Total Pageviews

Tuesday, September 4, 2018

SAMPUL BUKU BIOGRAFI KH ZAINUL ARIFIN POHAN (Edisi Revisi)




LANGLANG BUANA:ANTARA AS DAN US(1)

Oleh: Ario Helmy
KH Zainul Arifin ikut serta dalam rombongan Presiden Sukarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat sebanyak dua kali: pada tahun 1956 dan tahun 1960. Kedua lawatan berlangsung selama masa pemerintahan Presiden AS ke 34, Dwight D. "Ike" Eisenhower ditengah-tengah berlangsungnya Perang Dingin antara kubu Amerika Serikat (AS) dan Kubu Uni Soviet (US). Kunjungan pertama bermaksud untuk menjelaskan sikap Indonesia yang lebih memilih untuk tidak memilih di antara ke dua kubu berseberangan itu, non-blok. Sedangkan kunjungan tahun 1960 beragenda utama Pidato Sukarno di depan Sidang Umum PBB bertujuan menggalang dukungan untuk Pembebasan Irian Barat (kini Papua). Meski kedua kunjungan tidak terlalu berhasil secara politis, namun secara psikologis penampilan Sukarno di Negeri Paman Sam tersebut berhasil mencuri perhatian publik Amerika lewat liputan media massa yang gegap gempita.

LIMA BULAN "ROAD SHOW"

Sepanjang tahun 1956, rombongan Presiden Sukarno menghabiskan sekira 5 bulan langlang buana untuk kepentingan menyampaikan hasil-hasil Konferensi Asia Afrika yang berlangsung sukses di Bandung, setahun berselang. Selain itu, rombongan bermaksud untuk melihat dari dekat keadaan sebenarnya dari bangsa-bangsa yang berkelompok terpisah masing-masing dalam kubu AS dan kubu Uni Soviet. Perjalanan muhibah pertama berlangsung dari pertengahan Mei hingga akhir Juni 1956 meliputi kunjungan ke: Amerika Serikat, Kanada, Italia, Tahta Suci Vatican, Jerman, dan Swiss.
Rombongan tiba di AS 16 Mei 1956 dan menghabiskan 19 hari kunjungan. Pembicaraan bilateral antara Sukarno dan Eisenhower tidak berlangsung mulus karena pemerintahan Eisenhower yang sangat membenci komunisme (baca: Uni Soviet) keburu curiga negara-negara di kawasan Asia Tenggara cenderung condong ke Uni Soviet. Menteri Luar Negeri, John Dulles dengan tajam menyatakan sikap netral adalah suatu sikap yang "tidak bermoral". Dikecam begitu rupa, Sukarno masih saja menunjukkan sikap bersahabat namun tetap tegas.
Pembawaan Presiden Indonesia yang anggun ini kemudian merebut perhatian media massa dan rakyat AS pun terpesona atas kharisma Sukarno. Majalah TIME memuat gambar Sukarno di halaman sampul, sementara majalah LIFE memuat gambar-gambar intim saat rombongan Presiden melakukan shalat di Mesjid di Washington DC. Bukan itu saja, kehangatan Sukarno sebagai Bapak ditampilkan lewat penampilan foto-fotonya bercengkerama dengan putra sulungnya, Guntur Sukarnoputra yang waktu itu baru berusia 12 tahun di Disneyland, Annaheim, California. Ajang wahana permainan keluarga yang baru dibuka setahunsebelumnya.
Ditambah lagi dengan acara jamuan makan di Hollywood yang menghasilkan foto Presiden dengan Gadis Sampul majalah Playboy pertama dan artis film paling terkenal di dunia pada masa itu: Marilyn Monroe, tampak begitu glamor. Presiden Sukarno juga berpidato di depan Kongres AS dan menerima gelar kehormatan Doktor (Honoris Causa) dari Universitas Columbia di New York.
Zainul Arifin ikut serta dalam rombongan dalam kapasitas sebagai tokoh Partai NU dan bagian dari Kabinet Ali-Arifin penyelenggara Konferensi Asia Afrika serta sebagai Wakil Ketua DPR hasil Pemilu Perdana Indonesia yang dipuji-puji pemerintah AS karena berlangsung tertib dan aman. Berbeda dengan kunjungan ketika mengikuti rombongan Presiden Sukarno ke Uni Soviet yang memuat sebuah wawancara tentang kehidupan orang-orang Islam di Negeri Beruang Merah, selama di AS tidak ditemukan catatan mengenai komentar Arifin ke media massa. Namun beberapa foto masih dapat dilacak, berupa foto-foto ketika bersama Sukarno melakukan sholat di Mesjid dan Islamic Center yang diresmikan sendiri oleh Presiden Eisenhower pada 1954. Foto lain menunjukkan Zainul bergambar bersama mahasiswa Universitas Columbia saat menyaksikan Sukarno dianugerahi gelar DR (Honoris Causa) bidang hukum.
Sebelum meninggalkan benua Amerika, rombongan Presiden Sukarno menyempatkan diri mengunjungi Kanada. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menuju Eropa Barat meliputi: Italia, Tahta Suci Vatican, Jerman dan akhirnya Swiss. Di negeri Coklat dan Jam Swiss, Zainul Arifin berkesempatan bertemu dan berfoto bersama putra sulungnya, BS Arifin yang kala itu sedang menyelesaikan pendidikan doktoralnya di bidang Ekonomi. Di kemudian hari, BS Arifin bekerja di Departemen Luar Negeri dengan jabatan terakhir sebagai Sekjen HELN (Hubungan Ekonomi Luar Negeri). BS Arifin dimasa hidupnya pernah tiga kali diutus pemerintah RI menjadi Duta Besar masing-masing di Kerajaan Iran (semasa Shah Iran berkuasa), Kerajaan Inggris dan akhirnya di Swiss.
Rombongan kembali ke tanah air akhir Juni 1956, Sekira dua bulan kemudian, dalam kurun 26 Agustus hingga 16 Oktober 1956, KH Zainul Arifin termasuk dalam rombongan kenegaraan Presiden Sukarno menjelajahi: Uni Soviet, Austria, Cekoslowakia dan Mongolia. Lagi-lagi Presiden Sukarno sukses menyita simpati masyarakat negeri-negeri Komunis. Tapi ceritanya sudah berbeda pula.

Wednesday, September 16, 2015

NAPAK TILAS: MENGALIR SAMPAI PEJOMPONGAN

Oleh: Ario Helmy

Maket dan Model instalasi PAM Jaya di Pejompongan tampak sangat modern. Kantor penyediaan air bersih yang berdiri sejak 1920-an itu memiliki sejarah panjang. Berdiri berkat usaha Pahlawan Nasional Betawi, Muhammad Husni Thamrin, pahlawan nasional KH Zainul Arifin juga pernah berkantor di sini saat pertama kali ia tiba di Batavia pada tahun 1926.
Sebelumnya, Zainul Arifin melewati 17 tahun pertama hidupnya di Sumatera, dimana ia menamatkan HIS (Sekolah Dasar Berbahasa Belanda) dan Normaal School (Sekolah Menengah Calon Guru). Zainul Arifin kemudian merantau ke Batavia (sekarang Jakarta) dan diterima bekerja di Gementeestaat-waterleidengen van Batavia
(Perusahaan Daerah Air Minum/PDAM) yang hingga sekarang masih berkantor di Jalan Penjernihan II Pejompongan, Jakarta Pusat. Perusahaan ini berdiri berkat perjuangan putra daerah Muhammad Husni Thamrin, pahlawan asli Betawi. Sebelumnya penduduk Batavia mengambil kebutuhan air bersih dari sumur bor/artesis yang mulai disediakan pemerintah daerah (gemeente) pada 1843. Sekitar tahun 1918-1920 sebuah sumber mata air ditemukan di Ciburial daerah Ciomas, Bogor yang mampu menyediakan 484 liter perdetiknya. Pada 23 Desember 1922 untuk pertama kalinya air dari Ciburial dialirkan ke Batavia. Tanggal tersebut kini dijadikan hari jadi PAM Jaya. Namun penduduk masih kurang menyukai rasa air yang dihasilkan. Kemudian air kali Ciliwung yang sebelumnya di sebut Canal Swiss mulai dibangun dan dipersiapkan untuk memasok air ke Pejompongan. Semua itu di penuhi Gemeente, berkat desakan-desakan Muhammad Husni Thamrin yang duduk sebagai anggota Gemeenteraad Batavia (DPRD). Tidak terlalu banyak keterangan yang dapat ditelusuri lagi mengenai hubungan antara Zainul Arifin dan Husni Thamrin yang 15 tahun, kecuali dari kenangan keluarga yang pernah diceritakan Zainul sendiri di masa hidupnya. Namun, satu hal pasti sejarah mencatat Arifin merupakan tokoh pendatang yang disegani di Batavia, terlebih ketika dia menjabat sebagai Ketua Majelis Konsul NU Batavia.
"Tidak gampang untuk bisa diterima menjadi pegawai Gemeente seperti Zainul Arifin," ungkap Hamid Baidlowi yang pernah menjadi sekertaris KH Wahid Hasyim. "Dengan pengalaman sebagai pegawai pemda kolonial, Zainul Arifin banyak membantu kegiatan NU, terutama menyangkut masalah perizinan muktamar di wilayah Batavia dan Banten."
Zainul Arifin bekerja di kantor ini hanya selama 5 tahun, sebelum akhirnya ia diberhentikan karena terjadi krisis ekonomi dunia yang membuat pemerintah kolonial Belanda harus melakukan pengetatan. Caranya dengan mencabut semua kebijakan yang sebelumnya masih memberi peluang bagi pribumi untuk bekerja di kantor-kantor pemerintah, meskipun sangat terbatas. Namun Zainul Arifin tetap tinggal di Batavia dan menghabiskan sisa hidupnya di kota ini. Wajar saja kalau ia merasa dirinya sebagai bagian dari Batavia atau Betawi.

Tuesday, September 15, 2015

Kutipan dari KH Zainul Arifin 

(Dari buku berbahasa Inggris tentang alasan NU memisahkan diri dari Partai Masyumi:

"But this Madjelis Syura, which was predominantly occupied by our ulamas, was used as a jewelled ring, worn only for going to feasts, and locked in the drawer when these feasts were finished. Since then, Madjelis Syura had never been invited to discuss matters related to the steps that were taken by the Masyumi, despite the fact that actually our ulamas had enough skills and tacts for these matters. Such had been proven in the Madiun Congress, when our ulamas worked and sweated to resolve and analyze problems directly connected with politics, national and international. Nevertheless, all the resolutions which were then submitted to the Masyumi were ignored and forgotten. " (Naim 1961: 2).

(Sumber: Nahdlatul Ulama and the Struggle Within Islam and Politics in Indonesia. Institute of Southeast Asian Studies, 2009.)

KUTIPAN-KUTIPAN KAHAZA:



"Soal kemerdekaan dalam Islam bukanlah soal semboyan dan cita-cita saja, tetapi adalah menjadi dasar dari agama. Umat Islam yang mempunyai jiwa yang hidup harus menuntut dan mempertahankan Kemerdekaan. Jika perlu dengan jiwa raganya."

(13 September 1944, Rapat Umum Umat Islam di Taman Raden Saleh Jakarta)

Sumber: Harian TJAHAJA, 15 September 1944, p.1


."Tanah Jawa adalah suatu negeri yang penduduknya sebagian besar terdiri dari umat Islam, sehingga dengan sendirinya kita tidak boleh ketinggalan untuk menyelenggarakan Benteng Perjuangan Jawa. Karena itu kedudukan kaum ulama bertambah penting. Marilah kita membaharui niat ikut berjuang dalam Benteng Perjuangan Jawa.

(30 Juli 1944, Musyawarah Ulama Jawa Barat dihadiri 600 Ulama)
Sumber: Harian SINAR BAROE, 1 Agustus 1944, p.3.

"Soal kemerdekaan dalam Islam bukanlah soal semboyan dan cita-cita saja, tetapi adalah menjadi dasar dari agama. Umat Islam yang mempunyai jiwa yang hidup harus menuntut dan mempertahankan Kemerdekaan. Jika perlu dengan jiwa raganya."

(13 September 1944, Rapat Umum Umat Islam di Taman Raden Saleh Jakarta)
Sumber: Harian TJAHAJA, 15 September 1944, p.1.