinator Panitia Nasional Pembangunan Mesjid Istiqlal, tetap diperlukan 17 tahun proses pembangunan hingga akhirnya Mesjid Istiqlal akhirnya diresmikan oleh Presiden Soeharto 22 Februari 1978. Kini masjid yang namanya diambil dari Bahasa Arab bermakna, "Merdeka" ini merupakan mesjid raya terbesar di Asia Tenggara dengan luas 9,3 hektar serta mampu menampung 200 ribu jamaah sekaligus.  


(Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/95478/nu-kh-zainul-arifin-dan-masjid-istiqlal)

Wednesday, December 29, 2021

NAIK NAIK KE ISTANA CIPANAS DAN POLIGAMI

(Ario Helmy) 

"Naik - naik, ke puncak gunung
tinggi - tinggi sekali
Naik - naik, ke puncak gunung
tinggi - tinggi sekali

Kiri - kanan kulihat saja
banyak pohon cemara
Kiri - kanan kulihat saja
banyak pohon cemara"

Ibu Soed aka Sarcidjah Niung mengarang lagu anak-anak berlirik seperti diatas guna menggambarkan indah dan menakjubkan perjalanan dari Jakarta menuju villa di Kawasan Puncak. Yang menceritakan hal itu Carmenita, kemenakan Ibu Soed(ibyo) seorang perancang busana. Ibu Soed sendiri di masa hidupnya selain terkenal sebagai pengarang lagu anak-anak, guru musik dan penyiar radio juga dikenang sebagai seniman seni batik kesayangan Presiden pertama RI, Sukarno. Keluarga Soedibyo termasuk keluarga yang kerap kali diundang untuk tetirah di Istana Kepresidenan di Cipanas. 

MENCARI INSPIRASI

Bung Karno seringkali menggunakan Istana Cipanas untuk beristirahat dan mencari inspirasi sebagai bahan untuk pidato-pidatonya. Bangunan kuno Istana dulunya dimiliki seorang Tuan Tanah Belanda, Van Heots, selesai dibangun sekira 1740. Setelahnya, istana ini menjadi tempat peristirahatan Gubernur Jendral Gustaaf Willem Baron van Imhoff serta pejabat-pejabat gubernur jenderal setelahnya. Suasana pegunungan dan sumber air panas menjadi daya tarik utamanya.

Berbeda dengan air panas lainnya, air panas di Istana Cipanas tidak mengandung belerang. Jika air panas lainnya tidak disarankan untuk berendam lebih dari satu jam, air panas alami Cipanas diperbolehkan untuk berendam lebih dari satu jam. Meski berbeda, khasiat air panas sama dengan yang di tempat lain.

Setelah Indonesia merdeka, Sukarno menamaulang tiga paviliun yang ada disana menjadi Paviliun Yudistira, Paviliun Bima dan Paviliun Arjuna. Tahun 1984 di masa pemerintahan Presiden Suharto, ditambahkan dua paviliun lagi: Paviliun Nakula dan Paviliun Sadewa.

Sebagai tempat mencari inspirasi, Sukarno meminta arsitek R.M. Soedarsono dan F. Silaban untuk membangun Gedung Bentol di puncak bukit. Gedung berhiaskan bebatuan alam yang ditempelkan pada dinding dan lantainya hingga menyerupai bentol-bentol, seperti gigitan nyamuk.

Dari puncak bukit itu setiap Subuh dapat terlihat dengan jelas puncak Gunung Gede sebelum tertutup halimun. Di sanalah sang Proklamator acapkali mencari ilham untuk pidato-pidatonya.

PRESIDEN KEBAPAKAN POLIGAMIS

"Kami sering diundang untuk berakhir pekan di Istana Cipanas," kenang Firman Arifin, Di sana semua tamu membaur. Presiden Sukarno senantiasa menyempatkan diri bercengkrama dengan anak-anak. Kami selalu disapa satu persatu."

"Dalam foto yang masih saya simpan, Ayah, Mamih dan anak-anak sedang berlibur ke Istana Cipanas atas undangan Presiden Sukarno. Kakak saya, Addy tampak meringis karena habis dicacar. Dia jadi tidak bisa bermain dengan anak-anak lain karena masih demam," tambah Ratna Qomariah Arifin.

Sementara itu, kedekatan Presiden Sukarno dengan para kiai sempat mengalami pasang surut, khususnya pada 1953 saat Sukarno meminta kiai-kiai NU untuk merestuinya mengambil istri kedua, Hartini. Seorang janda berusia 28 tahun beranak lima. Tahun 1952 di Salatiga, Hartini berkenalan dengan Sukarno yang rupanya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat itu Presiden sedang dalam perjalanan menuju Yogyakarta untuk meresmikan Masjid Syuhada.

DEMO PEREMPUAN DAN SERANGAN MEDIA

Historia.id mengutip: 

"Hubungan awal mereka pakai inisial nama Srihana dan Srihani untuk bersurat. Hubungan Bung Karno dan Hartini lantas di blow up ke publik oleh suratkabar Indonesia Raya,” ujar Arifin Suryo Nugroho, penulis buku Srihana-Srihani: Biografi Hartini Sukarno, kepada Historia. Berita ini menjadi isu panas selama sebulan lebih di Indonesia Raya.

Kebetulan peristiwanya senyampang dimulainya pemerintah Kabinet Ali Sastroamijoyo I dimana Zainul Arifin duduk sebagai Waperdam. Desas-desusnya Arifin kiai yang menikahkan pasangan menghebohkan ini. Padahal menurut  Kiai Saifuddin Zuhri dalam otobiografi, Berangkat Dari Pesantren yang menikahkan Bung Karno dengan Bu Hartini adalah H. Djunaidi, ayahanda Mahbub Djunaidi.

DIKECAM ALI DAN HATTA

Pernikahan Sukarno dengan Hartini mendapat kecaman dari wapres Mohammad Hatta dan Perdana Menteri Ali Sastroamijoyo sebagaimana dinukil harian Republika. Hingga Sukarno lengser, hubungan-hubungan itu tidak pernah pulih kembali. Di sisi lain, KH Zainul Arifin serta kiai-kiai lain dijadikan penasehat-penasehat kepercayaan Presiden. Beberapa kali Sukarno meminta izin untuk menikah lagi dengan alasan, "Agar tidak berzinah."

Padahal, pada saat bersamaan, Hartini yang sudah mengambil alih peran Ibu Negara mulai didekati PKI.
Menurut Legge dilansir Historia.id, Hartini merupakan pendamping terpenting Sukarno selama era Demokrasi Terpimpin. Sejak 1955, Hartini telah berkembang secara politik. Semula dia hanya berada di belakang layar. Menjelang dekade 1960-an, Hartini berusaha keras melayani Sukarno sebaik-baiknya, menjadi istri sekaligus teman politiknya. Hartini dicatat pernah dekat dengan Gerwani, sayap organisasi perempuan PKI.

KONFERENSI ALIM ULAMA

Istana Cipanas juga memberikan kenangan khusus bagi KH Zainul Arifin karena dia dan menteri agama KH Masykur berinisiatif melaksanakan Konferensi Ulama pada 3 - 6 Maret 1954 di Istana Cipanas yang menghasilkan pemberian gelar Waliyy al Amri (Pemegang Pemerintahan), adl Dlaruri bi Asy Syaukah (dalam keadan darurat, belum dipilih rakyat), Bi asy syaukah (yang memegang kekuasaan) bagi Presiden Sukarno. Konferensi ini sebagai salah satu upaya meredam pemberontakan-pemberontakan DI/TII. Wakil Perdana Menteri KH Zainul Arifin kemudian menegaskan bahwa, "Presiden, pemerintah dan parlemen adalah walhiyul amri dlaruri bis syaukah yang harus dipatuhi. Bagi yang memberontak hukumnya sudah jelas."


Friday, October 15, 2021

KH ZAINUL ARIFIN IKUT ROMBONGAN PRESIDEN SUKARNO KE THAILAND

Ario Helmy

Tanggal 13 Oktober, 4 tahun lalu raja Thailand Bhumibol Adulyadej mangkat setelah memerintah selama 70 tahun. Sang Raja yang naik tahta sejak 1946 ini berpulang dalam usia lanjut, 88 tahun. Sebagai Kepala Negara satu-satunya di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah bangsa asing ini, Paduka Raja sangat dicintai rakyatnya. Adulyadej juga merupakan sahabat Presiden Sukarno.

DIJAMU RAJA
.
KH Zainul Arifin, selaku Ketua DPR-GR dari Partai NU, disertai istrinya, Nyai Hamdanah Arifin, pernah bertemu dengan Raja Bhumibol saat ikut dalam rombongan Presiden Sukarno berkunjung kenegaraan ke Negeri Gajah Putih itu. Kunjungan tersebut sebagai balasan atas kedatangan Raja berjuluk Rama X itu pada tahun 1957 dan 1960. Rombongan Presiden Sukarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Thailand selama 5 hari di tahun 1961 dengan tema perjalanan muhibah: "Membawa USDEK ke Empat Benua". 

Hari Minggu, 16 April 1961 rombongan tiba di bandara Don Mueang dan disambut langsung oleh Raja Bhumibol. Setelah memeriksa Barisan Kehormatan, Raja kemudian memperkenalkannya ke pejabat-pejabat pemerintahan dan anggota Korps Diplomatik. Dari Bandara rombongan dikawal pasukan berkuda menuju Istana Agung Chitralada disambut oleh Walikota Bangkok. 

SANTAP SIANG DI ATAS PERAHU

Di Istana diselenggarakan jamuan kenegaraan dimana Sukarno memperkenalkan para menteri yang mendampinginya termasuk Wakil Menteri Pertama (Wampa) Ketua DPRGR KH Zainul Arifin.  Perjamuan diisi acara hiburan berupa pertunjukkan tarian klasik Thailand. Keesokan harinya Presiden dan rombongan meletakkan karangan bunga di Taman Makam Pahlawan. 

"Siangnya, rombongan Presiden dijamu lagi berupa makan siang di atas perahu kerajaan menyusuri sungai yang membelah kota Bangkok," ungkap Nyai Hamdanah. Selanjutnya, kunjungan kenegeraan termasuk mengunjungi Chiang Mai. Di sana rombongan disambut oleh Ratu Sirikit sang permaisuri yang dinikahi Raja Bhumibol tahun 1950. Keduanya bertemu dan berkenalan ketika sama-sama sedang belajar di Eropa. Sirikit adalah putri Duta Besar Thailand untuk Inggris. 

"Ratu Sirikit sangat cantik jelita dan istana-istananya beģitu megah berlapis emas," kenang Hamdanah pula.Sebelum meninggalkan Bangkok, Presiden Sukarno mengadakan jamuan balasan bagi Raja dan Permaisuri.

Rakyat Thailand begitu menghormati Presiden Sukarno mereka membuatkan patung lilin Bapak Proklamator sebagai atraksi di Museum Madam Tussaud, Bangkok.

(Sumber: ANRI Arsip Non Kertas)

Sunday, August 8, 2021

DARI PBB KE BUNDARAN HI

5 Agustus 2021 merupakan hari peringatan diresmikannya hotel termegah di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara pada zamannya, Hotel Indonesia, yang ke 59 tahun. Hotel bersejarah terletak di jantung kota Jakarta, bundaran HI itu sengaja dibangun untuk memfasilitasi pesta olahraga Asian Games 1962 sekaligus menunjukkan pada dunia kalau Indonesia mampu melaksanakan event olahraga internasional bertaraf global.

OLEH-OLEH DARI PBB

KH Zainul Arifin saat menyertai Presiden Sukarno ke Kantor Pusat PBB di New York pada 1960 sempat menyaksikan kekaguman Sukarno akan rancang bangun gedung megah rancangan arsitek Abel Sorensen. Presiden kemudian mengundang Sorensen dan istrinya yang juga perancang bangunan Wendy untuk mendesain hotel berbintang pertama Indonesia sekaligus termegah di Asia Tenggara di atas tanah berukuran 25.85 meter.

Selama dua tahun hotel 16 lantai berkapasitas 500 kamar tersebut dibangun dengan menuangkan konsep dasar dari Presiden berslogan "A Dramatic Symbol of Free Nations Working Together". Konsep itu terkait erat dengan program politik nasional berlabel Trisakti.

KEPRIBADIAN INDONESIA

Pada upacara peresm⅖ian Hotel Indonesia, 5 Augustus 1962, KH Zainul Arifin didampingi Nyai Hamdanah Abdurrahim tampak duduk di deretan bangku paling depan VVIP selalu Ketua DPR seraya menyimak pidato Sukarno bertajuk, "Tunjukkanlah Kepribadian Bangsa".

Dibagian depan dinding hotel terukir relief kehidupan tradisional masyarakat Bali seluas 68 meter dikerjakan oleh 53 seniman. Hingga kini karya seni ini tetap terjaga keindahan pahatannya.

Sebagai bangunan bersejarah, Hotel Indonesia memiliki Heritage Room yang masih menyimpan memorabilia peresmiannya. Didalamnya dapat disaksikan gunting asli digunakan Presiden kala acara pengguntingan pita peresmian. Juga ada peranti makan yang digunakan dalam acara jamuan. Foto KH Zainul Arifin beserta istri sedang mendengarkan Presiden Sukarno masih terawat rapi dalam ruangan ini.



Wednesday, August 4, 2021

Waperdam KH Zainul Arifin dan Presiden Sukarno Berangkat Haji (1)

Tiga bulan seusai berlangsungnya Konferensi Asia- Afrika di Bandung bulan April 1955, KH Zainul Arifin dalam kapasitasnya sebagai Wakil Perdana Menteri (Waperdam) pemerintah Kabinet Ali-Arifin mendampingi kepala negara Presiden Sukarno melakukan kunjungan kenegaraan ke beberapa negara di kawasan Asia (Singapura, Thailand, India, dan Pakistan), Jazirah Arab (Persatuan Arab Emirates dan Irak) serta Mesir di Afrika dan mengakhirinya dengan menjadi tamu negara Kerajaan Saudi sekaligus melaksanakan ibadah haji untuk pertama dan terakhir kalinya.

Ikut dalam rombongan berjumlah 31 orang itu beberapa pejabat negara diantaranya: Menteri Agama KH Masykur, Ruslan Abdulgani, Achmad Subarjo dan para ajudan serta pengawal presiden dan wartawan. 

Menyongsong peringatan kelahiran KH Zainul Arifin ke 111, akan dibahas rinci catatan perjalanan kenegaraan yang berlangsung selama 18 Juli - 4 Agustus 1955 itu dalam dua bagian tulisan. Bagian pertama mengupas kisah kunjungan bersejarah rombongan ke Mesir, sedangkan bagian lainnya menguraikan jadwal kegiatan Presiden Sukarno ketika menunaikan ibadah haji akbar di Tanah Suci.

Mampir ke Singapura hingga Irak 

Rombongan berangkat meninggalkan bandara Kemayoran pada 18 Juli menggunakan pesawat Garuda G-40 menuju Singapura. Di negeri jiran tersebut Presiden dan rombongan menemui masyarakat Indonesia yang tinggal di sana. Selanjutnya kunjungan non-formal di Bangkok. Sedangkan di New Delhi India, kunjungan agak lebih formal dengan Perdana Menteri Jawarhal Nehru menyambut Sukarno di Bandara didampingi dubes Indonesia untuk India, LN Palar.

Tidak berlama-lama perjalanan langsung berlanjut berturut-turut singgah di Karachi, Pakistan, kemudian Sharjah di Persatuan Arab Emirates dan Baghdad, Irak. Tidak banyak ditemukan rincian kunjungan ke negara-negara tersebut selain keterangan bahwa perjalanan pesawat kala itu memang harus terputus-putus sedemikian rupa. Memerlukan 2 hari sebelum rombongan mendarat di Kairo, Mesir.

Menginap di Istana Raja

Tanggal 20 Juli 1955, Presiden Sukarno beserta rombongan tibalah di Kairo, Mesir dan kunjungan kenegaraan berlangsung sampai 5 hari lamanya. Sambutan resmi di bandara secara militer dipimpin langsung oleh Presiden Mesir, Abdul Gamal Nasser. Sedangkan KH Zainul Arifin diterima resmi oleh mitranya Waperdam Mesir, Gamal Salim. Surat kabar Mesir Al-Ahram melaporkan sambutan yang gegap gempita dari rakyat Mesir yang mengelu-elukan Sukarno sepanjang perjalanan dari bandara menuju tempat menginap rombongan di Istana Kerajaan Mesir Koubbeh yang sangat megah dan indah. 

"Seolah seluruh rakyat Mesir keluar rumah menyambut kedatangan Presiden Indonesia. Sepanjang jalan yang dilalui Presiden Soekarno dipenuhi rakyat segala umur", tulis koran Al-Ahram. Keesokan harinya, tetamu negara dari Indonesia dibawa mengunjungi Museum Nasional Mesir, melihat mumi para Firaun dilanjutkan dengan lawatan ke piramida. Hari ketiga, Jumat, 22 Juli 1955, saat Presiden Sukarno dan anggota-anggota rombongan lainnya solat Jumat di Masjid Agung Kairo, jamaah masjid mendoakan para tamu negara asal Indonesia yang sedang dalam perjalanan ke Tanah Suci guna melaksanakan ibadah haji.

Acara kemudian dilanjutkan dengan menaiki kapal menyusuri Sungai Nil hingga ke Delda Barrages. Malamnya, Presiden Sukarno beserta rombongan menghadiri Perayaan Hari Kemenangan Nasional di kawasan Jumhuriah Square. Sukarno lantas didaulat untuk berpidato di depan rakyat Mesir yang membanjiri perayaan, disambut oleh pidato kenegaraan Presiden Gamal Abdul Nasser.

Dalam kesempatan itu pula, Waperdam Zainul Arifin mengundang Waperdam Gamal Salim untuk menghadiri dan menjadi Tamu Kehormatan Negara dalam perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 10 di Jakarta. 

Koran berbahasa Belanda Het nieuwsblad voor Sumatra, 25-07-1955 menulis:  'Wakil Perdana Menteri Mesir diundang (Wakil Perdana Menteri Zainul Arifin ) sebagai tamu negara dari Pemerintah Indonesia untuk menghadiri 17 Agustus di Jakarta. (Gamal Salim) akan tinggal di Indonesia dua minggu dimana Mesir juga akan berpartisipasi dalam pameran perdagangan internasional ketiga di Jakarta yang akan dibuka 18 Agustus sekaligus untuk mengkonsolidasikan hubungan perdagangan antara Mesir dan Indonesia’."

Ketika beberapa minggu kemudian Gamal Salim melakukan kunjungan ke Indonesia, KH Zainul Arifin sendiri menyambutnya di Kemayoran dan membawa tamu negara tersebut menemui Sukarno di Istana Bogor.

Bintang Nisyah

Hari terakhir di Mesir, dipandu oleh Letkol Anwar Sadat para tamu negara dibawa berwisata ke daerah Alexandria di pesisir laut Mediterania. Dari sana, rombongan Presiden RI kemudian dijamu pertunjukan demonstrasi kekuatan Pasukan Angkatan Bersenjata Mesir di lapangan El Jumhuria.

Selanjutnya, Presiden Gamal Abdul Nasser menganugerahi Sukarno dan KH Zainul Arifin bintang kehormatan Republik Mesir, Bintang Nisyah. Sedangkan, sebagaimana dilaporkan harian Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 25-07-1955: Ulama Besar dan Rektor Universitas Al Azhar menghadiahi Presiden dan Waperdam RI salinan Quran langka yang dicetak di atas kertas linen. Rektor Al Azhar juga mengantar rombongan menuju bandara dan melepas tetamu negara berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.


Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/121862/waperdam-kh-zainul-arifin-dan-presiden-sukarno-berangkat-haji--bagian-1-

Sunday, July 25, 2021

Mas Anam dan Tulisan tentang KH Zainul Arifin


Oleh: Abdullah Zuma

Selama saya dibimbing menulis oleh Mas A Khoirul Anam, tak pernah sama sekali mendapat apresiasi yang bagus. Lebih sering koreksi dan omelan. 

Omelannya memang dengan suara rendah. Tapi intonasi dan pilihan katanya menunjukkan dia editor ketat. Jangankan tulisan berlogika kacau, beberapa salah ketik pun, saya harus memperbaikinya. 

Mas Anam hanya sekali mengapresiasi tulisan saya. Hanya sekali dan tak akan pernah lagi. Itu pun bukan karena cara menulis yang apik, tapi lebih karena mengungkap tertembaknya KH Zainul Arifin pada peristiwa Idul Adha berdarah tahun 1962.

Waktu itu, sumber bacaan saya adalah buku "Berzikir Menyiasati Angin" karya Ario Helmy, cucu KH Zainul Arifin. 

Tulisan itu dimuat NU Online pada 2016. Saya muat ulang di NU Jabar Online tahun ini.

Thursday, July 22, 2021

SUKARNO BICARA TENTANG PERISTIWA PENEMBAKAN IDUL ADHA 14 MEI 1962

 
Oleh: Ario Helmy

Saat Sukarno berpidato di Istora Senayan, Jakarta pada 21 Desember 1965,  diungkap bagaimana dirinya mengalami percobaan pembunuhan sampai sebanyak empat kali. Satu percobaan pembunuhan yang secara khusus disinggung Sukarno dalam pidatonya itu adalah peristiwa tragedi sholat Idul Adha yang berlangsung 14 Mei 1962 di halaman rumput antara Istana Negara dan Istana Merdeka. 

KENA PELURU NYASAR

Pagi itu Sukarno bersembahyang di saf terdepan bersama-sama beberapa pejabat tinggi dan tertinggi Negara termasuk Ketua DPR KH Zainul Arifin. 

Usai ruku' di rakaat dua, senyampang imam sholat Ketua PBNU ketika itu, KH Idham Chalid hendak bertakbirratul ihram, terdengar beberapa tembakan peluru dari arah jamaah di saf keempat. Seketika suasana sempat berubah menjadi kepanikan. Seturut para petugas pasukan kawal presiden melakukan upaya penyelamatan kepala negara, KH Zainul Arifin malah tersungkur ke atas sajadah dengan dada berlumur darah  berasal dari bahu kirinya yang terkena serempetan peluru. 

"Syukur alhamdullilah, saya dalam semua peristiwa itu dilindungi oleh Tuhan. Kalau tidak, tentu saya sudah mati terbunuh. Dan mungkin, akan saudara namakan tragedi nasional," ucap Soekarno dalam pidatonya di Istora Senayan tersebut.

BERTAHAN SEPULUH BULAN

Presiden pertama RI selamat dari percobaan pembunuhan di tempat terbuka itu, namun KH Zainul Arifin sejak itu harus keluar masuk rumah sakit karena kesehatannya yang jadi terganggu. 

Sepuluh bulan sesudahnya, 2 Maret 1963, Zainul Arifin wafat hanya seminggu setelah Idul Fitri 1382 H. Ketika Presiden Sukarno datang melayat ke rumah duka di Jl. Cikini Raya 48, Menteng, Jakarta Pusat, Hamdanah Abdurrahim janda Zainul Arifin menangis di dada Presiden mengucap, "Suami saya tidak pernah sembuh lagi sejak kena tembakan di lapangan Istana."

Sukarno menengadahkan mukanya senyampang menahan keharuan dari balik kacamata hitamnya. 

(Foto-Foto: Pelepasan jenazah KH Zainul Arifin dari rumah duka di Jl. Cikini Raya 48, Menteng, Jakarta Pusat dan Persian Upacara pemakaman di TMPN Kalibata, Jakarta Selatan)

Monday, December 17, 2018

Bulan Madu Resmi Putra Mahkota

Oleh: Ario Helmy

 

Di era kepemimpinan Presiden Sukarno, KH Zainul Arifin dari Partai NU dan istrinya Ibu Hamdanah Arifin seringkali mengikuti acara-acara protokoler di dalam dan di luar negeri, entah itu sebagai Ketua Parlemen maupun Wakil Perdana Menteri.
Pertemuan-pertemuan bersejarah tersebut tersimpan rapi dalam Arsip Negara berbentuk foto atau video tanpa suara. Juga ternyata banyak sekali yang masih disimpan sebagai koleksi keluarga besar KH Zainul Arifin.
Salah satu foto bersejarah yang baru-baru ini berhasil ditemukan ialah foto kunjungan Kaisar Jepang, Akihito ke Indonesia yang kala itu masih sebagai Putra Mahkota Tahta Bunga Seruni. Akihito didampingi Putri Michiko tampak bersalaman dengan KH Zainul dan Ibu Hamdanah Arifin dalam acara perjamuan kenegaraan di Istana Negara.

PUTRA MAHKOTA PERANG

Akihito lahir 23 Desember 1933. Namun baru pada 10 November 1951 ia resmi dilantik oleh Kaisar Hirohito sebagai Putra Mahkota. Dari situ jelas bahwa Akihito baru berusia 11 tahun ketika Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dia ditahbiskan sebagai Putra Mahkota 6 tahun sesudah Indonesia merdeka dalam usia 17 tahun.

Dalam usia 19 tahun tugas pertama Putra Mahkota adalah menghadiri Upacara Penobatan Elizabeth II menjadi Ratu Inggris pada 2 Juni 1952 mewakili ayahandanya Sang Kaisar. Sepanjang masa kecilnya Akihito sempat mengalami masa Perang Dunia II dimana bapaknya dipandang sebagai tokoh yang ikut bertanggung jawab atas berlangsungnya Perang Dunia yang mengerikan itu.

MENIKAHI PEREMPUAN JELATA

Pangeran Akihito melanggar aturan adat kekaisaran Jepang dengan menikahi wanita yang bukan dari kalangan bangsawan, Michiko Shoda yang setahun lebih muda. Pernikahan keduanya berlangsung pada 10 April 1959. Tak lama setelah perkawinan agung dilaksanakan, Kaisar Hirohito memerintahkan Putra Mahkota dan Putri Michiko untuk melakukan perjalanan resmi keliling dunia mengunjungi 37 negara termasuk bekas jajahan Jepang, Republik Indonesia. Di Indonesia, Presiden Sukarno mengadakan sambutan meriah dan megah atas kedatangan Pangeran Akihito dan Putri Michiko.

Akihito resmi menjadi Kaisar Jepang ke 125 pada 12 November 1990 usai masa berkabung wafatnya Kaisar Hirohito pada 7 Januari 1989. Kini, setelah hampir 28 tahun menduduki tahta Bunga Seruni, dikabarkan Kaisar Akihito akan mengundurkan diri karena komplikasi penyakit kanker prostat dan jantung. Akhir tahun ini konon Putra Mahkota Naruhito akan menggantikan Akihito sebagai Kaisar Jepang ke 126. Lagi-lagi ini merupakan sejarah baru bagi Jepang, dimana belum pernah sebelumnya Kaisar turun tahta semasa masih hidup.

Tuesday, September 4, 2018

LANGLANG BUANA:ANTARA AS DAN US(1)

Oleh: Ario Helmy
KH Zainul Arifin ikut serta dalam rombongan Presiden Sukarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat sebanyak dua kali: pada tahun 1956 dan tahun 1960. Kedua lawatan berlangsung selama masa pemerintahan Presiden AS ke 34, Dwight D. "Ike" Eisenhower ditengah-tengah berlangsungnya Perang Dingin antara kubu Amerika Serikat (AS) dan Kubu Uni Soviet (US). Kunjungan pertama bermaksud untuk menjelaskan sikap Indonesia yang lebih memilih untuk tidak memilih di antara ke dua kubu berseberangan itu, non-blok. Sedangkan kunjungan tahun 1960 beragenda utama Pidato Sukarno di depan Sidang Umum PBB bertujuan menggalang dukungan untuk Pembebasan Irian Barat (kini Papua). Meski kedua kunjungan tidak terlalu berhasil secara politis, namun secara psikologis penampilan Sukarno di Negeri Paman Sam tersebut berhasil mencuri perhatian publik Amerika lewat liputan media massa yang gegap gempita.

LIMA BULAN "ROAD SHOW"

Sepanjang tahun 1956, rombongan Presiden Sukarno menghabiskan sekira 5 bulan langlang buana untuk kepentingan menyampaikan hasil-hasil Konferensi Asia Afrika yang berlangsung sukses di Bandung, setahun berselang. Selain itu, rombongan bermaksud untuk melihat dari dekat keadaan sebenarnya dari bangsa-bangsa yang berkelompok terpisah masing-masing dalam kubu AS dan kubu Uni Soviet. Perjalanan muhibah pertama berlangsung dari pertengahan Mei hingga akhir Juni 1956 meliputi kunjungan ke: Amerika Serikat, Kanada, Italia, Tahta Suci Vatican, Jerman, dan Swiss.
Rombongan tiba di AS 16 Mei 1956 dan menghabiskan 19 hari kunjungan. Pembicaraan bilateral antara Sukarno dan Eisenhower tidak berlangsung mulus karena pemerintahan Eisenhower yang sangat membenci komunisme (baca: Uni Soviet) keburu curiga negara-negara di kawasan Asia Tenggara cenderung condong ke Uni Soviet. Menteri Luar Negeri, John Dulles dengan tajam menyatakan sikap netral adalah suatu sikap yang "tidak bermoral". Dikecam begitu rupa, Sukarno masih saja menunjukkan sikap bersahabat namun tetap tegas.
Pembawaan Presiden Indonesia yang anggun ini kemudian merebut perhatian media massa dan rakyat AS pun terpesona atas kharisma Sukarno. Majalah TIME memuat gambar Sukarno di halaman sampul, sementara majalah LIFE memuat gambar-gambar intim saat rombongan Presiden melakukan shalat di Mesjid di Washington DC. Bukan itu saja, kehangatan Sukarno sebagai Bapak ditampilkan lewat penampilan foto-fotonya bercengkerama dengan putra sulungnya, Guntur Sukarnoputra yang waktu itu baru berusia 12 tahun di Disneyland, Annaheim, California. Ajang wahana permainan keluarga yang baru dibuka setahunsebelumnya.
Ditambah lagi dengan acara jamuan makan di Hollywood yang menghasilkan foto Presiden dengan Gadis Sampul majalah Playboy pertama dan artis film paling terkenal di dunia pada masa itu: Marilyn Monroe, tampak begitu glamor. Presiden Sukarno juga berpidato di depan Kongres AS dan menerima gelar kehormatan Doktor (Honoris Causa) dari Universitas Columbia di New York.
Zainul Arifin ikut serta dalam rombongan dalam kapasitas sebagai tokoh Partai NU dan bagian dari Kabinet Ali-Arifin penyelenggara Konferensi Asia Afrika serta sebagai Wakil Ketua DPR hasil Pemilu Perdana Indonesia yang dipuji-puji pemerintah AS karena berlangsung tertib dan aman. Berbeda dengan kunjungan ketika mengikuti rombongan Presiden Sukarno ke Uni Soviet yang memuat sebuah wawancara tentang kehidupan orang-orang Islam di Negeri Beruang Merah, selama di AS tidak ditemukan catatan mengenai komentar Arifin ke media massa. Namun beberapa foto masih dapat dilacak, berupa foto-foto ketika bersama Sukarno melakukan sholat di Mesjid dan Islamic Center yang diresmikan sendiri oleh Presiden Eisenhower pada 1954. Foto lain menunjukkan Zainul bergambar bersama mahasiswa Universitas Columbia saat menyaksikan Sukarno dianugerahi gelar DR (Honoris Causa) bidang hukum.
Sebelum meninggalkan benua Amerika, rombongan Presiden Sukarno menyempatkan diri mengunjungi Kanada. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menuju Eropa Barat meliputi: Italia, Tahta Suci Vatican, Jerman dan akhirnya Swiss. Di negeri Coklat dan Jam Swiss, Zainul Arifin berkesempatan bertemu dan berfoto bersama putra sulungnya, BS Arifin yang kala itu sedang menyelesaikan pendidikan doktoralnya di bidang Ekonomi. Di kemudian hari, BS Arifin bekerja di Departemen Luar Negeri dengan jabatan terakhir sebagai Sekjen HELN (Hubungan Ekonomi Luar Negeri). BS Arifin dimasa hidupnya pernah tiga kali diutus pemerintah RI menjadi Duta Besar masing-masing di Kerajaan Iran (semasa Shah Iran berkuasa), Kerajaan Inggris dan akhirnya di Swiss.
Rombongan kembali ke tanah air akhir Juni 1956, Sekira dua bulan kemudian, dalam kurun 26 Agustus hingga 16 Oktober 1956, KH Zainul Arifin termasuk dalam rombongan kenegaraan Presiden Sukarno menjelajahi: Uni Soviet, Austria, Cekoslowakia dan Mongolia. Lagi-lagi Presiden Sukarno sukses menyita simpati masyarakat negeri-negeri Komunis. Tapi ceritanya sudah berbeda pula.

Friday, September 11, 2015

MESJID KENANGAN IBU DAN ANGGUT



Oleh: Ario Helmy




Akhir Agustus 1983, ketika Ibu dinas di Bank Dunia di Washington DC dan New York City, AS, saya diminta untuk menemani. Waktu itu memang kami tinggal di Houston, Texas, karena Ibu sedang ditempatkan di Kantor Perwakilan PT Pupuk Sriwijaya (PUSRI) di sana. Dari Houston, kami menuju Boston, Massachussets mengantar seorang putri pejabat yang hendak kuliah di kota itu. Baru dari situ, Ibu dan saya melanjutkan perjalanan ke ibu kota Amerika Serikat, Washington DC. Buat saya yang baru pertama kali ke sana, kota ini tampak begitu kecil dan membosankan. Bangunan-bangunannya kebanyakan kantor-kantor pemerintah yang tingginya tidak ada yang melampaui Monumen Washington di pusat kota dengan ketinggian sekira 13 lantai saja. Di sana kami menginap di Hotel Embassy Row, terletak persis berseberangan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Amerika Serikat. Setiap kali dinas ke Washington Ibu selalu menginap di hotel ini.
Karena kami harus berpisah, di hari pertama Ibu mesti ke Bank Dunia, sedang saya tidak ada rencana kemana-kemana, Ibu menyarankan (sekalian membukukan) saya untuk mengikuti Tour Keliling Kota Washington. Tujuan tur meliputi: Gedung Putih, monumen-monumen ini dan itu, serta museum-museum aneka rupa. Ibu juga menentukan titik perpisahan kami di Islamic Center di ujung jalan sekira 5 menit dari tempat kami menginap. Dari situ Ibu bakal naik taksi ke Bank Dunia sedang saya akan dijemput Bis Turis.
Islamic Center yang memilliki mesjid berarsitektur gaya benteng Romawi itu kelihatan biasa-biasa saja buat saya. Waktu itu baik Ibu maupun saya sama sekali tidak tahu kalau di mesjid inilah Anggut, ayah Ibu, KH Zainul Arifin selalu Wakil Ketua DPR dan rombongan kenegaraan Presiden Sukarno pernah mampir untuk sholat sebelum menuju Gedung Putih berjarak sekitar 10 menit dari situ dan melakukan pembicaraan bilateral yang sangat bersejarah dengan Presiden Dwight Eisenhower tahun 1956.
DUTA BESAR MENINGGAL
Sejarahnya, ide pembangunan Mesjid Islamic Center Washington bermula ketika Duta Besar Turki Muenir Urteguen wafat pada 1944 tanpa adanya mesjid yang memadai untuk menyembahyangkan jenazahnya. Duta Besar Mesir kala itu, Muhammad Isa Abu Al-Hawa kemudian membahas rencana pembangunan mesjid untuk kaum Muslim di kawasan Washington DC. Usulnya itu segera mendapat tanggapan positif dari kalangan diplomat negara-negara Islam dan masyarakat umum Muslim AS.
Tanahnya dibeli pada 30 April 1946, sedangkan peletakan batu pertamanya berlangsung pada 11 Januari 1949. Mesjid bermenara setinggi 50m yang diarsiteki Prof. Mario Rossi dari Italia itu sudah dapat mulai digunakan sejak 1954. Jadi ketika rombongan Presiden Sukarno di awal musim panas, bulan Mei 1956 mampir untuk beribadah di sana, mesjid ini masih belum rampung benar. Mesjid baru diresmikan sendiri oleh Presiden Eisenhower pada 28 Juni 1957.
MESJID SETENGAH JADI
Dari foto-foto yang dimuat dalam majalah LIFE tahun 1956 mengenai kegiatan Sukarno beserta rombongan melaksanakan sholat di Islamic Center dapat dilihat kalau bangunan belum seluruhnya selesai. Lampu kristal dan pilar-pilar mesjid belum lagi dipasang. Begitu pula dengan dinding keramik serta tulisan-tulisan kaligrafi sumbangan pemerintah Turki. Dari foto-foto itu juga dapat disimpulkan rombongan melakukan sholat sunat mesjid dan Dhuha, karena tidak satupun foto menujukkan kegiatan sholat berjamaah. Selain itu, juga tampak jelas kalau anggota rombongan "entourage" Presiden tidak terlalu besar jumlahnya. Tidak sampai 20 orang, sudah termasuk ajudan-ajudan dan para pengawal.
Kamera begitu jeli merekam setiap gerakan Sukarno dari sejak melepas sepatu hendak memasuki area mesjid hingga foto bersama para pejabat kedua negara di akhir kunjungan di Islamic Center. Meski pembicaraan bilateral yang berlangsung anrara Sukarno dan Eisenhower berlangsung kurang bersahabat, namun agaknya penampilan foto-foto itu membuktikan bahwa Sukarno adalah seorang kepala negara mayoritas Muslim yang memang lebih suka memilih menjadi Non-Blok. Sedangkan kepada Zainul Arifin dalam kapasitasnya sebagai anggota parlemen dari partai Islam pemerintah Eisenhower menganugerahi bintang kehormatan setahun sesudah kunjungan.
Saya menyelesaikan tulisan ini sambil tersenyum karena sekarang setiap kali saya teringat kunjungan saya dan Ibu ke Islamic Center di Washington DC di penghujung musim panas 1983 itu, sayapun otomatis teringat Anggut juga.