Total Pageviews

Showing posts with label sukarno. Show all posts
Showing posts with label sukarno. Show all posts

Monday, December 26, 2022

KH ZAINUL ARIFIN DAN PRESIDEN SUKARNO KE ITALIA DAN SOWAN PAUS

Ario Helmy

Dalam rangkaian perjalanan panjang antara negara-negara Blok Barat dan Blok Timur pada 1956, dari benua Amerika, rombongan kenegaraan RI menuju Italia, negara Eropa pertama dikunjungi presiden pertama Indonesia, Sukarno. Di negara itu, rombongan mengadakan kunjungan resmi kenegaraan, termasuk pula acara audiensi 30 menit dengan Sri Paus di Tahta Suci Vatican, selama seminggu, 10 - 17 Juni 1956.

Menurut Willem Oltmans wartawan koran Belanda paling terkemuka De Telegraaph dalam bukunya, "Sukarno Sahabatku" (Pustaka Harapan, 2001), Kerajaan Belanda sangat kecewa karena sekutu pentingnya di NATO dan MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa) menyambut musuh Belanda Sukarno dengan penuh penghormatan. Belanda tahu betul kalau perjalanan lintas benua rombongan kenegaraan bekas jajahannya itu utamanya dalam rangka menggalang dukungan di PBB guna membebaskan Irian Barat dari cengkraman Belanda. 

KUNCI EMAS

Rombongan kepresidenan mendarat di bandara Ciampino di ibukota Roma pada 10 Juni 1956. Presiden Italia, Giovanni Gronchi menghelat upacara kehormatan kenegaraan dalam menyambut mitranya dari negara Asia Tenggara yang baru 10 tahun merdeka itu. 

Kemudian dari atas mobil terbuka rombongan memasuki kota Roma dimana masyarakat setempat berderet di sepanjang jalan ikut menyambut. Berikutnya, arak-arakan berhenti untuk menerima sambutan walikota Roma, Salvatore Rebochini yang menyerahkan kunci emas kota sebagai pengakuan pada Sukarno sebagai warga kehormatan. 

Dari situ pasukan pengiring Tamu Negara berganti dengan pasukan berkuda yang mengawal Sukarno dan rombongan menuju penginapan Castel Gandolfo yang adalah kediaman resmi musim panas Paus di Kota Roma. 

Begitu megahnya sambutan pemerintah Italia terhadap rombongan Sukarno, pemerintah Belanda menyerukan koran-koran Belanda untuk tidak memuat berita mengenainya. 

DARI SENI HINGGA MILITER

Jadwal kunjungan Presiden Sukarno dan rombongan selama 7 hari berlangsung padat. Sebagai pecinta seni, tuan rumah menyiapkan perjalanan-perjalanan yang meliputi kunjungan ke museum2 sejarah dan seni yang sangat di nikmati Tamu Negara. 

Tidak ketinggalan, peninjauan ke pabrik mobil Fiat yang kala itu merupakan pabrik mobil terbesar di dunia setelah General Motors dan Ford di AS. 

Presiden Sukarno juga diantar ke Naples guna menyaksikan perkembangan teknologi pembuatan kapal-kapal perlengkapan Angkatan Laut. 

CIUM CINCIN

Bambang Wijanarko dari Dewan Keamanan Presiden (DKP) tampak membungkuk di hadapan Paus Pius XII dan mencium cincin Bapa Suci dalam video acara audiensi rombongan kenegaraan RI ke Tahta Suci di Kota Vatikan. Presiden memperkenalkan Wijarnako sebagai penganut Katolik. Sedangkan Dr. J. Leimena diperkenalkan sebagai pemeluk Kristen. Sukarno sendiri adalah presiden Muslim dari negara mayoritas Muslim pertama yang diterima Paus. Tidak ketinggalan, Sukarno memperkenalkan KH Zainul Arifin sebagai tokoh Muslim terkemuka Indonesia. Paus Pius XII menganugerahi Presiden dengan medali tertinggi kepausan, Order of Pope. Sedangkan seluruh anggota rombongan menerima medali kepausan. 

Dari Italia, rombongan menuju Jerman mengendara kereta api. Membuat Kerajaan Belanda tambah masygul karena sekutunya yang inipun menyambut Sukarno dengan penuh penghormatan.




Saturday, August 28, 2021

PANAS DINGIN DI MASJID BIRU

(Ario Helmy)

Menyongsong bulan KH Zainul Arifin (Kahaza) beberapa hari lagi, bertepatan dengan peringatan hari lahir Kahaza ke 112 pada 2 September 2021, kerabat dari Kerukunan Keluarga Besar Sutan Syahi Alam Pohan (KKBSSAP) membagikan foto-foto perjalanan mereka mengunjungi Masjid Biru Soekarno di kota Saint Petersburg, Rusia, yang pernah dikunjungi Kahaza dan Presiden Soekarno pada 1956. Asye Amir Hamzah dan Deddy Zulbadri berkesempatan berkunjung ke Saint Petersburg selang dua tahun dalam musim berbeda.

PANAS DAN DINGIN

Kalau Asye Amir Hamzah yang kemenakan KH Zainul Arifin, mengunjungi Masjid Sukarno di musim panas, Deddy Zulbadri dan istrinya Yuli yang merupakan cucu kemenakan menapak tilas ke sana pada musim dingin. Mereka sama-sama mengagumi kemegahan dan keindahan Masjid Agung kota Saint Peter itu.

"Saya menyempatkan diri mengunjungi Masjid Biru sekira 2 tahun lalu. Musim panas," cerita Asye, "Sungguh pengalaman yang sangat berharga bisa menapak tilas ke sana."

Deddy dan istrinya Yuliani Siswohartono (Yuli) berkunjung ke Masjid Sukarno 2 tahun sebelumnya, tahun 2017.

"Setelah berkeliling Kota Moscow, kami menyempatkan diri ke Saint Petersburg dan menyambangi Masjid Biru Sukarno, " kenang Yuli, "Sayang waktu itu Masjid sedang ditutup sementara karena sedang direnovasi. Jadi kami tidak bisa masuk dan solat di dalamnya."

"Bagaimanapun sebagai sesama keturunan Sutan Syahi Alam Pohan dari Barus, kamipun merasa sangat bangga bisa menyaksikan sendiri Masjid Agung yang pernah didatangi Presiden Sukarno dan Angku Zainul Arifin. " Deddy menambahkan.

 









Wednesday, August 18, 2021

KH Zainul Arifin Ikut Langlang Buana Dengan Sukarno

Saya duduk di kursi paling kiri, persis di depan monitor pesawat pemirsa kaset VCR berisi rekaman reel kuno mengenai kunjungan Presiden Sukarno ke sepuluh negara peserta Konferensi Asia Afrika di Bandung 1955. Di tengah ruangan duduk petugas pembawa arsip non-kertas yang juga tekun memandang ke layar monitor. Di sebelahnya, petugas pemutar VCR menanyakan kecepatan film sambil menerangkan cara mencatat potongan film berdasarkan hitungan menit untuk kepentingan dokumentasi. Saya ingin mencari bukti bahwa: kakek saya, pahlawan kemerdekaan nasional, Pahlawan Nasional KH Zainul Arifin 1909 - 1963 ikut dalam rombongan Presiden. Karena bukti foto-foto kuno berukuran 10R berisi kegiatan-kegiatan kunjungan Presiden ke Eropa Timur yang pernah menjadi koleksi keluarga kami hilang entah kemana, saat kami sekeluarga pindah tinggal di AS karena Ibu bertugas di sana.

Layar monitor menunjukkan film kegiatan rombongan Presiden di Maroko. Tanpa suara. Namun cukup informatif. Sebagai jeda antar negara-negara yang disinggahi ditunjukkan peta dengan gambar pesawat terbang kecil bergerak sesuai jadwal kunjungan.

"Nah, itu dia!" seru saya. Lega. Anggut (panggilan saya ke Kakek) disorot dari jarak dekat dalam acara jamuan makan siang.

"Saya ulangi, ya Pak! Sambil saya lambatkan." kata petugas pemutar film. Saya mengangguk, bersiap mencatat hitungan menit film.

Di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia berlokasi di Jl. Ampera Raya No 7, Cilandak Timur, Jakarta Selatan itu bukti-bukti sejarah siap diakses guna disunting menjadi hikayat perjalanan negeri ini menjadi suatu bangsa merdeka dan berdaulat seperti adanya sekarang ini. 

Saya sendiri sebagai biografer Anggut KH Zainul Arifin sudah bisa menambahkan dalalm edisi revisi buku Biografi KH Zainul Arifin: Berdzikir Menyiasati Angin catatan penting menjgenai perjalanan Presiden Soekarno berserta rombongan sebagai tindak lanjut dari Konferensi Asia Afrika berlangsung di Bandung dimasa pemerintahan Kabinet Ali-Arifin (1953-1955). Kunjungan ke sepuluh negara tersebut dinamai kunjungan muhibah: Membangun Jembatan Persahabatan.

Berturut-turut rombongan Presiden singgah di Bulgaria, Rumania, Austria, Mesir, Nigeria, Guinea, Maroko, Tunisia, Portugal dan Yugoslavia. Kunjungan dalam rangka pembentukan Gerkan Non Blok tersebut tidak memperoleh simpati sedikitpun dari AS yang memandangnya sebagai: "Perkumpulan negara-negara miskin."

Kemlu.go.id mencatat: 

Kunjungan Presiden Soekarno ke Rabat tanggal 2 Mei 1960 tercatat sebagai kunjungan kepala Negara pertama di dunia ke Maroko pasca kemerdekaan. Kunjungan tersebut mendapat sambutan hangat dari Raja Mohammed V dan rakyat Maroko. Presiden Soekarno dianggap sebagai Pemimpin Revolusi dunia yang membangkitkan semangat kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika. Kunjungan Presiden Soekarno ini merupakan catatan sejarah penting yang menunjukkan kedekatan antara kedua negara.

Sedangkan dari keterangan mengenai film khusus saat berlangsungnya kunjungan di Maroko saya berhasil mencatat:

Dari Guinea di Afrika Barat, rombongan menuju Maroko. Setibanya di Rabat, Presiden dan rombongan disambut Raja Muhammad dan Pangeran Mulley Hasan dengan upacara kebesaran militer. Rakyat Maroko memadati jalan-jalan dari bandara menuju Istana Villa Daressalam di mana pasukan berkuda sudah siap menyambut kedatangan Soekarno. Selanjutnya, rombongan menuju kota Makaresh di mana dilaksanakan upacara meminum susu kambing sebagai perlambang persahabatan. Di susul, jamuan kenegeraaan diadakan oleh Putra Mahkota Mulley Hasan, dimana pelaksanaannya berdasarkan tradisi setempat berupa duduk lesehan di atas karpet. di dalam tenda khas Arab. 

Baru malam harinya, diselenggrakan jamuan makan yang lebih formal oleh Raja Muhammad yang dilanjutkan bagian terpenting kunjungan berupa penandatanganan persetujuan berdasar prinsip Dasa Sila Bandung. Keesokan harinya, rombongan Presiden melanjutkan perjalanan menuju, Lisbon, Portugal.

Thursday, July 22, 2021

SUKARNO BICARA TENTANG PERISTIWA PENEMBAKAN IDUL ADHA 14 MEI 1962

 
Oleh: Ario Helmy

Saat Sukarno berpidato di Istora Senayan, Jakarta pada 21 Desember 1965,  diungkap bagaimana dirinya mengalami percobaan pembunuhan sampai sebanyak empat kali. Satu percobaan pembunuhan yang secara khusus disinggung Sukarno dalam pidatonya itu adalah peristiwa tragedi sholat Idul Adha yang berlangsung 14 Mei 1962 di halaman rumput antara Istana Negara dan Istana Merdeka. 

KENA PELURU NYASAR

Pagi itu Sukarno bersembahyang di saf terdepan bersama-sama beberapa pejabat tinggi dan tertinggi Negara termasuk Ketua DPR KH Zainul Arifin. 

Usai ruku' di rakaat dua, senyampang imam sholat Ketua PBNU ketika itu, KH Idham Chalid hendak bertakbirratul ihram, terdengar beberapa tembakan peluru dari arah jamaah di saf keempat. Seketika suasana sempat berubah menjadi kepanikan. Seturut para petugas pasukan kawal presiden melakukan upaya penyelamatan kepala negara, KH Zainul Arifin malah tersungkur ke atas sajadah dengan dada berlumur darah  berasal dari bahu kirinya yang terkena serempetan peluru. 

"Syukur alhamdullilah, saya dalam semua peristiwa itu dilindungi oleh Tuhan. Kalau tidak, tentu saya sudah mati terbunuh. Dan mungkin, akan saudara namakan tragedi nasional," ucap Soekarno dalam pidatonya di Istora Senayan tersebut.

BERTAHAN SEPULUH BULAN

Presiden pertama RI selamat dari percobaan pembunuhan di tempat terbuka itu, namun KH Zainul Arifin sejak itu harus keluar masuk rumah sakit karena kesehatannya yang jadi terganggu. 

Sepuluh bulan sesudahnya, 2 Maret 1963, Zainul Arifin wafat hanya seminggu setelah Idul Fitri 1382 H. Ketika Presiden Sukarno datang melayat ke rumah duka di Jl. Cikini Raya 48, Menteng, Jakarta Pusat, Hamdanah Abdurrahim janda Zainul Arifin menangis di dada Presiden mengucap, "Suami saya tidak pernah sembuh lagi sejak kena tembakan di lapangan Istana."

Sukarno menengadahkan mukanya senyampang menahan keharuan dari balik kacamata hitamnya. 

(Foto-Foto: Pelepasan jenazah KH Zainul Arifin dari rumah duka di Jl. Cikini Raya 48, Menteng, Jakarta Pusat dan Persian Upacara pemakaman di TMPN Kalibata, Jakarta Selatan)

Tuesday, September 4, 2018

LANGLANG BUANA:ANTARA AS DAN US(1)

Oleh: Ario Helmy
KH Zainul Arifin ikut serta dalam rombongan Presiden Sukarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat sebanyak dua kali: pada tahun 1956 dan tahun 1960. Kedua lawatan berlangsung selama masa pemerintahan Presiden AS ke 34, Dwight D. "Ike" Eisenhower ditengah-tengah berlangsungnya Perang Dingin antara kubu Amerika Serikat (AS) dan Kubu Uni Soviet (US). Kunjungan pertama bermaksud untuk menjelaskan sikap Indonesia yang lebih memilih untuk tidak memilih di antara ke dua kubu berseberangan itu, non-blok. Sedangkan kunjungan tahun 1960 beragenda utama Pidato Sukarno di depan Sidang Umum PBB bertujuan menggalang dukungan untuk Pembebasan Irian Barat (kini Papua). Meski kedua kunjungan tidak terlalu berhasil secara politis, namun secara psikologis penampilan Sukarno di Negeri Paman Sam tersebut berhasil mencuri perhatian publik Amerika lewat liputan media massa yang gegap gempita.

LIMA BULAN "ROAD SHOW"

Sepanjang tahun 1956, rombongan Presiden Sukarno menghabiskan sekira 5 bulan langlang buana untuk kepentingan menyampaikan hasil-hasil Konferensi Asia Afrika yang berlangsung sukses di Bandung, setahun berselang. Selain itu, rombongan bermaksud untuk melihat dari dekat keadaan sebenarnya dari bangsa-bangsa yang berkelompok terpisah masing-masing dalam kubu AS dan kubu Uni Soviet. Perjalanan muhibah pertama berlangsung dari pertengahan Mei hingga akhir Juni 1956 meliputi kunjungan ke: Amerika Serikat, Kanada, Italia, Tahta Suci Vatican, Jerman, dan Swiss.
Rombongan tiba di AS 16 Mei 1956 dan menghabiskan 19 hari kunjungan. Pembicaraan bilateral antara Sukarno dan Eisenhower tidak berlangsung mulus karena pemerintahan Eisenhower yang sangat membenci komunisme (baca: Uni Soviet) keburu curiga negara-negara di kawasan Asia Tenggara cenderung condong ke Uni Soviet. Menteri Luar Negeri, John Dulles dengan tajam menyatakan sikap netral adalah suatu sikap yang "tidak bermoral". Dikecam begitu rupa, Sukarno masih saja menunjukkan sikap bersahabat namun tetap tegas.
Pembawaan Presiden Indonesia yang anggun ini kemudian merebut perhatian media massa dan rakyat AS pun terpesona atas kharisma Sukarno. Majalah TIME memuat gambar Sukarno di halaman sampul, sementara majalah LIFE memuat gambar-gambar intim saat rombongan Presiden melakukan shalat di Mesjid di Washington DC. Bukan itu saja, kehangatan Sukarno sebagai Bapak ditampilkan lewat penampilan foto-fotonya bercengkerama dengan putra sulungnya, Guntur Sukarnoputra yang waktu itu baru berusia 12 tahun di Disneyland, Annaheim, California. Ajang wahana permainan keluarga yang baru dibuka setahunsebelumnya.
Ditambah lagi dengan acara jamuan makan di Hollywood yang menghasilkan foto Presiden dengan Gadis Sampul majalah Playboy pertama dan artis film paling terkenal di dunia pada masa itu: Marilyn Monroe, tampak begitu glamor. Presiden Sukarno juga berpidato di depan Kongres AS dan menerima gelar kehormatan Doktor (Honoris Causa) dari Universitas Columbia di New York.
Zainul Arifin ikut serta dalam rombongan dalam kapasitas sebagai tokoh Partai NU dan bagian dari Kabinet Ali-Arifin penyelenggara Konferensi Asia Afrika serta sebagai Wakil Ketua DPR hasil Pemilu Perdana Indonesia yang dipuji-puji pemerintah AS karena berlangsung tertib dan aman. Berbeda dengan kunjungan ketika mengikuti rombongan Presiden Sukarno ke Uni Soviet yang memuat sebuah wawancara tentang kehidupan orang-orang Islam di Negeri Beruang Merah, selama di AS tidak ditemukan catatan mengenai komentar Arifin ke media massa. Namun beberapa foto masih dapat dilacak, berupa foto-foto ketika bersama Sukarno melakukan sholat di Mesjid dan Islamic Center yang diresmikan sendiri oleh Presiden Eisenhower pada 1954. Foto lain menunjukkan Zainul bergambar bersama mahasiswa Universitas Columbia saat menyaksikan Sukarno dianugerahi gelar DR (Honoris Causa) bidang hukum.
Sebelum meninggalkan benua Amerika, rombongan Presiden Sukarno menyempatkan diri mengunjungi Kanada. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menuju Eropa Barat meliputi: Italia, Tahta Suci Vatican, Jerman dan akhirnya Swiss. Di negeri Coklat dan Jam Swiss, Zainul Arifin berkesempatan bertemu dan berfoto bersama putra sulungnya, BS Arifin yang kala itu sedang menyelesaikan pendidikan doktoralnya di bidang Ekonomi. Di kemudian hari, BS Arifin bekerja di Departemen Luar Negeri dengan jabatan terakhir sebagai Sekjen HELN (Hubungan Ekonomi Luar Negeri). BS Arifin dimasa hidupnya pernah tiga kali diutus pemerintah RI menjadi Duta Besar masing-masing di Kerajaan Iran (semasa Shah Iran berkuasa), Kerajaan Inggris dan akhirnya di Swiss.
Rombongan kembali ke tanah air akhir Juni 1956, Sekira dua bulan kemudian, dalam kurun 26 Agustus hingga 16 Oktober 1956, KH Zainul Arifin termasuk dalam rombongan kenegaraan Presiden Sukarno menjelajahi: Uni Soviet, Austria, Cekoslowakia dan Mongolia. Lagi-lagi Presiden Sukarno sukses menyita simpati masyarakat negeri-negeri Komunis. Tapi ceritanya sudah berbeda pula.