Total Pageviews

Showing posts with label soekarno. Show all posts
Showing posts with label soekarno. Show all posts

Sunday, November 13, 2022

SOEKARNO DAN ELIZABETH

Oleh: Ario Helmy

Duta besar RI pertama untuk Britania Raya, Subandrio, ikut berjalan dalam rombongan korps diplomatik yang dengan dukacita mengiringi kereta jenazah Raja George VI yang wafat dalam tidurnya pada 15 Februari 1952. Raja segera digantikan oleh Putri Mahkota Elizabeth Mary yang pada hari kematian ayahnya sedang berada di Kenya, Afrika, karena harus berkunjung ke negara bekas jajahan Inggris di Benua Afrika yang sedang bergolak memperjuangkan kemerdekaan penuh dari Kerajaan Inggris. Namun Raja George malah meninggal dunia pada 6 Februari 1952. Sejak hari itu pula Elizabeth mulai menjadi Ratu Elizabeth II yang memimpin Monarki Britania Raya menggantikan bapaknya.

GAGAP KARENA KIDAL

Seperti juga cicitnya Putra Mahkota William, Pangeran Wales, Raja George VI terlahir kidal dimana kala itu hal tersebut dianggap sebagai aib. Sejak kecil Raja dipaksa untuk makan, menulis dan melakukan hal-hal lainnya dengan tangan "manis" alias tangan kanannya. Hal ini menyebabkan George VI tumbuh dewasa sebagai pria canggung yang bicaranya tergagap-gagap. Yang Mulia sampai dipanggilkan guru pribadi khusus untuk melatihnya bicara tanpa jeda yang tidak perlu. Suatu hal yang dicoba ditekuninya namun tidak sepenuhnya berhasil. George VI kemudian menjadi seorang perokok berat yang membuatnya terkena kanker paru-paru kronis menjelang wafatnya.

TANPA INGGRIS DI EROPA

Elizabeth II baru dimahkotai sebagai Ratu Inggris lebih dari setahun kemudian. Tepatnya, 2 Juni 1953. Menlu Haji Agus Salim  mewakili pemerintah RI dalam upacara permahkotaan Ratu Elizabeth II.

Selama masa kepemimpinan Presiden Sukarno, Presiden RI tidak pernah mengunjungi London. Hubungan dengan Inggris memang terpengaruh dengan ketidaksukaan pemerintah Kerajaan Belanda ketika Rombongan kenegaraan dari Indonesia wara-wiri di Benua Eropa dan disambut dengan akrab oleh banyak negara yang mestinya lebih menghormati Belanda yang waktu itu masih ingin memisahkan Irian Barat dari Nusantara.

Tak sampai 2 bulan kemudian, Kabinet Ali-Wongso-Arifinpun (30 Juli 1953) terbentuk dimana KH Zainul Arifin dari Partai NU menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri (Waperdam). Tahun 1956, saat mana KH Zainul Arifin selaku Wakil Ketua MPR ikut dalam rombongan Presiden Sukarno ke AS, Kanada dan Eropa Barat, banyak negara Eropa dikunjungi kecuali Belanda dan Inggris. Rombongan memang membawa misi untuk meminta dukungan agar Irian Barat dapat tetap terintegrasi sebagai bagian dari NKRI.

Tentang Inggris Sukarno pernah berujar, "Aku sudah ke mana-mana kecuali ke London, sekalipun Ratu Inggris sudah dua kali mengundangku untuk berkunjung,” diungkap dalam otobiografinya yang disusun Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

UNDANGAN TERHALANG

Pada 28 Agustus 1961, Ratu Elizabeth II mengundang Sukarno mengadakan kunjungan kenegaraan ke London. Sukarno menyatakan bersedia tandang. Diaturlah rencana kunjungan kenegaraan ke Inggris pada Mei 1962. Pengumuman resmi pun diumumkan. Lagi-lagi Ratu Belanda yang masih kerabat Yang Mulia Ratu Elizabeth II mengritik rencana tersebut.

Sebenarnya, Ratu Elizabeth tidak pernah sampai membatalkan undangan resminya hanya karena ditegur Ratu Belanda. Namun, pada 21 April 1962, Sukarno melayangkan surat permintaan maaf kepada Ratu Elizabeth II. Karena situasi genting di dalam negeri, menyusul serangan Belanda terhadap armada Angkatan Laut Indonesia di Laut Arafuru pada awal tahun. Pada Maret 1962, perundingan yang dimediasi Amerika Serikat macet sehingga Indonesia dan Belanda terancam perang.

Ratu Elizabeth membalas surat Sukarno: “Menteri-menteri saya dan saya sendiri telah siap sedia menyambut kedatangan Yang Mulia, dan untuk memperlihatkan kepada Yang Mulia perihal negara kami, akan tetapi saya percaya bahwa kita akan mempunyai kesempatan untuk ini pada waktu yang lain,” sebagaimana dikutip Ganis Harsono dan dimuat dalam historia.id. Hingga kedua pemimpin wafat rencana itu tidak pernah terwujud.

Requiescat in pace, Her Majesty the Queen Elizabeth II


Thursday, January 6, 2022

KH Zainul Arifin Dan Masjid Istiqlal

Ario Helmy

Dari suatu catatan bersumber dari harian pagi berbahasa Belanda untuk masyarakat Belanda yang tinggal di Jakarta, De Niewsgier, terbit dari 1945 hingga 1957 didapat catatan menarik tentang peran Zainul Arifin dalam proyek pembangunan Masjid Istiqlal. 

Dari Menteri Agama

Ide awal untuk membangun sebuah mesjid negara dicetus oleh KH Wahid Hasyim selaku menteri agama pada tahun 1950 dengan didukung oleh Anwar Cokroaminoto. Setelah ide tersebut diajukan ke Presiden, Sukarno langsung meyambut baik. Namun ide tidak dapat segera diwujudkan karena situasi negara belum kondusif. 

Tak lama setelah Wahid Hasyim meninggal dunia karena mengalami kecelakaan lalu lintas, Zainul Arifin menjadi wakil perdana menteri II dalam Kabinet Ali Sastroamijoyo. Zainul kemudian melanjutkan upaya merealisasikan ide pembangunan mesjid negara Kiai Wahid. Harian berbahasa Belanda De Niewsgier terbitan 30 November 1953 melaporkan bahwa pada Jumat, 27 November 1953, Zainul Arifin selaku Waperdam didampingi mendagri Prof Hazairin mewakili pemerintah dalam pertemuan guna membentuk sebuah Komite Pembangunan Masjid Besar Jakarta. Pertemuan mengukuhkan Anwar Cokroaminoto sebagai ketua membawahkan anggota-anggota: Syafruddin Prawiranegara, Assaat, dan KH Taufiqrahman. Setelah melaporkan berdirinya komite pembangunan mesjid nasional tersebut ke Presiden Soekarno dan mendapat dukungan Kepala Negara, langkah selanjutnya adalah mengesahkan Komite dalam bentuk badan hukum bertajuk Yayasan Masjid Istiqlal yang disahkan berdasar akte Notaris Eliza Pondaag pada 7 Desember 1954. 

Antara Thamrin dan Willhelmina

Sempat terjadi perbedaan pendapat tentang lokasi pembangunan Mesjid, antara saran wapres Bung Hatta di kawasan Bundaran HI di Jalan Husni Thamrin sekarang dengan daerah Taman Willhelmina di seberang Gereja Katedral. Akhirnya usul kedua yang dicetus Presiden Soekarno yang diterima. 
Berikutnya, digelar sayembara nasional untuk rancang bangun masjid selama 3 bulan, dari 22 Februari hingga 30 Mei 1955. 

Dari 27 sketsa dan maket yang masuk ke Dewan Juri yang di ketuai langsung oleh Presiden Soekarno sendiri, terpilihlah rancangan karya seorang arsitek beragama Kristen, Frederich Silaban, sebagai pemenangnya. Pemenang diumumkan setelah para juri melakukan penilaian selama 3 bulan. 

Pada 5 Juli 1955, F. Silaban selaku pemenang sayembara diganjar hadiah medali emas seberat 75 gram dan uang sebesar Rp25 ribu. Sayangnya, proses pembangunan sempat terbengkalai 11 tahun lamanya, seiring dengan bubarnya Kabinet Ali Sastroamijoyo I tak lama sesudah pengumuman pemenang sayembara. 

Sempat Mangkrak 

Pernah ada upaya merealisasikan proyek pembangunan masjid pada enam tahun sesudahnya, dimana Soekarno melakukan peletakan batu pertama bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi, 24 Agustus 1961. 

Saat terjadinya peristiwa G-30 S 1965, proyek kembali mangkrak sampai tahun 1966. Meski kementerian agama berinisiatif melanjutkan impian besar mewujudkan sebuah Masjid Nasional yang membanggakan dengan menetapkan KH Idham Chalid sebagai Koordinator Panitia Nasional Pembangunan Mesjid Istiqlal, tetap diperlukan 17 tahun proses pembangunan hingga akhirnya Mesjid Istiqlal akhirnya diresmikan oleh Presiden Soeharto 22 Februari 1978. Kini masjid yang namanya diambil dari Bahasa Arab bermakna, "Merdeka" ini merupakan mesjid raya terbesar di Asia Tenggara dengan luas 9,3 hektar serta mampu menampung 200 ribu jamaah sekaligus.  


(Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/95478/nu-kh-zainul-arifin-dan-masjid-istiqlal)

Wednesday, December 29, 2021

NAIK NAIK KE ISTANA CIPANAS DAN POLIGAMI

(Ario Helmy) 

"Naik - naik, ke puncak gunung
tinggi - tinggi sekali
Naik - naik, ke puncak gunung
tinggi - tinggi sekali

Kiri - kanan kulihat saja
banyak pohon cemara
Kiri - kanan kulihat saja
banyak pohon cemara"

Ibu Soed aka Sarcidjah Niung mengarang lagu anak-anak berlirik seperti diatas guna menggambarkan indah dan menakjubkan perjalanan dari Jakarta menuju villa di Kawasan Puncak. Yang menceritakan hal itu Carmenita, kemenakan Ibu Soed(ibyo) seorang perancang busana. Ibu Soed sendiri di masa hidupnya selain terkenal sebagai pengarang lagu anak-anak, guru musik dan penyiar radio juga dikenang sebagai seniman seni batik kesayangan Presiden pertama RI, Sukarno. Keluarga Soedibyo termasuk keluarga yang kerap kali diundang untuk tetirah di Istana Kepresidenan di Cipanas. 

MENCARI INSPIRASI

Bung Karno seringkali menggunakan Istana Cipanas untuk beristirahat dan mencari inspirasi sebagai bahan untuk pidato-pidatonya. Bangunan kuno Istana dulunya dimiliki seorang Tuan Tanah Belanda, Van Heots, selesai dibangun sekira 1740. Setelahnya, istana ini menjadi tempat peristirahatan Gubernur Jendral Gustaaf Willem Baron van Imhoff serta pejabat-pejabat gubernur jenderal setelahnya. Suasana pegunungan dan sumber air panas menjadi daya tarik utamanya.

Berbeda dengan air panas lainnya, air panas di Istana Cipanas tidak mengandung belerang. Jika air panas lainnya tidak disarankan untuk berendam lebih dari satu jam, air panas alami Cipanas diperbolehkan untuk berendam lebih dari satu jam. Meski berbeda, khasiat air panas sama dengan yang di tempat lain.

Setelah Indonesia merdeka, Sukarno menamaulang tiga paviliun yang ada disana menjadi Paviliun Yudistira, Paviliun Bima dan Paviliun Arjuna. Tahun 1984 di masa pemerintahan Presiden Suharto, ditambahkan dua paviliun lagi: Paviliun Nakula dan Paviliun Sadewa.

Sebagai tempat mencari inspirasi, Sukarno meminta arsitek R.M. Soedarsono dan F. Silaban untuk membangun Gedung Bentol di puncak bukit. Gedung berhiaskan bebatuan alam yang ditempelkan pada dinding dan lantainya hingga menyerupai bentol-bentol, seperti gigitan nyamuk.

Dari puncak bukit itu setiap Subuh dapat terlihat dengan jelas puncak Gunung Gede sebelum tertutup halimun. Di sanalah sang Proklamator acapkali mencari ilham untuk pidato-pidatonya.

PRESIDEN KEBAPAKAN POLIGAMIS

"Kami sering diundang untuk berakhir pekan di Istana Cipanas," kenang Firman Arifin, Di sana semua tamu membaur. Presiden Sukarno senantiasa menyempatkan diri bercengkrama dengan anak-anak. Kami selalu disapa satu persatu."

"Dalam foto yang masih saya simpan, Ayah, Mamih dan anak-anak sedang berlibur ke Istana Cipanas atas undangan Presiden Sukarno. Kakak saya, Addy tampak meringis karena habis dicacar. Dia jadi tidak bisa bermain dengan anak-anak lain karena masih demam," tambah Ratna Qomariah Arifin.

Sementara itu, kedekatan Presiden Sukarno dengan para kiai sempat mengalami pasang surut, khususnya pada 1953 saat Sukarno meminta kiai-kiai NU untuk merestuinya mengambil istri kedua, Hartini. Seorang janda berusia 28 tahun beranak lima. Tahun 1952 di Salatiga, Hartini berkenalan dengan Sukarno yang rupanya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat itu Presiden sedang dalam perjalanan menuju Yogyakarta untuk meresmikan Masjid Syuhada.

DEMO PEREMPUAN DAN SERANGAN MEDIA

Historia.id mengutip: 

"Hubungan awal mereka pakai inisial nama Srihana dan Srihani untuk bersurat. Hubungan Bung Karno dan Hartini lantas di blow up ke publik oleh suratkabar Indonesia Raya,” ujar Arifin Suryo Nugroho, penulis buku Srihana-Srihani: Biografi Hartini Sukarno, kepada Historia. Berita ini menjadi isu panas selama sebulan lebih di Indonesia Raya.

Kebetulan peristiwanya senyampang dimulainya pemerintah Kabinet Ali Sastroamijoyo I dimana Zainul Arifin duduk sebagai Waperdam. Desas-desusnya Arifin kiai yang menikahkan pasangan menghebohkan ini. Padahal menurut  Kiai Saifuddin Zuhri dalam otobiografi, Berangkat Dari Pesantren yang menikahkan Bung Karno dengan Bu Hartini adalah H. Djunaidi, ayahanda Mahbub Djunaidi.

DIKECAM ALI DAN HATTA

Pernikahan Sukarno dengan Hartini mendapat kecaman dari wapres Mohammad Hatta dan Perdana Menteri Ali Sastroamijoyo sebagaimana dinukil harian Republika. Hingga Sukarno lengser, hubungan-hubungan itu tidak pernah pulih kembali. Di sisi lain, KH Zainul Arifin serta kiai-kiai lain dijadikan penasehat-penasehat kepercayaan Presiden. Beberapa kali Sukarno meminta izin untuk menikah lagi dengan alasan, "Agar tidak berzinah."

Padahal, pada saat bersamaan, Hartini yang sudah mengambil alih peran Ibu Negara mulai didekati PKI.
Menurut Legge dilansir Historia.id, Hartini merupakan pendamping terpenting Sukarno selama era Demokrasi Terpimpin. Sejak 1955, Hartini telah berkembang secara politik. Semula dia hanya berada di belakang layar. Menjelang dekade 1960-an, Hartini berusaha keras melayani Sukarno sebaik-baiknya, menjadi istri sekaligus teman politiknya. Hartini dicatat pernah dekat dengan Gerwani, sayap organisasi perempuan PKI.

KONFERENSI ALIM ULAMA

Istana Cipanas juga memberikan kenangan khusus bagi KH Zainul Arifin karena dia dan menteri agama KH Masykur berinisiatif melaksanakan Konferensi Ulama pada 3 - 6 Maret 1954 di Istana Cipanas yang menghasilkan pemberian gelar Waliyy al Amri (Pemegang Pemerintahan), adl Dlaruri bi Asy Syaukah (dalam keadan darurat, belum dipilih rakyat), Bi asy syaukah (yang memegang kekuasaan) bagi Presiden Sukarno. Konferensi ini sebagai salah satu upaya meredam pemberontakan-pemberontakan DI/TII. Wakil Perdana Menteri KH Zainul Arifin kemudian menegaskan bahwa, "Presiden, pemerintah dan parlemen adalah walhiyul amri dlaruri bis syaukah yang harus dipatuhi. Bagi yang memberontak hukumnya sudah jelas."


Friday, October 15, 2021

KH ZAINUL ARIFIN IKUT ROMBONGAN PRESIDEN SUKARNO KE THAILAND

Ario Helmy

Tanggal 13 Oktober, 4 tahun lalu raja Thailand Bhumibol Adulyadej mangkat setelah memerintah selama 70 tahun. Sang Raja yang naik tahta sejak 1946 ini berpulang dalam usia lanjut, 88 tahun. Sebagai Kepala Negara satu-satunya di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah bangsa asing ini, Paduka Raja sangat dicintai rakyatnya. Adulyadej juga merupakan sahabat Presiden Sukarno.

DIJAMU RAJA
.
KH Zainul Arifin, selaku Ketua DPR-GR dari Partai NU, disertai istrinya, Nyai Hamdanah Arifin, pernah bertemu dengan Raja Bhumibol saat ikut dalam rombongan Presiden Sukarno berkunjung kenegaraan ke Negeri Gajah Putih itu. Kunjungan tersebut sebagai balasan atas kedatangan Raja berjuluk Rama X itu pada tahun 1957 dan 1960. Rombongan Presiden Sukarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Thailand selama 5 hari di tahun 1961 dengan tema perjalanan muhibah: "Membawa USDEK ke Empat Benua". 

Hari Minggu, 16 April 1961 rombongan tiba di bandara Don Mueang dan disambut langsung oleh Raja Bhumibol. Setelah memeriksa Barisan Kehormatan, Raja kemudian memperkenalkannya ke pejabat-pejabat pemerintahan dan anggota Korps Diplomatik. Dari Bandara rombongan dikawal pasukan berkuda menuju Istana Agung Chitralada disambut oleh Walikota Bangkok. 

SANTAP SIANG DI ATAS PERAHU

Di Istana diselenggarakan jamuan kenegaraan dimana Sukarno memperkenalkan para menteri yang mendampinginya termasuk Wakil Menteri Pertama (Wampa) Ketua DPRGR KH Zainul Arifin.  Perjamuan diisi acara hiburan berupa pertunjukkan tarian klasik Thailand. Keesokan harinya Presiden dan rombongan meletakkan karangan bunga di Taman Makam Pahlawan. 

"Siangnya, rombongan Presiden dijamu lagi berupa makan siang di atas perahu kerajaan menyusuri sungai yang membelah kota Bangkok," ungkap Nyai Hamdanah. Selanjutnya, kunjungan kenegeraan termasuk mengunjungi Chiang Mai. Di sana rombongan disambut oleh Ratu Sirikit sang permaisuri yang dinikahi Raja Bhumibol tahun 1950. Keduanya bertemu dan berkenalan ketika sama-sama sedang belajar di Eropa. Sirikit adalah putri Duta Besar Thailand untuk Inggris. 

"Ratu Sirikit sangat cantik jelita dan istana-istananya beģitu megah berlapis emas," kenang Hamdanah pula.Sebelum meninggalkan Bangkok, Presiden Sukarno mengadakan jamuan balasan bagi Raja dan Permaisuri.

Rakyat Thailand begitu menghormati Presiden Sukarno mereka membuatkan patung lilin Bapak Proklamator sebagai atraksi di Museum Madam Tussaud, Bangkok.

(Sumber: ANRI Arsip Non Kertas)

Wednesday, August 18, 2021

KH Zainul Arifin Ikut Langlang Buana Dengan Sukarno

Saya duduk di kursi paling kiri, persis di depan monitor pesawat pemirsa kaset VCR berisi rekaman reel kuno mengenai kunjungan Presiden Sukarno ke sepuluh negara peserta Konferensi Asia Afrika di Bandung 1955. Di tengah ruangan duduk petugas pembawa arsip non-kertas yang juga tekun memandang ke layar monitor. Di sebelahnya, petugas pemutar VCR menanyakan kecepatan film sambil menerangkan cara mencatat potongan film berdasarkan hitungan menit untuk kepentingan dokumentasi. Saya ingin mencari bukti bahwa: kakek saya, pahlawan kemerdekaan nasional, Pahlawan Nasional KH Zainul Arifin 1909 - 1963 ikut dalam rombongan Presiden. Karena bukti foto-foto kuno berukuran 10R berisi kegiatan-kegiatan kunjungan Presiden ke Eropa Timur yang pernah menjadi koleksi keluarga kami hilang entah kemana, saat kami sekeluarga pindah tinggal di AS karena Ibu bertugas di sana.

Layar monitor menunjukkan film kegiatan rombongan Presiden di Maroko. Tanpa suara. Namun cukup informatif. Sebagai jeda antar negara-negara yang disinggahi ditunjukkan peta dengan gambar pesawat terbang kecil bergerak sesuai jadwal kunjungan.

"Nah, itu dia!" seru saya. Lega. Anggut (panggilan saya ke Kakek) disorot dari jarak dekat dalam acara jamuan makan siang.

"Saya ulangi, ya Pak! Sambil saya lambatkan." kata petugas pemutar film. Saya mengangguk, bersiap mencatat hitungan menit film.

Di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia berlokasi di Jl. Ampera Raya No 7, Cilandak Timur, Jakarta Selatan itu bukti-bukti sejarah siap diakses guna disunting menjadi hikayat perjalanan negeri ini menjadi suatu bangsa merdeka dan berdaulat seperti adanya sekarang ini. 

Saya sendiri sebagai biografer Anggut KH Zainul Arifin sudah bisa menambahkan dalalm edisi revisi buku Biografi KH Zainul Arifin: Berdzikir Menyiasati Angin catatan penting menjgenai perjalanan Presiden Soekarno berserta rombongan sebagai tindak lanjut dari Konferensi Asia Afrika berlangsung di Bandung dimasa pemerintahan Kabinet Ali-Arifin (1953-1955). Kunjungan ke sepuluh negara tersebut dinamai kunjungan muhibah: Membangun Jembatan Persahabatan.

Berturut-turut rombongan Presiden singgah di Bulgaria, Rumania, Austria, Mesir, Nigeria, Guinea, Maroko, Tunisia, Portugal dan Yugoslavia. Kunjungan dalam rangka pembentukan Gerkan Non Blok tersebut tidak memperoleh simpati sedikitpun dari AS yang memandangnya sebagai: "Perkumpulan negara-negara miskin."

Kemlu.go.id mencatat: 

Kunjungan Presiden Soekarno ke Rabat tanggal 2 Mei 1960 tercatat sebagai kunjungan kepala Negara pertama di dunia ke Maroko pasca kemerdekaan. Kunjungan tersebut mendapat sambutan hangat dari Raja Mohammed V dan rakyat Maroko. Presiden Soekarno dianggap sebagai Pemimpin Revolusi dunia yang membangkitkan semangat kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika. Kunjungan Presiden Soekarno ini merupakan catatan sejarah penting yang menunjukkan kedekatan antara kedua negara.

Sedangkan dari keterangan mengenai film khusus saat berlangsungnya kunjungan di Maroko saya berhasil mencatat:

Dari Guinea di Afrika Barat, rombongan menuju Maroko. Setibanya di Rabat, Presiden dan rombongan disambut Raja Muhammad dan Pangeran Mulley Hasan dengan upacara kebesaran militer. Rakyat Maroko memadati jalan-jalan dari bandara menuju Istana Villa Daressalam di mana pasukan berkuda sudah siap menyambut kedatangan Soekarno. Selanjutnya, rombongan menuju kota Makaresh di mana dilaksanakan upacara meminum susu kambing sebagai perlambang persahabatan. Di susul, jamuan kenegeraaan diadakan oleh Putra Mahkota Mulley Hasan, dimana pelaksanaannya berdasarkan tradisi setempat berupa duduk lesehan di atas karpet. di dalam tenda khas Arab. 

Baru malam harinya, diselenggrakan jamuan makan yang lebih formal oleh Raja Muhammad yang dilanjutkan bagian terpenting kunjungan berupa penandatanganan persetujuan berdasar prinsip Dasa Sila Bandung. Keesokan harinya, rombongan Presiden melanjutkan perjalanan menuju, Lisbon, Portugal.

Thursday, July 22, 2021

SUKARNO BICARA TENTANG PERISTIWA PENEMBAKAN IDUL ADHA 14 MEI 1962

 
Oleh: Ario Helmy

Saat Sukarno berpidato di Istora Senayan, Jakarta pada 21 Desember 1965,  diungkap bagaimana dirinya mengalami percobaan pembunuhan sampai sebanyak empat kali. Satu percobaan pembunuhan yang secara khusus disinggung Sukarno dalam pidatonya itu adalah peristiwa tragedi sholat Idul Adha yang berlangsung 14 Mei 1962 di halaman rumput antara Istana Negara dan Istana Merdeka. 

KENA PELURU NYASAR

Pagi itu Sukarno bersembahyang di saf terdepan bersama-sama beberapa pejabat tinggi dan tertinggi Negara termasuk Ketua DPR KH Zainul Arifin. 

Usai ruku' di rakaat dua, senyampang imam sholat Ketua PBNU ketika itu, KH Idham Chalid hendak bertakbirratul ihram, terdengar beberapa tembakan peluru dari arah jamaah di saf keempat. Seketika suasana sempat berubah menjadi kepanikan. Seturut para petugas pasukan kawal presiden melakukan upaya penyelamatan kepala negara, KH Zainul Arifin malah tersungkur ke atas sajadah dengan dada berlumur darah  berasal dari bahu kirinya yang terkena serempetan peluru. 

"Syukur alhamdullilah, saya dalam semua peristiwa itu dilindungi oleh Tuhan. Kalau tidak, tentu saya sudah mati terbunuh. Dan mungkin, akan saudara namakan tragedi nasional," ucap Soekarno dalam pidatonya di Istora Senayan tersebut.

BERTAHAN SEPULUH BULAN

Presiden pertama RI selamat dari percobaan pembunuhan di tempat terbuka itu, namun KH Zainul Arifin sejak itu harus keluar masuk rumah sakit karena kesehatannya yang jadi terganggu. 

Sepuluh bulan sesudahnya, 2 Maret 1963, Zainul Arifin wafat hanya seminggu setelah Idul Fitri 1382 H. Ketika Presiden Sukarno datang melayat ke rumah duka di Jl. Cikini Raya 48, Menteng, Jakarta Pusat, Hamdanah Abdurrahim janda Zainul Arifin menangis di dada Presiden mengucap, "Suami saya tidak pernah sembuh lagi sejak kena tembakan di lapangan Istana."

Sukarno menengadahkan mukanya senyampang menahan keharuan dari balik kacamata hitamnya. 

(Foto-Foto: Pelepasan jenazah KH Zainul Arifin dari rumah duka di Jl. Cikini Raya 48, Menteng, Jakarta Pusat dan Persian Upacara pemakaman di TMPN Kalibata, Jakarta Selatan)