Biografi KH Zainul Arifin, "Berdzikir Menyiasati Angin" oleh: Ario Helmy telah diluncurkan pada 25 November 2009 di Flores Ballroom, Hotel Borobudur, Jakarta. Sedangkan Edisi Revisi Biografi KH Zainul Arifin: PANGLIMA SANTRI, IKHLAS MEMBANGUN NEGERI telah diterbitkan oleh Pustaka Compass pada tahun 2015.
Total Pageviews
Showing posts with label pahlawan nasional. Show all posts
Showing posts with label pahlawan nasional. Show all posts
Wednesday, November 9, 2022
Thursday, December 16, 2021
SELAMAT HARI SEJARAH NASIONAL 2021
Reposted from @komunitashistoria 🔥 SELAMAT HARI SEJARAH NASIONAL 2021 🔥
Meski dirayakan setiap tanggal 14 Desember dan bukan hari libur, Hari Sejarah Nasional ini digagas pertama kali pada tahun 2014 oleh berbagai kalangan masyarakat yang melibatkan asosiasi profesi, unsur pemerintah, komunitas ksejarahan, guru, dosen dan mahasiswa sejarah se-Indonesia. Salah satu komunitas kesejarahan yang paling getol dan ikut menggagas Hari Sejarah Nasional ini adalah Komunitas Historia Indonesia 🎉🤗
Kalian juga bisa melihat artikelnya lebih lengkap di situs Wikipedia ini:
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hari_Sejarah_Nasional
So, dear #historiawarriors di seluruh dunia, dimana pun kalian berada, ingatlah bahwa perjuangan terberat kita saat ini adalah #melawanlupa . Tetap semangat, gelorakan terus cinta sejarah bangsa dan tanah air kita sampai akhir hayat! 🇲🇨😍👏🙏
-
-
- #harisejarahnasional #harisejarahnasional2021
#sejarah #jasmerah #PostMuseum #History #wikipedia
Thursday, December 9, 2021
ZAINUL ARIFIN, JAMALUDDIN MALIK DAN ASRUL SANI
(Ario Helmy)
"Kakek kamu itu sahabatnya, Asrul Sani. Ini istrinya, " terang Ninik Elly Jamaluddin kepadaku, memperkenalkan seorang ibu yang berdiri di sebelahnya dalam sebuah pesta perkawinan keluarga. Aku lantas juga mencium tangan "Ninik" Asrul Sani yang duduk di sebelah Ninik Elly. Sesungguhnya aku sudah mendengar tentang persahabatan Kakek Zainul Arifin dengan Jamaluddin Malik dan Asrul Sani. Hanya saja aku lebih dekat dengan keluarga Jamaluddin Malik. Asrul Sani hanya kukenal dari kejauhan, manakala ada acara-acara keluarga di rumah Aki Jamal di Jl. Cianjur, Menteng.
Riwayat keakraban mereka bertiga kudengar dari paman atau bibiku.
"Ayah sering memasang layar tancap di rumah Cikini, " Om Firman Arifin pernah bercerita padaku.
"Dulu, bioskop masih jarang dan harga tiketnya masih mahal, "sambungnya, " Layar tancap di pasang Ayah supaya para pengawal, ajudan, pembantu, sopir, bisa menonton film layar lebar. Televisi kan juga belum ada waktu itu."
Kiai Zainul Arifin sendiri juga sangat terkesan ketika ikut serta dalam rombongan kenegaraan pimpinan Presiden Sukarno melawat ke Amerika Serikat tahun 1956. Dalam muhibah tersebut rombongan sempat mengunjungi pusat perfileman dunia Hollywood di Los Angeles. Selain menyambangi studio film terkenal dan terbesar kala itu di dunia, MGM, seluruh rombongan juga disambut serta dijamu bintang-bintang Hollywood papan atas zaman itu seperti Gregory Peck, Elizabeth Taylor, dan Marilyn Monroe.
"Ayah sudah aktif terjun dikegiatan panggung sandiwara sejak masih sangat belia Dan masih tinggal di Sumatera, " cerita Zuhara Arifin, salah satu putrinya, "Jadi begitu era perfileman tiba, Ayah mengikutinya dengan antusias. "
"Asrul Sani menjadi yang paling menonjol dari tiga serangkai seniman santri sekaligus aktivis di PBNU itu," ungkap Elly Jamaluddin Malik, "karena dia sempat belajar sinematografi di AS."
Karena ketiganya sama-sama berangkat dari dunia teater, mereka kemudian seringkali berdiskusi tentang seni panggung dan film di studio Perfini yang didirikan Usmar Ismail pada 1950. Asrul Sani, Jamaluddin Malik dan Zainul Arifin akhirnya ikut pula membidani Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Islam) NU. Meskipun Zainul Arifin tidak sampai merambah dunia film sebagaimana kedua sahabatnya itu, namun minatnya terhadap dunia film terus terpelihara. Diapun menjadi politisi NU pecandu film.
Kemudian hari, Zainul Arifin ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1963, sedangkan Jamaluddin Malik mendapatkannya pada 1973.Tahun 2021 ini giliran Asrul Sani dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Saturday, October 2, 2021
Reposted from @pt_balaipustaka (@get_regrann)
Sinopsis
K.H Zainul Arifin (1909-1963) karya G.Wu
Zainul Arifin lahir 2 September 1909 di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Dalam usia balita ia pindah ke Kerinci, Jambi dan menyelesaikan sekolah dasar berbahasa Belanda HIS serta sekolah pendidikan guru Normaalschool di sana. Dalam usia 17 tahun ia sudah merantau ke Batavia (Jakarta). Di Batavia, Zainul sempat menjadi pegawai pemerintah kotapraja (gemeente) sebelum kemudian menjadi guru sekolah dan pengacara bumiputra "pokrol bambu". Ia juga memasuki Gerakan Pemuda (GP) Anshor, organisasi kepemudaan di bawah Nahdlatul Ulama (NU). Kemahiran Arifin dalam berpidato, berdebat, dan berdakwah menjadikannya tokoh politik NU terkemuka dalam waktu singkat.
Salah satu keteladanan yang harus diwarisi oleh warga Nahdliyin, terutama para aktivisnya, adalah pengabdian dan komitmen KH Zainul Arifin untuk berjuang demi terwujudnya cita-cita bersama.
Ketika terjadi agresi militer II pada Desember 1948, pasukan Belanda berhasil menjatuhkan Yogyakarta, serta menahan Soekarno Hatta. Tentu saja pada masa krisis ini, BP KNIP tidak berfungsi secara maksimal. Kiai Zainul Arifin, kemudian terlibat sebagai anggota Komisariat Pemerintah Pusat di Jawa, bagian dari Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukit Tinggi, Sumatera Barat.
Pemilu pertama 1955 mengantar Zainul Arifin sebagai anggota Majelis Konstituante sekaligus wakil ketua DPR sampai kedua lembaga legislatif tersebut dibubarkan Sukarno melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Memasuki era Demokrasi Terpimpin itu, Arifin bersedia mengetuai DPR Gotong Royong (DPRGR) sebagai upaya partai NU membendung kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI) di parlemen. Ditengah meningkatnya suhu politik di dalam negeri, pada 14 Mei 1962, ketika sedang salat Idul Adha pada barisan terdepan disebelah Sukarno, Zainul tertembak peluru yang diarahkan seorang pemberontak dalam percobaannya membunuh presiden. Zainul Arifin akhirnya wafat 2 Maret 1963 setelah menderita luka bekas tembakan dibahunya.
.
#pahlawannasional
#bumnhadiruntuknegeri
#khzainularifin
#balaipustaka
#sinergibumn
#istanaperadabanbalaipustaka - #regrann
Sunday, September 5, 2021
BULAN KAHAZA: PERINGATAN HARLAH KH ZAINUL ARIFIN ke 112 (2 September 1909 - 2 September 2021)
PAHLAWAN KEHILANGAN (JUGA) TANDA JASA (INTERNASIONAL)
Ario Helmy
Penelusuran saya sebagai cucu dan biografer kakek maternal saya, Pahlawan Nasional KH Zainul Arifin, akan bintang-bintang jasa yang diterimanya dari pemerintah Indonesia hanya terbatas berdasar catatan di atas kertas peninggalan Almaghfurlah Ibu. Bintang-bintang tanda jasa yang konon berlapis perak dan emas itu tidak pernah saya lihat wujud nyatanya.
BINTANG KERTAS INTERNASIONAL
Di sisi lain, walaupun penghargaan dari mancanegara juga sebagian besar belum pernah saya saksikan dengan mata kepala sendiri, setidaknya ada dua penghormatan yang setahu saya hingga kini masih ada: dari Arab Saudi dan Mesir. Dari pemerintah Kerajaan Arab Saudi berupa pedang emas Zambea yang diterima KH Zainul Arifin dalam kapasitasnya sebagai Wakil Perdana Menteri memang pernah saya lihat. Setahu saya Zambea tersebut kinipun masih ada disimpan oleh salah satu keturunannya. Satu lagi yang saya juga pernah lihat adalah Al Quran yang dicetak keseluruhannya di atas kertas linen hadiah dari Imam Universitas Al Azhar, manakala Zainul Arifin mendampingi Kepala Negara Presiden Sukarno selaku Wakil Kepala Pemerintahan Kabinet Ali Sastroamijoyo I berkunjung ke Negeri Piramid. Sedangkan bintang Niyez dari pemerintahan Gamal Abdul Nasser (Presiden Mesir) luput dari temuan penelitian saya.
Dalam daftar tertulis terdata hanya 2 negara lain yang juga pernah menganugrahi penghargaan kepada Arifin. Masing-masing Amerika Serikat dan Uni Soviet. Bagaimana wujud dan kedudukan bintang-bintang itu tidak dapat saya uraikan lebih jauh lagi.
Saya sendiri merasa penasaran dari sekian banyak negara yang dikunjungi sebagai pejabat negara, kenapa hanya sedikit sekali yang mengganjar Zainul Arifin dengan tanda kehormatan. Cina, misalnya pemerintah pertama yang mengirimkan kawat duka cita ketika KH Zainul Arifin wafat, menyampaikan ucapan duka cita sekalian ungkapan penghargaan peran Zainul dalam memelihara persahabatan Cina - Indonesia, agak janggal bila negara ini tidak menyematkan bintang penghargaan bagi Kakek, saat rombongan kenegaraan RI ke sana sampai 15 hari.
Hal ini, menyita perhatian saya karena ternyata ada satu bintang yang diterima Arifin dari Kepala Gereja Katolik Dunia, Paus Pius XII, saat menyertai Presiden Sukarno melakukan kunjungan kenegeraan ke Italia dan Tahta Suci Vatikan pada 1956. Tanda kehormatan ini juga luput dari daftar di atas kertas.
(Bersambung)
Monday, August 16, 2021
Lomba Mirip Pahlawan
Ketika SD Al Azhar Syifa Budi, Jatibening, Bekasi mengadakan Lomba Foto Mirip Pahlawan Nasional dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke 76, cicit KH Zainul Arifin , Atthariz Hambali, cucu Burhanuddin A. Pohan, menyertakan fotonya meniru foto buyutnya KH Zainul Arifin. Siswa kelas 1 berusia 7 tahun itu memang cuma beda tipis lah dari kakek buyutnya.
Tuesday, September 4, 2018
Friday, December 2, 2011
SEJARAH DIA, SEJARAH DIA JUGA
Oleh: Ario Helmy
KETIGA TUNGGAL
Dalam Bahasa Nasional kita hanya ada satu sebutan bagi orang ketiga tunggal, dia. Lelaki atau perempuan
yang dibicarakan, ya dia. Bandingkan misalnya, dengan Bahasa Inggris yang membebani "he" untuk maskulin dan "she" bagi jender yang sekedar "perhiasan" bagi "he". Lebih jauh lagi, wanita baik-baik dan terhormat julukannya, "lady" dari akar kata "lad" yang bermakna anak lelaki. Jadi dalam sejarah perkembangan berbahasa bangsa-bangsa pengguna bahasa Inggris sesempurnanya perempuan hanya bisa menyamai tingkat kedudukan bocah pria, setengah lelaki dewasa. Yang kemudian menimbulkan keprihatinan di kalangan masyarakat penggunanya ialah kata "history" ternyata dipungut dari tautan kata-kata "his story" atau "kisah dia (lelaki)". Kontan sejak awal abad ke 20, kaum perempuan di Barat menuntut persamaan derajat bukan hanya dalam kehidupan nyata sehari-hari, namun pula di antara halaman-halaman buku sejarah. Sejak saat itupun penulisan sejarah harus senantiasa terkait dengan perempuan. Seorang tokoh sejarah yang ditulis sepak terjang kejuangannya perlu diteliti secara mendalam kehidupan pribadinya, terutama dalam masalah memperlakukan wanita-wanita dalam hidupnya. Juga pandangan-pandangan serta kontribusinya terhadap masalah-masalah perempuan mesti dikaji mendalam. Singkatnya, dia harus bisa menjadi pahlawan bagi komunitasnya tanpa membedakan jenis kelamin dan tidak bisa cuma sekedar "pahlawan di lingkungan kelompok macho-nya" belaka.
PAHLAWAN DAN PEREMPUAN PEREMPUAN
Motivator Mario Teguh pernah berbagi pandangan bahwa orang-orang berpengaruh dalam sejarah peradaban manusia adalah mereka yang menghormati ibu, istri, anak dan cucu perempuannya. Saya sendiri saat menulis biografi kakek saya benar-benar tidak mengenal sosoknya secara langsung karena baru berusia 6 tahun ketika Kakek wafat. Jadi saya banyak mengandalkan penulisan berdasarkan pengamatan dan interaksi saya pribadi dengan ibu Kakek (buyut saya yang baru meninggal ketika saya beranjak remaja), ketiga istrinya, dan anak-anak perempuannya termasuk ibu saya sendiri. Ditambah lagi dengan keterangan-keterangan dari tokoh-tokoh NU dan Muslimat NU.
Saya sempat mengenal dan menyaksikan bagaimana buyut saya, Baiyah Nasution sangat dihormati dalam keluarga besar kami, karena memang dicontohkan sendiri oleh Zainul Arifin di masa hidupnya. Konon begitu dekatnya hubungan Ibu dan Anak di antara keduanya, sampai-sampai ketika Zainul wafat, Buyut meminta sendiri kepada Presiden Sukarno agar anaknya tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, karena dia ingin berkubur di sebelahnya. Tidak kurang dari Jenderal Besar AH Nasution harus ikut membantu Presiden membujuk Baiyah agar mengikhlaskan putranya dikebumikan di Kalibata. Harian Duta Masyarakat edisi 3 Maret 1963 melaporkan, akhirnya Buyut mengalah. Baiyah sendiri yang berpidato mewakili keluarga besar mengucap terima kasih kepada pemerintah senyampang memberikan restunya.
Saya juga mengenal ketiga istri Kakek dengan cukup baik, serta pernah berbincang-bincang dengan mereka. Namun, mengenai bagaimana Kakek bersikap adil terhadap istri-istrinya justru saya dengar dari Bapak Hamid Baidlowi (Allah yarham), menantu KH Wahid Hasyim yang juga sahabat dekat keluarga Arifin dan dari Ibu Asmach Syachruni, mantan Ketua Muslimat NU. Ibu Asmach juga banyak berkesan mengenai bagaimana Zainul Arifin menaruh perhatian besar terhadap badan-badan Muslimat NU dan para anggotanya.
Dari ibu kandung saya sendiri, satu dari delapan anak perempuan Kakek saya diceritakan bagaimana Zainul Arifin tidak membedakan pendidikan antara anak lelaki dan anak perempuan. Dia juga menanamkan perlunya menuntut ilmu hingga akhir hayat. Ibu memang pembelajar sejati. Dia pernah menjadi satu-satunya pejabat perempuan yang dikirim ke kantor perwakilan BUMN tempatnya bekerja ke luar negeri selama lima tahun.
Setelah menimbang dan memperhatikan terpenuhi semua syarat penulisan "ramah jender" atas hikayat KH Zainul Arifin, sayapun meniatkan biografi tersebut dengan seizin Allah SWT terselesaikan bertepatan dengan peringatan Seabad KH Zainul Arifin tahun 2009 silam.
Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan doa.
Subscribe to:
Posts (Atom)


