Siang itu, pintu gerbang rumah di Jalan Cikini Raya nomor 48,
Menteng, Jakarta Pusat tidak terkunci. Dengan mudah kumasuki halaman
depan yang puluhan tahun silam pernah menjadi tempatku bermain. Pendapa
di depan ruang tamu utama sudah tidak ada lagi. Ruang tamu saja yang
belum berubah,ruangan tempat Kakek, KH Zainul Arifin menikahkan Ibu ke
Ayah. Di situ juga ruang tempatku merayakan ulang tahun ke sembilan. Di
ruangan yang sama jenazah KH Zainul Arifin pernah dibaringkan sebelum
dimakamkan. Ke sanalah Presiden Sukarno bertakziah kepada keluarga besar
yang ditinggalkan. Kakek wafat saat masih aktif menjabat ketua DPRGR
merangkap sebagai Wakil Menteri Pertama (Wampa), pada 2 Maret 1963 di
pengujung era Demokrasi Terpimpin.
"Ada perlu apa, Pak?"
tiba-tiba saja lelaki itu muncul dari arah belakang rumah. Ketika aku
sedang asyik meminta tolong Andhika yang menemaniku untuk mengambil
beberapa foto di halaman depan rumah yang kelihatan sudah sangat tua dan
tidak terurus itu.
"Oh, maaf, saya kira rumah ini kosong.
Saya hanya mau melihat-lihat," jawabku. Beberapa jenak bapak tadi
memandangiku dari atas ke bawah. Wajahnya seperti ingin bilang, "Tinggal
15 langkah lagi ada Taman Ismail Marzuki. Kalau Anda beruntung, bisa
melihat-lihat pameran lukisan."
"Ini rumah orang penting,
Pak!" akhirnya itu yang keluar dari mulutnya, "Tentara yang punya.
Biasanya di jaga."
"Oh, begitu ya. Dulu waktu masih kecil
saya suka main di sini. Boleh ya saya foto-foto sebentar," gaya bicaraku
kutekan jangan sampai serupa gaya bicara Satpol PP. (Bagaimana pulakah
itu gerangan?). Meskipun sang Bapak mulai kelihatan tidak seketus tadi
dan belum bernuansa ingin mengusir, namun tetap saja tekukan rona
wajahnya memastikan aku untuk faham kalau kesabarannya bisa
sewaktu-waktu habis. Bisa jadi juga itu cuma perasaanku saja.
"Bapak
tinggal di sini?" tanyaku.
"Ya. Di belakang sana,"
angguknya mengarah ke belakang rumah yang dulunya garasi. Beberapa rumah
petak berjajar, seperti rumah-rumah kontrakan, lengkap dengan jemuran
yang sudah nyaris kering sempurna berjajar terpanggang mentari jam makan
siang. Dia diam saja, tapi terus mengiringi saya melongok ke paviliun
rumah, yang bagian dalamnya sudah melompong tidak bersekat. Mirip gudang
dengan aneka sampah beronggok di sana-sini.
"Bapak,
siapa?" tanyanya lagi.
"Saya Ario. Cuma mau
melihat-lihat." Sukurlah tidak sampai ditanyanya KTP dan Kartu Keluarga.
Atau surat jalan, surat penugasan. Dari rumah tadi aku memang niat
menapak tilasi rumah ini. Aku yakin ada yang bakal masih bisa kukenali
dari rumah Kakek. Tidak terbayang kalau ternyata rumah ini yang malah
sudah lupa padaku.
Aku menoleh ke kanan ke arah ruang
tamu. Agak melongok ke dalam. Tidak berani terlalu kelihatan bahwa aku
sedang "memeriksa". Takut Bapak benar-benar "The End" kesabarannya.
"Di
ujung sana, ada ruang kecil tempat kerja Kakek, Dhik. Waktu Bung Karno
takziah, dia masuk ke ruangan itu dengan petinggi-petinggi DPRGR. Saat
itu juga diadakan pemilihan Ketua DPRGR baru pengganti Zainul Arifin.
Yang terpilih Wakil Ketua Aruji Kartawinata," ujarku lancar pada Andhika
yang cuma termangu. Teringat penglaman bersin-bersin karena penyakit
sinusitisku kambuh waktu melakukan riset dan menemukan data tersebut di
Lantai 8 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Salemba Raya. Koran
tua
Duta Masyarakat tertanggal 4 Maret 1963
sudah kecoklatan dan nyaris jadi bubur ketika petugas mengangkatnya
untuk memfoto kopi seperti permintaanku.
"Yang juga unik.
Kakek ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional juga di rumah ini, sebelum
ada SK-nya." lanjutku.
"Saya tetapkan Zainul Arifin
sebagai Pahlawan Nasional dan jasadnya untuk di kuburkan di Taman Makam
Pahlawan Nasional Kalibata," lisan Presiden Sukarno ketika melepas
jenazah ke Kalibata.
Zainul Arifin wafat pada 2 Maret 1963
pagi di RSPAD, Gatot Subroto, hari Sabtu. Dikuburnya juga pada hari
libur, Minggu, hari ketujuh setelah Hari Idul Fitri pula. Jadilah SK
Pahlawan Nasionalnya baru ditandatangani Presiden pada Senin, 4 Maret
1963.
Bapak pengawas (karena kerjanya mengawasiku terus)
itu tetap saja tidak "nyambung" antara mendengar dan tidak mendengar.
"Terimakasih,
Pak. Saya sudah boleh lihat-lihat, " akupun langsung mohon diri. Bapak
hanya mengangguk. Akhirnya...