Total Pageviews

Showing posts with label nahdlatul ulama. Show all posts
Showing posts with label nahdlatul ulama. Show all posts

Thursday, December 9, 2021

ZAINUL ARIFIN, JAMALUDDIN MALIK DAN ASRUL SANI

(Ario Helmy) 

"Kakek kamu itu sahabatnya, Asrul Sani. Ini istrinya, " terang Ninik Elly Jamaluddin kepadaku, memperkenalkan seorang ibu yang berdiri di sebelahnya dalam sebuah pesta perkawinan keluarga. Aku lantas juga mencium tangan "Ninik" Asrul Sani yang duduk di sebelah Ninik Elly. Sesungguhnya aku sudah mendengar tentang persahabatan Kakek Zainul Arifin dengan Jamaluddin Malik dan Asrul Sani. Hanya saja aku lebih dekat dengan keluarga Jamaluddin Malik. Asrul Sani hanya kukenal dari kejauhan, manakala ada acara-acara keluarga di rumah Aki Jamal di Jl. Cianjur, Menteng.
Riwayat keakraban mereka bertiga kudengar dari paman atau bibiku. 

"Ayah sering memasang layar tancap di rumah Cikini, " Om Firman Arifin pernah bercerita padaku. 
"Dulu, bioskop masih jarang dan harga tiketnya masih mahal, "sambungnya, " Layar tancap di pasang Ayah supaya para pengawal, ajudan, pembantu, sopir, bisa menonton film layar lebar. Televisi kan juga belum ada waktu itu."
Kiai Zainul Arifin sendiri juga sangat terkesan ketika ikut serta dalam rombongan kenegaraan pimpinan Presiden Sukarno melawat ke Amerika Serikat tahun 1956. Dalam muhibah tersebut rombongan sempat mengunjungi pusat perfileman dunia Hollywood di Los Angeles. Selain menyambangi studio film terkenal dan terbesar kala itu di dunia, MGM, seluruh rombongan juga disambut serta dijamu bintang-bintang Hollywood papan atas zaman itu seperti Gregory Peck, Elizabeth Taylor, dan Marilyn Monroe. 

"Ayah sudah aktif terjun dikegiatan panggung sandiwara sejak masih sangat belia Dan masih tinggal di Sumatera, " cerita Zuhara Arifin, salah satu putrinya, "Jadi begitu era perfileman tiba, Ayah mengikutinya dengan antusias. "

"Asrul Sani menjadi yang paling menonjol dari tiga serangkai seniman santri sekaligus aktivis di PBNU itu," ungkap Elly Jamaluddin Malik, "karena dia sempat belajar sinematografi di AS."

Karena ketiganya sama-sama berangkat dari dunia teater, mereka kemudian seringkali berdiskusi tentang seni panggung dan film di studio Perfini yang didirikan Usmar Ismail pada 1950. Asrul Sani, Jamaluddin Malik dan Zainul Arifin akhirnya ikut pula membidani Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Islam) NU. Meskipun Zainul Arifin tidak sampai merambah dunia film sebagaimana kedua sahabatnya itu, namun minatnya terhadap dunia film terus terpelihara. Diapun menjadi politisi NU pecandu film. 
Kemudian hari, Zainul Arifin ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1963, sedangkan Jamaluddin Malik mendapatkannya pada 1973.Tahun 2021 ini giliran Asrul Sani dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.


Saturday, September 18, 2021

Bulan Kahaza 2021BERKHIDMAT DI MUSLIMAT HINGGA USIA SENJA

Ario Helmy

Tanggal 17 September 2021 kemarin adalah peringatan hari kelahirannya yang ke 87 tahun. Siti Zuraida Fatma, akrab dipanggil Ibu Ida atau Ibu Neneng di kalangan ibu-ibu Muslimat NU adalah  putri pahlawan nasional KH Zainul Arifin tertua yang kini masih ada. Lahir sebagai anak keempat, putri kedua, di zaman sulit sebagai imbas terjadinya The Great Depression pencetus krisis ekonomi global yang dimulai dengan terpuruknya harga-harga saham di Wall Street, AS. Ayahandanya, KH Zainul Arifin yang sebelumnya bekerja untuk pemda kolonial Batavia, Gementeestaat-waterleidengen van Batavia (Perusahaan Daerah Air Minum/PDAM) diberhentikan dari perusahaan air minum tempatnya bekerja itu.

ANAK GURU ANAK SENIMAN

Setelah di PHK karena program penghematan pengeluaran dan pengurangan karyawan oleh Kerajaan Belanda, KH Zainul Arifin, kemudian melamar menjadi guru dan membentuk kelompok sandiwara musikal Samrah, cikal bakal Gambang Kromong dan Lenong Betawi. Sebelumnya, semasa masih tinggal di Kerinci, Sumatera Tengah, Zainul memang sudah terbiasa ikut dengan rombongan seni pertunjukan Stambul Bangsawan cikal bakal Samrah. Arifin sejak kecil sudah mahir menggesek biola selain sebagai penyanyi juga.

Makanya, begitu membentuk Tonil Zainul di Batavia, namanya segera tersohor ke seluruh pelosok Betawi. Kelompoknya itu sering di undang ke acara-acara hajatan para tuan tanah kaya raya.

Pekerjaan utamanya adalah guru sekolah dasar di dekat tempat tinggalnya di kawasan Kampung Melayu, Jatinegara (dulu disebut Mesteer). Sekolah itu masih ada hingga sekarang.

"Ayah juga sering di minta bantuan hukum untuk masyarakat awam yang buta hukum karena tidak faham Bahasa Belanda, " kenang Zuraida suatu ketika, "Setelah saya bear saya baru tahu kalau istilahnya Pokrol Bambu," lanjutnya.

MENGUNGSI KE JAWA

Ida atau Neneng sempat mengenyam sekolah khusus kepandaian putri yang selain mengajarkan keahlian baca tulis juga melatih ketrampilan memasak, menjahit serta kecakapan rumah tangga lainnya. Pada masa itu, berkecamuk Perang Dunia II dan tak lama sesudahnya Jepang datang menggantikan Belanda menjajah Hindia Belanda.

Pasca Proklamasi Kemerdekaan, keluarga besar Zainul Arifin hidup di pengungsian.

"Sebagai komandan Laskar Hizbullah, Ayah dicari-cari pasukan Jepang dan Belanda. Jadi, kami sering harus berpindah", tutur Neneng.

"Kami pernah mengungsi ke daerah Solo, karena Ayah juga anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia  Pusat. Saya jadi terbiasa berbicara dalam Bahasa Jawa Solo."

Sebelumnya, di rumah Ida selalu berbicara Bahasa Sunda dengan ibunya yang asli Bogor.

"Waktu Agresi Militer II, Ayah mengungsikan kami ke Jawa Timur, kawasan Kediri dan Singosari. Gaya Bahasa nya beda lagi, Jawa Timuran.

BERKHIDMAT DI MUSLIMAT

Ketika keadaan negeri merdeka sudah lebih kondusif, seluruh keluargapun kembali ke Jakarta. Karier KH Zainul Arifin sebagai politisi NU semakin moncer.

Tahun 1950-an manakala hubungan antara Zainul dan Presiden Sukarno sedang dekat-dekatnya, Neneng menikah dengan seorang putra pejabat berdarah Aceh yang tinggal di Medan, meskipun pernikahan diadakan di rumah namun tetap berlangsung meriah. Sukarno dan pejabat tinggi serta tertinggi negara hadir. Begitu juga diplomat dan pelaku bisnis dalam dan luar negeri.

Awal 1970an Zuraida dan kakak kandungnya, Lies, mulai aktif di Muslimat NU menggantikan ibundanya, Hamdanah Abdurrahim.

Selama hampir 40 tahun, Zuraida Fatma Arifin duduk dikepengurusan Muslimat NU di bidang Koperasi dan Seksi Pendidikan.

"Ibu aktif di Koperasi Muslimat di bawah Ibu Djazuli Wangsasaputra, " terang Diah Zulfah putrinya yang juga pernah sempat membantu ibunya di Koperasi.

"Salah satu program Koperasinya itu Program Dana Bergulir yang sistemnya mirip dengan Kredit Lunak.  Program yang aktif membantu UMKM ini berjalan baik dengan omzet yang cukup besar. "

Diah juga menjelaskan bagaimana Ibunda aktif mengembangkan Program Pemberantasan Buta Huruf buat ibu-ibu di pengajian-pengajian.

"Ibu malah ikut turun mengajar sendiri ibu-ibu itu," Kenang Diah pula.

Siti Zuraida Fatma mulai tidak bisa aktif di Muslimat karena usianya yang semakin uzur, sejak sekira 10 tahun belakangan.

"Ibu sebenarnya sehat. Tapi sudah makin jarang bicara." cerita Dian Meutia, putri bungsunya. Sejak lebih banyak terbaring saja itu, mantan Ibu Negara Nuriyah Abdurrahman Wahid, yang juga sahabatnya itu pernah datang menjenguk ke rumah nya di Cipete.

"Ibu banyak tersenyum dan nyambung diajak ngobrol Ibu Nuriyah," tutup Diah.

Sehat selalu dan Selamat Hari Ulang Tahun, Ibu!

 

Saturday, August 14, 2021

KH ZAINUL ARIFIN & NAHDLATUL ULAMA(2)

KH ZAINUL ARIFIN & NAHDLATUL ULAMA
(2)

Oleh: Ario Helmy

"Dengan kepemimpinan KH Zainul Arifin yang piawai dalam mengelola forum sehingga sidang menjadi sangat efektif dan produktif menghasilkan beberapa keputusan penting mulai masalah pokitik, pengembangan ekonomi riil dan perbankan, serta penentuan pakaian khas bagi Muslimat NU." (DZ: p.52).

MAJELIS KONSUL DAN MIAI

Setelah Muktamar ke 13 di Menes berlangsung sukses, kedudukan KH Zainul Arifin meningkat pesat. Sebentar saja Arifin sudah diamanahi sebagai Ketua Majelis Konsul Batavia yang membawahkan semua Pengurus Cabang NU di kawasan Batavia. Namanya semakin kondang di kalangan kiai-kiai NU di Betawi dan Jawa Barat. Sedangkan PBNU memberinya tugas yang semakin menantang pula. Zainul ditugasi ikut mewakili NU di MIAI, Majelis Islam A'la Indonesia, sebuah federasi ormas Islam di seluruh Hindia Belanda.

MIAI didirikan atas inisiatif NU dan Muhammadiyah sebagai reaksi atas campur tangan pemerintah kolonial yang terlalu jauh terhadap syariat Islam. Kebijakan Belanda membentuk Undang-Undang perkawinan pada tahun 1937, misalnya, dipandang bertentangan dengan syariat islam, sehingga Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah berreaksi dengan mendirikan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) pada 21 September 1937 di Surabaya dengan melibatkan 13 ormas Islam. Federasi yang diketuai KH Wahid Hasyim ini sempat berkiprah di bidang politik di penghujung penjajahan Belanda. MIAI pernah berkongres tiga kali dimana KH Zainul Arifin ikut berperan di dalamnya sebagai wakil NU, sebelum akhirnya federasi ini dibekukan sementara senyampang masuknya Jepang ke Hindia Belanda pada 1942.

TIGA KONGRES MIAI

Kongres MIAI disebut juga Kongres Al-Islam pertama dilaksanakan 26 Februari-1 Maret 1938 di Surabaya. Dalam kongres perdananya  ini selain dibahas Undang-Undang Perkawinan yang diajukan pemerintah, juga disidangkan antara lain: soal hak waris umat Islam, raad agama, permulaan bulan puasa, dan perbaikan perjalanan haji.

Dalam Kongres MIAI II dikaji ulang UU Perkawinan secara lebih mendalam ditambah dengan tanggapan atas terbitnya artikel dalam suatu media massa yang dianggap menghina Islam. Untuk itu dibentuk Komisi Pembelaan dimana Zainul Arifin ikut duduk di dalamnya. Berpengalaman sebagai pengacara Pokrol Bambu, Arifin dipandang layak terlibat dalam komisi ini. 

Kongres terakhir Al-Islam MIAI ketiga digelar di Solo 7-8 Juli 1941. Beberapa materi diantaranya: peningkatan layanan perjalanan haji, tempat shalat di Kereta Api, penerbangan

Friday, August 13, 2021

KH ZAINUL ARIFIN & NAHDLATUL ULAMA(1)


Zainul Arifin hijrah dari Kerinci di Sumatera Tengah ke Batavia pada 1926, dalam usia 17 tahun. Ormas Islam Nahdlatul Ulama berdiri di Surabaya tahun yang sama. Kelak Arifin akan berkiprah di organisasi Islam terbesar di tanah air tersebut hingga membawanya masuk kedalam kelompok negarawan Bapak Bangsa yang ikut membangun negeri  sejak kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Berikut catatan sejarahnya:

Lahir sebagai keturunan Raja ke 20 Barus , Tapanuli Tengah, Tuanku Sutan Syahi Alam Pohan, di Barus pada 2 September 1909, Zainul Arifin hanya sempat sebentar saja dibesarkan di lingkungan istana kakeknya, Rumah Putih. Pasalnya, ayahandanya yang putra sulung Tuanku Sutan, Ramali Pohan dan ibundanya, Siti Baiyah boru Nasution bangsawan Mandailing, Tapanuli Selatan, bercerai ketika Arifin masih balita. Tak lama kemudian, ibunda Zainul menikah lagi dengan bangsawan Mandailing Nurdin Lubis yang bekerja sebagai Pengawas Hutan Kerinci Seblat. 

DARI KERINCI KE JATINEGARA

Zainul Arifin ikut pindah ke Sungai Penuh, di kaki gunung Kerinci, bersama bunda dan bapak tirinya. Di sana dia menamatkan pendidikan HIS dan sekolah guru Normaal School. Sore harinya Zainul memperdalam ilmu agama di madrasah dan di surau ketika berlatih seni bela diri silat. Selain itu dia juga aktif berkesenian sandiwara musikal tradisional Stambul Bangsawan. Arifin lulus sekolah guru di usia 17 tahun. Di tahun itu pula ayahanda kandungnya wafat sebelum sempat memangku jabatan Tuanku. Zainul muda kemudian memutuskan untuk hijrah ke Jakarta memulai hidup mandiri berdikari, bermodal ijazah HIS dan Normaal School.

Begitu tiba di Betawi, Zainul diterima bekerja di pemda setempat (gemeente) tepatnya di BUMD PAM (Perusahaan Air Minum) yang hingga kini berkantor di kawasan Pejompongan. Di sana Arifin bekerja sekira 5 tahun lamanya hingga tetiba pemerintah kolonial terkena dampak resesi ekonomi dunia hingga akhirnya mengurangi tenaga-tenaga kerja pribumi.

Zainul Arifin kemudian bekerja sebagai guru di sekolah Perguruan Rakyat dekat domisilinya di daerah Jatinegara. Pun, Zainul kembali menekuni kegiatan kesenian Samrah, cikal bakal Gambang Kromong yang mirip benar dengan seni panggung Stambul Bangsawan yang pernah ditekuninya ketika masih sekolah HIS dan Normaal School, di Kerinci, Sumatera Tengah.

Kegiatan Samrah mempertemukannya dengan tokoh sandiwara serta kemudian film Indonesia, Jamaluddin Malik. Kedua sahabat kemudian juga sama-sama memasuki organisasi pemuda NU, Gerakan Pemuda Ansor. Selain, memperdalam lagi pengetahuan agamanya, di Ansor Arifin juga tekun mengikuti pelatihan muballigh. Didukung kefasihannya berbahasa Inggris dan Belanda serta kemampuannya berpidato dan berdebat, sebentar saja Zainul Arifin sudah diterima kalangan kiai-kiai NU di Batavia. Ditambah lagi perkenalannya dengan Wahid Hasyim, putra Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari yang baru kembali dari pendidikannya di Arab Saudi dan menetap di Batavia, Zainul dan Jamaluddin direkrut sebagai pengurus NU di Batavia. Arifin sudah menjadi Ketua Cabang NU Jatinegara sekitar tahun 1933.

BERSINAR DI MUKTAMAR

Meski baru sebagai Ketua Cabang Jatinegara,  Zainul Arifin sudah dipercaya memimpin pelaksanaan Muktamar NU ke 13 di Menes, Banten pada 1938. Abdul Mun'im DZ dalam bukunya: Fragmen Sejarah NU (Pustaka Compass: 2017) merinci kiprah Zainul dalam Muktamar tersebut:

"Namun demikian dalam mengelola persidangan sejak hari pertama hingga hari penutupan sepenuhnya diserahkan pada KH Zainul Arifin, walaupun saat itu belum pengurus PBNU melainkan masih menjadi Konsul NU Wilayah Meester Cornelis (Jatinegara, Batavia)." (DZ: p.51)

Hanya 1 persidangan yang absen dipimpin Zainul Arifin, sidang 15 Juni 1938. Hari itu Arifin harus menghadap Residen Serang untuk meminta izin agar dapat melaksanakan Muktamar di area terbuka hingga dapat dihadiri oleh banyak warga NU.

Keberhasilan Zainul mendapatkan izin dari Residen membuat Ketua PBNU Mahfudz Siddiq memujinya.

Thursday, February 13, 2014

Sabtu, 01/02/2014 09:26Peringatan Harlah Ke-88 NU



PBNU menyelenggarakan tasyakuran peringatan hari lahir (Harlah) ke-88 NU, Jumat (31/1) malam di aula utama kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat. Acara yang berlangsung secara lesehan ini dihadiri para ulama, tokoh nasional, pejabat, dan masyarakat secara umum.

Malam peringatan Harlah ke-88 NU juga diisi penyerahan tanda jasa kepada 37 tokoh NU yang dinilai berjasa bagi kelahiran dan perkembangan NU dan bangsa secara luas. Di antara mereka adalah KH Ma’shum Lasem, KH Zainul Arifin, KH Saifuddin Zuhri, Djamaluddin Malik, H. Mahbub Djunaidi, Asrul sani, dan Usmar Ismail. Plakat penghargaan diterima secara simbolis perwakilan keluarga tokoh yang hadir.

“Kita bersyukur sekaligus berduka. Bersyukur karena NU saat ini bertambah usia. NU sudah berusia 88 tahun. Kita berduka karena baru saja kita ditinggal ole Rais Aam Almukarram Syekh KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh,” kata Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj pada malam itu.
Prosesi peletakan batu pertama Masjid an-Nahdlah yang terletak di Lantai 1 gedung PBNU pada Jumat siang mengawali rangkaian peringatan harlah ini. Dalam kesempatan ini hadir Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmi Faishal Zaini.