Total Pageviews

Showing posts with label pahlawan kemerdekaan nasional. Show all posts
Showing posts with label pahlawan kemerdekaan nasional. Show all posts

Thursday, December 16, 2021

SELAMAT HARI SEJARAH NASIONAL 2021

Reposted from @komunitashistoria 🔥 SELAMAT HARI SEJARAH NASIONAL 2021 🔥

Meski dirayakan setiap tanggal 14 Desember dan bukan hari libur, Hari Sejarah Nasional ini digagas pertama kali pada tahun 2014 oleh berbagai kalangan masyarakat yang melibatkan asosiasi profesi, unsur pemerintah, komunitas ksejarahan, guru, dosen dan mahasiswa sejarah se-Indonesia. Salah satu komunitas kesejarahan yang paling getol dan ikut menggagas Hari Sejarah Nasional ini adalah Komunitas Historia Indonesia 🎉🤗

Kalian juga bisa melihat artikelnya lebih lengkap di situs Wikipedia ini:

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hari_Sejarah_Nasional

So, dear #historiawarriors di seluruh dunia, dimana pun kalian berada, ingatlah bahwa perjuangan terberat kita saat ini adalah #melawanlupa . Tetap semangat, gelorakan terus cinta sejarah bangsa dan tanah air kita sampai akhir hayat! 🇲🇨😍👏🙏
-
-
- #harisejarahnasional #harisejarahnasional2021
#sejarah #jasmerah #PostMuseum #History #wikipedia  

Saturday, October 2, 2021

Reposted from @pt_balaipustaka (@get_regrann)

Sinopsis 
K.H Zainul Arifin (1909-1963) karya G.Wu

Zainul Arifin lahir 2 September 1909 di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Dalam usia balita ia pindah ke Kerinci, Jambi dan menyelesaikan sekolah dasar berbahasa Belanda HIS serta sekolah pendidikan guru Normaalschool di sana. Dalam usia 17 tahun ia sudah merantau ke Batavia (Jakarta). Di Batavia, Zainul sempat menjadi pegawai pemerintah kotapraja (gemeente) sebelum kemudian menjadi guru sekolah dan pengacara bumiputra "pokrol bambu". Ia juga memasuki Gerakan Pemuda (GP) Anshor, organisasi kepemudaan di bawah Nahdlatul Ulama (NU). Kemahiran Arifin dalam berpidato, berdebat, dan berdakwah menjadikannya tokoh politik NU terkemuka dalam waktu singkat.

Salah satu keteladanan yang harus diwarisi oleh warga Nahdliyin, terutama para aktivisnya, adalah pengabdian dan komitmen KH Zainul Arifin untuk berjuang demi terwujudnya cita-cita bersama.

Ketika terjadi agresi militer II pada Desember 1948, pasukan Belanda berhasil menjatuhkan Yogyakarta, serta menahan Soekarno Hatta. Tentu saja pada masa krisis ini, BP KNIP tidak berfungsi secara maksimal. Kiai Zainul Arifin, kemudian terlibat sebagai anggota Komisariat Pemerintah Pusat di Jawa, bagian dari Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. 
Pemilu pertama 1955 mengantar Zainul Arifin sebagai anggota Majelis Konstituante sekaligus wakil ketua DPR sampai kedua lembaga legislatif tersebut dibubarkan Sukarno melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Memasuki era Demokrasi Terpimpin itu, Arifin bersedia mengetuai DPR Gotong Royong (DPRGR) sebagai upaya partai NU membendung kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI) di parlemen. Ditengah meningkatnya suhu politik di dalam negeri, pada 14 Mei 1962, ketika sedang salat Idul Adha pada barisan terdepan disebelah Sukarno, Zainul tertembak peluru yang diarahkan seorang pemberontak dalam percobaannya membunuh presiden. Zainul Arifin akhirnya wafat 2 Maret 1963 setelah menderita luka bekas tembakan dibahunya.
.
#pahlawannasional 
#bumnhadiruntuknegeri 
#khzainularifin 
#balaipustaka 
#sinergibumn 
#istanaperadabanbalaipustaka  - #regrann

Friday, December 2, 2011

SEJARAH DIA, SEJARAH DIA JUGA


Oleh: Ario Helmy

Bahasa Indonesia ternyata sudah lebih "ramah jender" dibandingkan dengan Bahasa Barat. Tinggal lagi sistem penulisan sejarahnya saja yang masih perlu dibenahi agar tidak menempatkan perempuan di bawah lelaki. Dalam menulis biografi KH ZAINUL ARIFIN, BERDZIKIR MENYIASATI ANGIN, saya berusaha bersetia terhadap prinsip ini. 

KETIGA TUNGGAL 

Dalam Bahasa Nasional kita hanya ada satu sebutan bagi orang ketiga tunggal, dia. Lelaki atau perempuan yang dibicarakan, ya dia. Bandingkan misalnya, dengan Bahasa Inggris yang membebani "he" untuk maskulin dan "she" bagi jender yang sekedar "perhiasan" bagi "he". Lebih jauh lagi, wanita baik-baik dan terhormat julukannya, "lady" dari akar kata "lad" yang bermakna anak lelaki. Jadi dalam sejarah perkembangan berbahasa bangsa-bangsa pengguna bahasa Inggris sesempurnanya perempuan hanya bisa menyamai tingkat kedudukan bocah pria, setengah lelaki dewasa. Yang kemudian menimbulkan keprihatinan di kalangan masyarakat penggunanya ialah kata "history" ternyata dipungut dari tautan kata-kata "his story" atau "kisah dia (lelaki)". Kontan sejak awal abad ke 20, kaum perempuan di Barat menuntut persamaan derajat bukan hanya dalam kehidupan nyata sehari-hari, namun pula di antara halaman-halaman buku sejarah. Sejak saat itupun penulisan sejarah harus senantiasa terkait dengan perempuan. Seorang tokoh sejarah yang ditulis sepak terjang kejuangannya perlu diteliti secara mendalam kehidupan pribadinya, terutama dalam masalah memperlakukan wanita-wanita dalam hidupnya. Juga pandangan-pandangan serta kontribusinya terhadap masalah-masalah perempuan mesti dikaji mendalam. Singkatnya, dia harus bisa menjadi pahlawan bagi komunitasnya tanpa membedakan jenis kelamin dan tidak bisa cuma sekedar "pahlawan di lingkungan kelompok macho-nya" belaka.

PAHLAWAN DAN PEREMPUAN PEREMPUAN 

Motivator Mario Teguh pernah berbagi pandangan bahwa orang-orang berpengaruh dalam sejarah peradaban manusia adalah mereka yang menghormati ibu, istri, anak dan cucu perempuannya. Saya sendiri saat menulis biografi kakek saya benar-benar tidak mengenal sosoknya secara langsung karena baru berusia 6 tahun ketika Kakek wafat. Jadi saya banyak mengandalkan penulisan berdasarkan pengamatan dan interaksi saya pribadi dengan ibu Kakek (buyut saya yang baru meninggal ketika saya beranjak remaja), ketiga istrinya, dan anak-anak perempuannya termasuk ibu saya sendiri. Ditambah lagi dengan keterangan-keterangan dari tokoh-tokoh NU dan Muslimat NU. Saya sempat mengenal dan menyaksikan bagaimana buyut saya, Baiyah Nasution sangat dihormati dalam keluarga besar kami, karena memang dicontohkan sendiri oleh Zainul Arifin di masa hidupnya. Konon begitu dekatnya hubungan Ibu dan Anak di antara keduanya, sampai-sampai ketika Zainul wafat, Buyut meminta sendiri kepada Presiden Sukarno agar anaknya tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, karena dia ingin berkubur di sebelahnya. Tidak kurang dari Jenderal Besar AH Nasution harus ikut membantu Presiden membujuk Baiyah agar mengikhlaskan putranya dikebumikan di Kalibata. Harian Duta Masyarakat edisi 3 Maret 1963 melaporkan, akhirnya Buyut mengalah. Baiyah sendiri yang berpidato mewakili keluarga besar mengucap terima kasih kepada pemerintah senyampang memberikan restunya. Saya juga mengenal ketiga istri Kakek dengan cukup baik, serta pernah berbincang-bincang dengan mereka. Namun, mengenai bagaimana Kakek bersikap adil terhadap istri-istrinya justru saya dengar dari Bapak Hamid Baidlowi (Allah yarham), menantu KH Wahid Hasyim yang juga sahabat dekat keluarga Arifin dan dari Ibu Asmach Syachruni, mantan Ketua Muslimat NU. Ibu Asmach juga banyak berkesan mengenai bagaimana Zainul Arifin menaruh perhatian besar terhadap badan-badan Muslimat NU dan para anggotanya. Dari ibu kandung saya sendiri, satu dari delapan anak perempuan Kakek saya diceritakan bagaimana Zainul Arifin tidak membedakan pendidikan antara anak lelaki dan anak perempuan. Dia juga menanamkan perlunya menuntut ilmu hingga akhir hayat. Ibu memang pembelajar sejati. Dia pernah menjadi satu-satunya pejabat perempuan yang dikirim ke kantor perwakilan BUMN tempatnya bekerja ke luar negeri selama lima tahun. 

Setelah menimbang dan memperhatikan terpenuhi semua syarat penulisan "ramah jender" atas hikayat KH Zainul Arifin, sayapun meniatkan biografi tersebut dengan seizin Allah SWT terselesaikan bertepatan dengan peringatan Seabad KH Zainul Arifin tahun 2009 silam. Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan doa.