Total Pageviews

Showing posts with label perusahaan daerah air minum. Show all posts
Showing posts with label perusahaan daerah air minum. Show all posts

Saturday, September 18, 2021

Bulan Kahaza 2021BERKHIDMAT DI MUSLIMAT HINGGA USIA SENJA

Ario Helmy

Tanggal 17 September 2021 kemarin adalah peringatan hari kelahirannya yang ke 87 tahun. Siti Zuraida Fatma, akrab dipanggil Ibu Ida atau Ibu Neneng di kalangan ibu-ibu Muslimat NU adalah  putri pahlawan nasional KH Zainul Arifin tertua yang kini masih ada. Lahir sebagai anak keempat, putri kedua, di zaman sulit sebagai imbas terjadinya The Great Depression pencetus krisis ekonomi global yang dimulai dengan terpuruknya harga-harga saham di Wall Street, AS. Ayahandanya, KH Zainul Arifin yang sebelumnya bekerja untuk pemda kolonial Batavia, Gementeestaat-waterleidengen van Batavia (Perusahaan Daerah Air Minum/PDAM) diberhentikan dari perusahaan air minum tempatnya bekerja itu.

ANAK GURU ANAK SENIMAN

Setelah di PHK karena program penghematan pengeluaran dan pengurangan karyawan oleh Kerajaan Belanda, KH Zainul Arifin, kemudian melamar menjadi guru dan membentuk kelompok sandiwara musikal Samrah, cikal bakal Gambang Kromong dan Lenong Betawi. Sebelumnya, semasa masih tinggal di Kerinci, Sumatera Tengah, Zainul memang sudah terbiasa ikut dengan rombongan seni pertunjukan Stambul Bangsawan cikal bakal Samrah. Arifin sejak kecil sudah mahir menggesek biola selain sebagai penyanyi juga.

Makanya, begitu membentuk Tonil Zainul di Batavia, namanya segera tersohor ke seluruh pelosok Betawi. Kelompoknya itu sering di undang ke acara-acara hajatan para tuan tanah kaya raya.

Pekerjaan utamanya adalah guru sekolah dasar di dekat tempat tinggalnya di kawasan Kampung Melayu, Jatinegara (dulu disebut Mesteer). Sekolah itu masih ada hingga sekarang.

"Ayah juga sering di minta bantuan hukum untuk masyarakat awam yang buta hukum karena tidak faham Bahasa Belanda, " kenang Zuraida suatu ketika, "Setelah saya bear saya baru tahu kalau istilahnya Pokrol Bambu," lanjutnya.

MENGUNGSI KE JAWA

Ida atau Neneng sempat mengenyam sekolah khusus kepandaian putri yang selain mengajarkan keahlian baca tulis juga melatih ketrampilan memasak, menjahit serta kecakapan rumah tangga lainnya. Pada masa itu, berkecamuk Perang Dunia II dan tak lama sesudahnya Jepang datang menggantikan Belanda menjajah Hindia Belanda.

Pasca Proklamasi Kemerdekaan, keluarga besar Zainul Arifin hidup di pengungsian.

"Sebagai komandan Laskar Hizbullah, Ayah dicari-cari pasukan Jepang dan Belanda. Jadi, kami sering harus berpindah", tutur Neneng.

"Kami pernah mengungsi ke daerah Solo, karena Ayah juga anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia  Pusat. Saya jadi terbiasa berbicara dalam Bahasa Jawa Solo."

Sebelumnya, di rumah Ida selalu berbicara Bahasa Sunda dengan ibunya yang asli Bogor.

"Waktu Agresi Militer II, Ayah mengungsikan kami ke Jawa Timur, kawasan Kediri dan Singosari. Gaya Bahasa nya beda lagi, Jawa Timuran.

BERKHIDMAT DI MUSLIMAT

Ketika keadaan negeri merdeka sudah lebih kondusif, seluruh keluargapun kembali ke Jakarta. Karier KH Zainul Arifin sebagai politisi NU semakin moncer.

Tahun 1950-an manakala hubungan antara Zainul dan Presiden Sukarno sedang dekat-dekatnya, Neneng menikah dengan seorang putra pejabat berdarah Aceh yang tinggal di Medan, meskipun pernikahan diadakan di rumah namun tetap berlangsung meriah. Sukarno dan pejabat tinggi serta tertinggi negara hadir. Begitu juga diplomat dan pelaku bisnis dalam dan luar negeri.

Awal 1970an Zuraida dan kakak kandungnya, Lies, mulai aktif di Muslimat NU menggantikan ibundanya, Hamdanah Abdurrahim.

Selama hampir 40 tahun, Zuraida Fatma Arifin duduk dikepengurusan Muslimat NU di bidang Koperasi dan Seksi Pendidikan.

"Ibu aktif di Koperasi Muslimat di bawah Ibu Djazuli Wangsasaputra, " terang Diah Zulfah putrinya yang juga pernah sempat membantu ibunya di Koperasi.

"Salah satu program Koperasinya itu Program Dana Bergulir yang sistemnya mirip dengan Kredit Lunak.  Program yang aktif membantu UMKM ini berjalan baik dengan omzet yang cukup besar. "

Diah juga menjelaskan bagaimana Ibunda aktif mengembangkan Program Pemberantasan Buta Huruf buat ibu-ibu di pengajian-pengajian.

"Ibu malah ikut turun mengajar sendiri ibu-ibu itu," Kenang Diah pula.

Siti Zuraida Fatma mulai tidak bisa aktif di Muslimat karena usianya yang semakin uzur, sejak sekira 10 tahun belakangan.

"Ibu sebenarnya sehat. Tapi sudah makin jarang bicara." cerita Dian Meutia, putri bungsunya. Sejak lebih banyak terbaring saja itu, mantan Ibu Negara Nuriyah Abdurrahman Wahid, yang juga sahabatnya itu pernah datang menjenguk ke rumah nya di Cipete.

"Ibu banyak tersenyum dan nyambung diajak ngobrol Ibu Nuriyah," tutup Diah.

Sehat selalu dan Selamat Hari Ulang Tahun, Ibu!

 

Wednesday, September 16, 2015

NAPAK TILAS: MENGALIR SAMPAI PEJOMPONGAN

Oleh: Ario Helmy

Maket dan Model instalasi PAM Jaya di Pejompongan tampak sangat modern. Kantor penyediaan air bersih yang berdiri sejak 1920-an itu memiliki sejarah panjang. Berdiri berkat usaha Pahlawan Nasional Betawi, Muhammad Husni Thamrin, pahlawan nasional KH Zainul Arifin juga pernah berkantor di sini saat pertama kali ia tiba di Batavia pada tahun 1926.
Sebelumnya, Zainul Arifin melewati 17 tahun pertama hidupnya di Sumatera, dimana ia menamatkan HIS (Sekolah Dasar Berbahasa Belanda) dan Normaal School (Sekolah Menengah Calon Guru). Zainul Arifin kemudian merantau ke Batavia (sekarang Jakarta) dan diterima bekerja di Gementeestaat-waterleidengen van Batavia
(Perusahaan Daerah Air Minum/PDAM) yang hingga sekarang masih berkantor di Jalan Penjernihan II Pejompongan, Jakarta Pusat. Perusahaan ini berdiri berkat perjuangan putra daerah Muhammad Husni Thamrin, pahlawan asli Betawi. Sebelumnya penduduk Batavia mengambil kebutuhan air bersih dari sumur bor/artesis yang mulai disediakan pemerintah daerah (gemeente) pada 1843. Sekitar tahun 1918-1920 sebuah sumber mata air ditemukan di Ciburial daerah Ciomas, Bogor yang mampu menyediakan 484 liter perdetiknya. Pada 23 Desember 1922 untuk pertama kalinya air dari Ciburial dialirkan ke Batavia. Tanggal tersebut kini dijadikan hari jadi PAM Jaya. Namun penduduk masih kurang menyukai rasa air yang dihasilkan. Kemudian air kali Ciliwung yang sebelumnya di sebut Canal Swiss mulai dibangun dan dipersiapkan untuk memasok air ke Pejompongan. Semua itu di penuhi Gemeente, berkat desakan-desakan Muhammad Husni Thamrin yang duduk sebagai anggota Gemeenteraad Batavia (DPRD). Tidak terlalu banyak keterangan yang dapat ditelusuri lagi mengenai hubungan antara Zainul Arifin dan Husni Thamrin yang 15 tahun, kecuali dari kenangan keluarga yang pernah diceritakan Zainul sendiri di masa hidupnya. Namun, satu hal pasti sejarah mencatat Arifin merupakan tokoh pendatang yang disegani di Batavia, terlebih ketika dia menjabat sebagai Ketua Majelis Konsul NU Batavia.
"Tidak gampang untuk bisa diterima menjadi pegawai Gemeente seperti Zainul Arifin," ungkap Hamid Baidlowi yang pernah menjadi sekertaris KH Wahid Hasyim. "Dengan pengalaman sebagai pegawai pemda kolonial, Zainul Arifin banyak membantu kegiatan NU, terutama menyangkut masalah perizinan muktamar di wilayah Batavia dan Banten."
Zainul Arifin bekerja di kantor ini hanya selama 5 tahun, sebelum akhirnya ia diberhentikan karena terjadi krisis ekonomi dunia yang membuat pemerintah kolonial Belanda harus melakukan pengetatan. Caranya dengan mencabut semua kebijakan yang sebelumnya masih memberi peluang bagi pribumi untuk bekerja di kantor-kantor pemerintah, meskipun sangat terbatas. Namun Zainul Arifin tetap tinggal di Batavia dan menghabiskan sisa hidupnya di kota ini. Wajar saja kalau ia merasa dirinya sebagai bagian dari Batavia atau Betawi.