Total Pageviews

Friday, September 11, 2015

MESJID KENANGAN IBU DAN ANGGUT



Oleh: Ario Helmy




Akhir Agustus 1983, ketika Ibu dinas di Bank Dunia di Washington DC dan New York City, AS, saya diminta untuk menemani. Waktu itu memang kami tinggal di Houston, Texas, karena Ibu sedang ditempatkan di Kantor Perwakilan PT Pupuk Sriwijaya (PUSRI) di sana. Dari Houston, kami menuju Boston, Massachussets mengantar seorang putri pejabat yang hendak kuliah di kota itu. Baru dari situ, Ibu dan saya melanjutkan perjalanan ke ibu kota Amerika Serikat, Washington DC. Buat saya yang baru pertama kali ke sana, kota ini tampak begitu kecil dan membosankan. Bangunan-bangunannya kebanyakan kantor-kantor pemerintah yang tingginya tidak ada yang melampaui Monumen Washington di pusat kota dengan ketinggian sekira 13 lantai saja. Di sana kami menginap di Hotel Embassy Row, terletak persis berseberangan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Amerika Serikat. Setiap kali dinas ke Washington Ibu selalu menginap di hotel ini.
Karena kami harus berpisah, di hari pertama Ibu mesti ke Bank Dunia, sedang saya tidak ada rencana kemana-kemana, Ibu menyarankan (sekalian membukukan) saya untuk mengikuti Tour Keliling Kota Washington. Tujuan tur meliputi: Gedung Putih, monumen-monumen ini dan itu, serta museum-museum aneka rupa. Ibu juga menentukan titik perpisahan kami di Islamic Center di ujung jalan sekira 5 menit dari tempat kami menginap. Dari situ Ibu bakal naik taksi ke Bank Dunia sedang saya akan dijemput Bis Turis.
Islamic Center yang memilliki mesjid berarsitektur gaya benteng Romawi itu kelihatan biasa-biasa saja buat saya. Waktu itu baik Ibu maupun saya sama sekali tidak tahu kalau di mesjid inilah Anggut, ayah Ibu, KH Zainul Arifin selalu Wakil Ketua DPR dan rombongan kenegaraan Presiden Sukarno pernah mampir untuk sholat sebelum menuju Gedung Putih berjarak sekitar 10 menit dari situ dan melakukan pembicaraan bilateral yang sangat bersejarah dengan Presiden Dwight Eisenhower tahun 1956.
DUTA BESAR MENINGGAL
Sejarahnya, ide pembangunan Mesjid Islamic Center Washington bermula ketika Duta Besar Turki Muenir Urteguen wafat pada 1944 tanpa adanya mesjid yang memadai untuk menyembahyangkan jenazahnya. Duta Besar Mesir kala itu, Muhammad Isa Abu Al-Hawa kemudian membahas rencana pembangunan mesjid untuk kaum Muslim di kawasan Washington DC. Usulnya itu segera mendapat tanggapan positif dari kalangan diplomat negara-negara Islam dan masyarakat umum Muslim AS.
Tanahnya dibeli pada 30 April 1946, sedangkan peletakan batu pertamanya berlangsung pada 11 Januari 1949. Mesjid bermenara setinggi 50m yang diarsiteki Prof. Mario Rossi dari Italia itu sudah dapat mulai digunakan sejak 1954. Jadi ketika rombongan Presiden Sukarno di awal musim panas, bulan Mei 1956 mampir untuk beribadah di sana, mesjid ini masih belum rampung benar. Mesjid baru diresmikan sendiri oleh Presiden Eisenhower pada 28 Juni 1957.
MESJID SETENGAH JADI
Dari foto-foto yang dimuat dalam majalah LIFE tahun 1956 mengenai kegiatan Sukarno beserta rombongan melaksanakan sholat di Islamic Center dapat dilihat kalau bangunan belum seluruhnya selesai. Lampu kristal dan pilar-pilar mesjid belum lagi dipasang. Begitu pula dengan dinding keramik serta tulisan-tulisan kaligrafi sumbangan pemerintah Turki. Dari foto-foto itu juga dapat disimpulkan rombongan melakukan sholat sunat mesjid dan Dhuha, karena tidak satupun foto menujukkan kegiatan sholat berjamaah. Selain itu, juga tampak jelas kalau anggota rombongan "entourage" Presiden tidak terlalu besar jumlahnya. Tidak sampai 20 orang, sudah termasuk ajudan-ajudan dan para pengawal.
Kamera begitu jeli merekam setiap gerakan Sukarno dari sejak melepas sepatu hendak memasuki area mesjid hingga foto bersama para pejabat kedua negara di akhir kunjungan di Islamic Center. Meski pembicaraan bilateral yang berlangsung anrara Sukarno dan Eisenhower berlangsung kurang bersahabat, namun agaknya penampilan foto-foto itu membuktikan bahwa Sukarno adalah seorang kepala negara mayoritas Muslim yang memang lebih suka memilih menjadi Non-Blok. Sedangkan kepada Zainul Arifin dalam kapasitasnya sebagai anggota parlemen dari partai Islam pemerintah Eisenhower menganugerahi bintang kehormatan setahun sesudah kunjungan.
Saya menyelesaikan tulisan ini sambil tersenyum karena sekarang setiap kali saya teringat kunjungan saya dan Ibu ke Islamic Center di Washington DC di penghujung musim panas 1983 itu, sayapun otomatis teringat Anggut juga.

KERESAHAN DI KOTA KELAHIRAN







Secara kebetulan, bertepatan dengan peringatan tanggal lahir Pahlawan Kemerdekaan Nasional KH Zainul Arifin ke 106, 2 September lalu, KOMPAS memuat pada rubrik Nusantara artikel berjudul, Otonomi Daerah: Memimpikan Kabupaten Barus Raya di halaman 24. Tulisan karya ST Sularto itu mendedah keadaan Barus, kota pesisir pantai di Tapanuli Tengah yang belakangan ramai digadang-gadang menjadi Ibu Kota Kecamatan Kabupaten Barus Raya. Sayangnya, hingga akhir tulisan Sularto merasa tidak menemukan kepantasan kota yang pernah mahsyur mancanegara sejak abad 2 Masehi karena kekayaan kapur Barusnya itu untuk dijadikan sebuah Ibu Kota Kabupaten yang "Raya". Sejarah panjang pelabuhan antarbangsa yang mempertemukan pelbagai suku bangsa dunia dekat dan jauh dalam aktivitas perdagangan itu tidak ada museumnya, bak dongeng rakyat tak terbukukan.

Padahal, dalam suatu kesempatan beraudiensi di kamar pribadi Presiden RI ke 4, Abdurrahman Wahid, saya sempat dipetuahi agar berbangga hati memiliki kakek yang lahir di salah satu gerbang terpenting masuknya Islam ke Nusantara. Gus Dur menyinggung para arkeolog Prancis melakukan penggalian besar-besaran di tanah kelahiran Zainul Arifin.
Namun Sularto mewartakan situs-situs kuno yang jauh dari rawatan. Peneliti negeri sendiri juga belum merambah kawasan ini dengan serius. Kegiatan ekonominyapun jalan di tempat, kegiatan industri perikanannya megap-megap.
Padahal dari seorang pemilik losmen kelas Melati yang saya kenal dalam suatu acara makan siang dengan Parpoda, organisasi kekerabatan marga Pohan, saya mendengar kalau Rumah Putih Kesultanan Barus dimana kakek Zainul Arifin pernah memerintah sudah musnah ditelan banjir. Sedangkan lokasinya dulu persis di sebelah losmen yang di kelolanya. 

Saya lalu mengkhayal bakal ada Papan Nama memasuki kota bertuliskan: Selamat Datang di Kota Barus, Kota Kelahiran Pahlawan Kemerdekaan Nasional KH ZAINUL ARIFIN POHAN. Sedangkan di Museum Barus terdapat Pojok Kahaza Pohan menampilkan sejarah Pahlawan Nasional Putra Barus tersebut berupa display foto-foto dan memorabilia lainnya. Mungkinkah? Bagaimana ya menyampaikan ke Ibu Bupati Hj. Ernawati Pohan?

Wednesday, February 11, 2015

NAPAK TILAS: BERTANDANG KE MESJID GUDANG


Oleh: Ario Helmy

KH Zainul Arifin menyertai Presiden Sukarno melakukan kunjungan-kunjungan kenegaraan bersejarah sepanjang tahun 1956, usai dilangsungkannya Pemilu pertama Indonesia pada 1955.Lawatan-lawatan tersebut meliputi Amerika Serikat, Uni Soviet, Cekoslowakia dan Yugoslavia serta Cina. Di sini akan diuraikan mengenai lawatan ke Uni Soviet sebagai bagian penting dari agenda Sukarno dalam melihat dari dekat kehidupan di negara-negara Blok Barat dan Blok Timur. Dalam muhibah tersebut Presiden lewat upaya diplomasi tingkat tinggi berhasil membuat pemerintahan komunis di Moskow membuka kembali sebuah mesjid yang sebenarnya telah di alihfungsikan sebagai gudang. Mesjid yang kini terkenal sebagai Mesjid Biru sering kali diulas sebagai Mesjid Sukarno. Pihak AS mengikuti perkembangan perjalanan Presiden Sukarno ke negera-negara Blok Timur dengan penuh perhatian.

KOTA PETER DAN LENIN

Kunjungan panjang kenegaraan rombongan Presiden Sukarno memulai lawatan dari Moskow, dimana rombongan disambut oleh PM Nikita Kruschev. Selanjutnya, rombongan dijamu berkunjung ke kota bersejarah Leningrad atau pernah disebut juga St. Petersburg. St. Petersburg atau Leningrad merupakan sebuah kota yang dibangun oleh Peter the Great, atau raja Peter I pada abad 17. Kota ini juga disebut Leningrad karena Lenin memang dilahirkan di sini. Lanskap kotanya tidak beda dengan kota-kota besar di Eropa Barat, seperti Amsterdam, Berlin ataupun London. Letaknya di pinggiran Sungai Neva dan ratusan kanal di dalamnya menjadikan kota ini sebagai Venesia Rusia. Kota ini pernah menjadi ibukota Kekaisaran Rusia selama 200 tahun. Di dekat bantaran Sungai Neva terdapat sebuah masjid yang kubahnya berwana biru. Tatkala pelancong ikut cruise kapal menyusuri Sungai Neva, menaranya yang menjulang terlihat dengan jelas.

Ketika melintas di Mesjid Biru, Sukarno ingin mampir ketika diberitahu bahwa bangunan yang diduganya sebagai mesjid ternyata memang sebuah rumah ibadah kaum Muslim yang sudah tua. Pihak protokoler tidak dapat memenuhi permintaan Sukarno dengan alasan jadwal yang sangat padat. Presiden tidak berputus asa. Ketika kembali ke Moskow, Sukarno meminta sendiri kepada Kruschev untuk diizinkan memasuki dan melihat dari lebih dekat bangunan mesjid yang rupanya sudah diubah menjadi sebuah gudang sejak Perang Dunia II itu. Pemerintah Moskow kemudian memerintahkan agar bangunan dibersihkan dan Imam Mesjid ditugasi untuk menerima rombongan Presiden Indonesia.

Dalam pertemuan dengan Imam Mesjid, Presiden didampingi anggota parlemen Partai NU, KH Zainul Arifin mendapat penjelasan mengenai sejarah mesjid yang nama resminya adalah Jam'ul Muslimin. Masjid Biru mulai dibangun tahun 1910. Ketika dibangun, umat Islam di Rusia berjumlah hanya 8.000 orang. Pembangunan masjid dilakukan setelah dibentuk komite khusus tahun 1906 yang diketuai Ahun Ataulla Bayazitov. Penyumbang terbesar tercatat Said Abdoul Ahad Amir Buharskiy yang membiayai semua pekerja pembangunan masjid. Pembangunannya memakan waktu sebelas tahun. Saat diresmikan penggunaannya pada 1921, mesjid yang diarsiteki oleh dua orang nasrani bernama Vaslilier dan Alexander Von Googen ini tampak mirip dengan sebuah masjid di Samarkand, Asia Tengah.Dua menaranya menjulang setinggi 48 meter sedangkan kubahnya yang dibalut keramik warna biru sangat gagah dengan ketinggian 39 meter.

MINYAK PENERANG PELITA

Usai mengunjungi mesjid, Sukarno lagi-lagi berdiplomasi ke pemerintah Uni Soviet untuk membuka kembali Mesjid Jam'ul Muslimin dan umat Muslim Uni Soviet diizinkan beribadah di dalam Mesjid Raya mereka tersebut. Peristiwa ini dicatat oleh sejarah umat muslim Rusia hingga kini. Ketika diwawancara oleh media masa AS mengenai keadaan penduduk muslim Uni Soviet. sebagai tokoh Islam Indonesia Zainul Arifin menjawab dalam bahasa Inggris:

"Here the Moslem religion resembles a lamp in which the light has almost died out and the oil has not been renewed."

(Di sini agama Islam seperti lampu minyak hampir padam yang minyaknya belum diganti).

Dibukanya kembali Mesjid Biru sebagai pusat kegiatan umat muslim Uni Sovietpun bagaikan minyak baru penerang pelita Islam.

Mesjid Biru pernah hampir rubuh pada tahun 1980 karena dimakan usia dan perhatian pemerintah sangat berkurang. Hingga akhirnya seorang dermawan menyumbang biaya pemugaran besar-besaran mesjid membuat pemerintah Rusia tergerak untuk ikut ambil bagian. Kini ketika memasuki mesjid, setelah melewati ruang penerimaan, kita akan langsung masuk ke dalam masjid lantai pertama yang mampu menampung lebih dari dua ribuan jamaah. Kubah yang dari luar berwana biru, didalamnya terdapat ukiran dan lukisan yang terpengaruh oleh budaya arab dan menggantung di tengah-tengahnya lampu bulat besar bertatahkan kaligrafi buatan Rusia dengan berat lebih dari 2 ton.

Dari kejauhan terlihat mihrab yang agung berwarna biru terbuat dari ribuah marmer yang didisain khusus. Di tengah-tengahnya terdapat siluet berupa kaligrafi yang menegaskan pesan-pesan Tuhan tentang kebaikan dan kebijakan yang harus dianut oleh umatnya. Di sampingnya, terdapat mimbar khutbah dengan tangganya yang tinggi terbuat dari kayu yang sangat terawat. Pada saat khatib naik mimbar, ia akan memegang tongkat yang merupakan pengganti tombak pada jaman para sahabat nabi.

Lantai dua dan tiga dipakai untuk shalat jamaah wanita, sehingga tidak perlu sekat seperti yang ada di beberapa masjid. Uniknya, untuk bisa mengikuti shalat berjamaah, para wanita hanya bisa melihat ke imam melalui dua cendera yang telah disiapkan. Melihat modelnya, jendela ini pastilah model jendela Mesir.

Pilar-pilar besar penyangga kubah dan lantai dua dan tiga dihiasi dengan aneka lukisan bunga yang lebih mirip budaya Rusia bagian Selatan. Ada juga kaligrafi terbuat dari kayu berukuran sekitar satu kali dua meter yang terpajang di samping ruang imam sholat. Tembakan dua lampu dari samping dan atas memberikan nuansa tersendiri atas tatahan indah surah al-Fatihah yang berada di tengah-tengah ukiran model Bali hadiah dari Presiden Megawati Soekarnoputri, serta ada satu lukisan kaligrafi lagi dari mantan Wapres Jusuf Kalla.

Thursday, February 13, 2014

Sabtu, 01/02/2014 09:26Peringatan Harlah Ke-88 NU



PBNU menyelenggarakan tasyakuran peringatan hari lahir (Harlah) ke-88 NU, Jumat (31/1) malam di aula utama kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat. Acara yang berlangsung secara lesehan ini dihadiri para ulama, tokoh nasional, pejabat, dan masyarakat secara umum.

Malam peringatan Harlah ke-88 NU juga diisi penyerahan tanda jasa kepada 37 tokoh NU yang dinilai berjasa bagi kelahiran dan perkembangan NU dan bangsa secara luas. Di antara mereka adalah KH Ma’shum Lasem, KH Zainul Arifin, KH Saifuddin Zuhri, Djamaluddin Malik, H. Mahbub Djunaidi, Asrul sani, dan Usmar Ismail. Plakat penghargaan diterima secara simbolis perwakilan keluarga tokoh yang hadir.

“Kita bersyukur sekaligus berduka. Bersyukur karena NU saat ini bertambah usia. NU sudah berusia 88 tahun. Kita berduka karena baru saja kita ditinggal ole Rais Aam Almukarram Syekh KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh,” kata Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj pada malam itu.
Prosesi peletakan batu pertama Masjid an-Nahdlah yang terletak di Lantai 1 gedung PBNU pada Jumat siang mengawali rangkaian peringatan harlah ini. Dalam kesempatan ini hadir Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmi Faishal Zaini.





Friday, December 23, 2011

NAPAK TILAS: RUMAH SEBAGAI PAHLAWAN

Oleh: Ario Helmy

Siang itu, pintu gerbang rumah di Jalan Cikini Raya nomor 48, Menteng, Jakarta Pusat tidak terkunci. Dengan mudah kumasuki halaman depan yang puluhan tahun silam pernah menjadi tempatku bermain. Pendapa di depan ruang tamu utama sudah tidak ada lagi. Ruang tamu saja yang belum berubah,ruangan tempat Kakek, KH Zainul Arifin menikahkan Ibu ke Ayah. Di situ juga ruang tempatku merayakan ulang tahun ke sembilan. Di ruangan yang sama jenazah KH Zainul Arifin pernah dibaringkan sebelum dimakamkan. Ke sanalah Presiden Sukarno bertakziah kepada keluarga besar yang ditinggalkan. Kakek wafat saat masih aktif  menjabat ketua DPRGR merangkap sebagai Wakil Menteri Pertama (Wampa), pada 2 Maret 1963 di pengujung era Demokrasi Terpimpin.

"Ada perlu apa, Pak?" tiba-tiba saja lelaki itu muncul dari arah belakang rumah. Ketika aku sedang asyik meminta tolong Andhika yang menemaniku untuk mengambil beberapa foto di halaman depan rumah yang kelihatan sudah sangat tua dan tidak terurus itu.

"Oh, maaf, saya kira rumah ini kosong. Saya hanya mau melihat-lihat," jawabku. Beberapa jenak bapak tadi memandangiku dari atas ke bawah. Wajahnya seperti ingin bilang, "Tinggal 15 langkah lagi ada Taman Ismail Marzuki. Kalau Anda beruntung, bisa melihat-lihat pameran lukisan."

"Ini rumah orang penting, Pak!" akhirnya itu yang keluar dari mulutnya, "Tentara yang punya. Biasanya di jaga."

"Oh, begitu ya. Dulu waktu masih kecil saya suka main di sini. Boleh ya saya foto-foto sebentar," gaya bicaraku kutekan jangan sampai serupa gaya bicara Satpol PP. (Bagaimana pulakah itu gerangan?). Meskipun sang Bapak mulai kelihatan tidak seketus tadi dan belum bernuansa ingin mengusir, namun tetap saja tekukan rona wajahnya memastikan aku untuk faham kalau kesabarannya bisa sewaktu-waktu habis. Bisa jadi juga itu cuma perasaanku saja.

"Bapak tinggal di sini?" tanyaku.

"Ya. Di belakang sana," angguknya mengarah ke belakang rumah yang dulunya garasi. Beberapa rumah petak berjajar, seperti rumah-rumah kontrakan, lengkap dengan jemuran yang sudah nyaris kering sempurna berjajar terpanggang mentari jam makan siang. Dia diam saja, tapi terus mengiringi saya melongok ke paviliun rumah, yang bagian dalamnya sudah melompong tidak bersekat. Mirip gudang dengan aneka sampah beronggok di sana-sini.

"Bapak, siapa?" tanyanya lagi.

"Saya Ario. Cuma mau melihat-lihat." Sukurlah tidak sampai ditanyanya KTP dan Kartu Keluarga. Atau surat jalan, surat penugasan. Dari rumah tadi aku memang niat menapak tilasi rumah ini. Aku yakin ada yang bakal masih bisa kukenali dari rumah Kakek. Tidak terbayang kalau ternyata rumah ini yang malah sudah lupa padaku.

Aku menoleh ke kanan ke arah ruang tamu. Agak melongok ke dalam. Tidak berani terlalu kelihatan bahwa aku sedang "memeriksa". Takut Bapak benar-benar "The End" kesabarannya.

"Di ujung sana, ada ruang kecil tempat kerja Kakek, Dhik. Waktu Bung Karno takziah, dia masuk ke ruangan itu dengan petinggi-petinggi DPRGR. Saat itu juga diadakan pemilihan Ketua DPRGR baru pengganti Zainul Arifin. Yang terpilih Wakil Ketua Aruji Kartawinata," ujarku lancar pada Andhika yang cuma termangu. Teringat penglaman bersin-bersin karena penyakit sinusitisku kambuh waktu melakukan riset dan menemukan data tersebut di Lantai 8 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Salemba Raya. Koran tua Duta Masyarakat tertanggal 4 Maret 1963 sudah kecoklatan dan nyaris jadi bubur ketika petugas mengangkatnya untuk memfoto kopi seperti permintaanku.

"Yang juga unik. Kakek ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional juga di rumah ini, sebelum ada SK-nya." lanjutku.

"Saya tetapkan Zainul Arifin sebagai Pahlawan Nasional dan jasadnya untuk di kuburkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata," lisan Presiden Sukarno ketika melepas jenazah ke Kalibata.

Zainul Arifin wafat pada 2 Maret 1963 pagi di RSPAD, Gatot Subroto, hari Sabtu. Dikuburnya juga pada hari libur, Minggu, hari ketujuh setelah Hari Idul Fitri pula. Jadilah SK Pahlawan Nasionalnya baru ditandatangani Presiden pada Senin, 4 Maret 1963.

Bapak pengawas (karena kerjanya mengawasiku terus) itu tetap saja tidak "nyambung" antara mendengar dan tidak mendengar.

"Terimakasih, Pak. Saya sudah boleh lihat-lihat, " akupun langsung mohon diri. Bapak hanya mengangguk. Akhirnya...

Saturday, December 3, 2011

KETIKA TETAMU ALLAH DIJAMU RAJA


Oleh: Ario Helmy

Wakil Perdana Menteri Kabinet Ali-Arifin (1953-1955), KH Zainul Arifin dan Menteri Agama KH Masykur mendampingi Presiden Sukarno melakukan kunjungan kenegaraan sekaligus melaksanakan ibadah Haji ke Arab Saudi dilanjutkan kunjungan ke Mesir selama 18 Juli hingga 4 Agustus 1955. Muhibah tersebut merupakan catatan bersejarah tersendiri, bukan saja karena bertepatan dengan Haji Akbar dimana puncak pelaksanaan ibadah pada hari Arafah 9 Dzulhijjah jatuh pada hari Jumat saja, melainkan karena perjalanan dilangsungkan tidak lama setelah berlangsungnya Konferensi Asia Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila Bandung. Konferensi negara-negara baru merdeka Asia-Afrika yang dilangsungkan ditengah-tengah berlangsungnya Perang Dingin antara kubu AS dan kubu Uni Soviet itu memang mendapat perhatian internasional, apalagi dengan berkembangnya issue untuk mendirikan kubu tengah yang kelak dikenal sebagai kubu Non-Blok.

Di Arab Saudi rombongan kenegeraan diterima oleh Raja Saud bin Abdul Aziz, raja kedua Saudi yang merupakan putra pendiri kerajaan Raja Abdul Aziz bin Saud yang wafat dua tahun berselang. Raja Saud menemani sendiri rombongan Presiden melaksanakan ibadah haji sesuai dengan tradisi kerajaan. Ketika melaksanakan ibadah Sa'i, lari-lari kecil antara bukit Marwah dan Safa Sukarno sempat memberikan usulan agar kawasan ibadah diperbaiki dan dibersihkan dari para pedagang yang kala itu masih berbaur dengan jamaah yang sedang beribadah. Usulan tersebut mendapat perhatian raja yang memang sangat gandrung memperbaiki sarana-sarana ibadah haji. Zainul Arifin juga menceritakan pada keluarga pengalamannya melakukan upacara pencucian Kabah bersama raja dilanjutkan dengan memasuki bangunan Kabah dan melakukan shalat sunnah dua rakaat di dalamnya. Jamaah haji biasa melakukannya di Hijir Ismail yang dipandang sebagai bagian dari bagian dalam bangunan Kabah. Setelah itu, sebagai cindera mata Raja Saudi memotong-motong Kiswah atau kain penutup Kabah dibikin dari tenunan kain sutera berhiaskan kaligrafi terbuat dari 120kg kilo emas murni dan  berpuluh-puluh kilogram perak. Potongan-potongan Kiswah tersebut kemudian dibagikan kepada tamu-tamu kerajaan. Zainul sendiri kemudian membagi potongan Kiswah yang diterimanya dari Raja Saud menjadi empat bagian dan menyerahkan keempat potongan masing-masing kepada Ibundanya, Siti Baiyah Nasution, kedua istrinya: Hamdanah dan Quraisin serta menyimpan satu untuk dirinya sendiri. Khusus kepada Arifin, Raja Saud juga memberikan sebilah pedang tradisional Arab Saudi berlapis emas, Zambea. Pedang ini pada bendera nasional Arab Saudi digambarkan tepat di bawah kalimat Tauhid warna putih berlatar warna hijau polos. Zambea melambangkan keadilan. Konon, di zaman sekarang ini pedang Zambea hanya digunakan untuk pelaksanaan eksekusi pemenggalan kepala pesakitan yang di jatuhi hukuman mati. Zambea yang diterima Zainul hingga kini masih disimpan oleh salah seorang anaknya, Hj. Ratna Qomariah A. Sutjipto.

Di Madinah, rombongan Presiden Sukarno diberi kehormatan untuk melakukan upacara inagurasi menandai selesainya pemugaran Mesjid Rasullah Nabawi yang telah dimulai sejak Raja Saud bertahta pada 1953. Menurut sejarahnya Mesjid terpenting kedua di Arab Saudi setelah Masjidil Haram di Mekkah ini dibangun sendiri oleh Rasullah setelah Muhammad SAW hijrah ke Medinah. Selama tujuh bulan Rasullah menyelesaikan Mesjid seluas 1.050 m2 tersebut. Sejalan dengan berkembangnya agama Islam, Muhammad SAW memperluas Mesjid Nabawi menjadi 2.475 m2 pada tahun 629 Masehi. Inilah pemugaran pertama mesjid. Selanjutnya, di era sahabat perluasan mesjid dilakukan oleh masing-masing Umar bin Khatab pada 638 dan Usman bin Affan yang melakukannya pada 650. Pemugaran-pemugaran sesudahnya dilakukan oleh para penguasa Madinah masing-masing Walid bin Abdul Malik, Muhammad Al-Mahdi, Sultan Ashraf Qaytaby dan Sultan Ottoman Abdul Majid. Peresmian yang dilakukan Raja Saud beserta tamu-tamunya dari Indonesia pada 1955 merupakan perluasan Mesjid yang kedelapan dengan luas keseluruhan menjadi 163.260 m2. KH Masykur menceritakan pengalaman ini dipenuhi rasa haru dalam buku biografinya, KH Masykur: Sebuah Biografi yang ditulis oleh Subagyo I.N.

Zainul Arifin dalam kapasitasnya sebagai Wakil Perdana Menteri juga melakukan kunjungan kenegeraan kepada Putra Mahkota kerajaan yang memang memangku jabatan Wakil Perdana Menteri Saudi, Pangeran Faisal. Zainul didampingi Masykur beraudiensi dengan Wakil Perdana Menteri di Istananya di Riyadh. Pangeran Faisal adalah adik berlainan ibu dari Raja Saud. Ketika kunjungan kenegeraan berlangsung hubungan antara Saud dan Faisal masih baik. Namun sejarah kemudian mencatat, hubungan keduanya bakal memburuk hingga akhirnya Raja Saud digulingkan oleh Pangeran Faisal pada 28 Maret 1964. Sejak itu Saud hidup dipengasingan di Eropa hingga mangkatnya pada 23 Februari 1969 di Athena, Yunani. Faisal sendiri, kemudian menjadi raja Arab Saudi hingga akhirnya diapun tewas ditembak oleh kemenakannya sendiri yang juga bernama Faisal (bin Musaid) pada 25 Maret 1975.

Dari Arab Saudi kunjungan dilanjutkan ke Mesir, dimana rombongan diterima oleh Presiden Gamal Abdel Nasser. Nasser merupakan presiden kedua Mesir yang oleh sejarah dicatat sebagai politikus terpenting Dunia Arab dan Dunia Berkembang. Ketika menghadiri Konferensi Asia Afrika di Bandung,dia sempat bersama-sama dengan Sukarno, PM India Nehru dan Presiden Yugoslavia Tito membahas pembentukan Gerakan Non-Blok. Gerakan tersebut akhrinya resmi berdiri pada 1961 di Belgrade, Yugoslavia.

Nasser menyambut rombongan Presiden Sukarno dengan hangat dan sangat antusias. Selain melakukan kunjungan ke Piramid, rombongan juga disuguhi acara-acara kesenian tradisional khas Mesir. Kunjungan muhibah Sukarno beserta rombongan berakhir pada 4 Agustus 1955. Begitu tiba kembali di tanah air, Wapres Hatta sedang sibuk menyiapkan pembentukan Kabinet Burhanuddin Harahap sebagai pengganti Kabinet Ali-Arifin yang bubar dua hari setelah rombongan Presiden berangkat ke Tanah Suci.

(Berbagai Sumber termasuk BiografiKH Zainul Arifin,Berdzikir Menyiasati Angin Oleh: Ario Helmy (2009))

Friday, December 2, 2011

SEJARAH DIA, SEJARAH DIA JUGA


Oleh: Ario Helmy

Bahasa Indonesia ternyata sudah lebih "ramah jender" dibandingkan dengan Bahasa Barat. Tinggal lagi sistem penulisan sejarahnya saja yang masih perlu dibenahi agar tidak menempatkan perempuan di bawah lelaki. Dalam menulis biografi KH ZAINUL ARIFIN, BERDZIKIR MENYIASATI ANGIN, saya berusaha bersetia terhadap prinsip ini. 

KETIGA TUNGGAL 

Dalam Bahasa Nasional kita hanya ada satu sebutan bagi orang ketiga tunggal, dia. Lelaki atau perempuan yang dibicarakan, ya dia. Bandingkan misalnya, dengan Bahasa Inggris yang membebani "he" untuk maskulin dan "she" bagi jender yang sekedar "perhiasan" bagi "he". Lebih jauh lagi, wanita baik-baik dan terhormat julukannya, "lady" dari akar kata "lad" yang bermakna anak lelaki. Jadi dalam sejarah perkembangan berbahasa bangsa-bangsa pengguna bahasa Inggris sesempurnanya perempuan hanya bisa menyamai tingkat kedudukan bocah pria, setengah lelaki dewasa. Yang kemudian menimbulkan keprihatinan di kalangan masyarakat penggunanya ialah kata "history" ternyata dipungut dari tautan kata-kata "his story" atau "kisah dia (lelaki)". Kontan sejak awal abad ke 20, kaum perempuan di Barat menuntut persamaan derajat bukan hanya dalam kehidupan nyata sehari-hari, namun pula di antara halaman-halaman buku sejarah. Sejak saat itupun penulisan sejarah harus senantiasa terkait dengan perempuan. Seorang tokoh sejarah yang ditulis sepak terjang kejuangannya perlu diteliti secara mendalam kehidupan pribadinya, terutama dalam masalah memperlakukan wanita-wanita dalam hidupnya. Juga pandangan-pandangan serta kontribusinya terhadap masalah-masalah perempuan mesti dikaji mendalam. Singkatnya, dia harus bisa menjadi pahlawan bagi komunitasnya tanpa membedakan jenis kelamin dan tidak bisa cuma sekedar "pahlawan di lingkungan kelompok macho-nya" belaka.

PAHLAWAN DAN PEREMPUAN PEREMPUAN 

Motivator Mario Teguh pernah berbagi pandangan bahwa orang-orang berpengaruh dalam sejarah peradaban manusia adalah mereka yang menghormati ibu, istri, anak dan cucu perempuannya. Saya sendiri saat menulis biografi kakek saya benar-benar tidak mengenal sosoknya secara langsung karena baru berusia 6 tahun ketika Kakek wafat. Jadi saya banyak mengandalkan penulisan berdasarkan pengamatan dan interaksi saya pribadi dengan ibu Kakek (buyut saya yang baru meninggal ketika saya beranjak remaja), ketiga istrinya, dan anak-anak perempuannya termasuk ibu saya sendiri. Ditambah lagi dengan keterangan-keterangan dari tokoh-tokoh NU dan Muslimat NU. Saya sempat mengenal dan menyaksikan bagaimana buyut saya, Baiyah Nasution sangat dihormati dalam keluarga besar kami, karena memang dicontohkan sendiri oleh Zainul Arifin di masa hidupnya. Konon begitu dekatnya hubungan Ibu dan Anak di antara keduanya, sampai-sampai ketika Zainul wafat, Buyut meminta sendiri kepada Presiden Sukarno agar anaknya tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, karena dia ingin berkubur di sebelahnya. Tidak kurang dari Jenderal Besar AH Nasution harus ikut membantu Presiden membujuk Baiyah agar mengikhlaskan putranya dikebumikan di Kalibata. Harian Duta Masyarakat edisi 3 Maret 1963 melaporkan, akhirnya Buyut mengalah. Baiyah sendiri yang berpidato mewakili keluarga besar mengucap terima kasih kepada pemerintah senyampang memberikan restunya. Saya juga mengenal ketiga istri Kakek dengan cukup baik, serta pernah berbincang-bincang dengan mereka. Namun, mengenai bagaimana Kakek bersikap adil terhadap istri-istrinya justru saya dengar dari Bapak Hamid Baidlowi (Allah yarham), menantu KH Wahid Hasyim yang juga sahabat dekat keluarga Arifin dan dari Ibu Asmach Syachruni, mantan Ketua Muslimat NU. Ibu Asmach juga banyak berkesan mengenai bagaimana Zainul Arifin menaruh perhatian besar terhadap badan-badan Muslimat NU dan para anggotanya. Dari ibu kandung saya sendiri, satu dari delapan anak perempuan Kakek saya diceritakan bagaimana Zainul Arifin tidak membedakan pendidikan antara anak lelaki dan anak perempuan. Dia juga menanamkan perlunya menuntut ilmu hingga akhir hayat. Ibu memang pembelajar sejati. Dia pernah menjadi satu-satunya pejabat perempuan yang dikirim ke kantor perwakilan BUMN tempatnya bekerja ke luar negeri selama lima tahun. 

Setelah menimbang dan memperhatikan terpenuhi semua syarat penulisan "ramah jender" atas hikayat KH Zainul Arifin, sayapun meniatkan biografi tersebut dengan seizin Allah SWT terselesaikan bertepatan dengan peringatan Seabad KH Zainul Arifin tahun 2009 silam. Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan doa.