Total Pageviews

Friday, January 7, 2011

RENCANA PEMBANGUNAN MONUMEN LASKAR HIZBULLAH DI CIBARUSAH BEKASI

Kamis, 23 September 2010 , 05:05:00
Ngalor-ngidul Bekasi
Cibarusah Pusat Latihan Semi-Militer Hizbullah


H. Munawar Fuad Noeh, MA., putra Cibarusah yang tengah menjadi kandidat Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Anshor masa khidmat 2010-2015, menggagas pembangunan Monumen Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

“Monumen ini perlu dibangun, karena di Cibarusah pernah terjadi peristiwa bersejarah yang luar biasa, yakni pelatihan laskar Hizbullah-Sabilillah,” kata Munawar saat soft launching pencanangan pembangunan monumen di Hotel Grand Zuri Jababeka, Kabupaten Bekasi, Selasa, 21 September 2010.

Menurut Munawar, laskar Hizbullah-Sabilillah dipimpin KH Wahid Hasyim pada 1937. Lokasi latihannya, diperkirakan di sekitar mesjid Al-Muhajirin. Agar monumen tersebut terwujud, “Saya berharap kepada Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Bekasi segera membentuk panitia nasional,” katanya.

Munawar menyatakan gagasannya ini telah didukung sejumlah tokoh NU di tingkat nasional, Jawa Barat, dan Bekasi, diantaranya KH Ma’ruf Amin, KH Sholahuddin Wahid, Cholid Mawardi, Slamet Effendi Yusuf, Syaiful Hadi, Sofandi Nawawi, Zuhdi Muhdlar, Mohammad Fikrie, Endang Shobirin, KH Munir Abas.

Ketua PC NU Kabupaten Bekasi, KH Munir Abas, berharap monumen ini segera terwujud. “Diakui atau tidak, NU harus dapat pengakuan semua pihak,” kata Munir yang menggongkan pencanangkan monumen.

Kepada Munawar Fuad dan Munir Abas, saya menyatakan amat mengapresiasi gagasan dan pencanangan pembangunan monumen tersebut. Alasannya, memang benar-benar ada faktanya. “Itu latihan semi-militer pemuda Islam yang amat bersejarah dalam sejarah nasional,” kata saya.

Mengapa hingga saat ini monumen tersebut tidak kunjung terwujud, dan bahkan peristiwanya seakan dikecilkan dalam penulisan sejarah nasional? Karena, kata saya, pemerintah Orde Baru tidak menyukai Islam, sehingga berbagai upaya dilakukan untuk “mengecilkan” peran Islam dalam penulisan sejarah.

Pada kesempatan itu, saya sepat mengoreksi beberapa hal, diantaranya mengenai nama kesatuan, tahun, tokoh dan lembaganya. Kesatuan yang berlatih di Cibarusah bukan Hizbullah-Sabilillah, melainkan Hizbullah. Tahunnya bukan 1937, namun 1944.

Memang tokoh kharismatis Nahdlatul Ulama (NU), KH Wahid Hasyim amat berperan dalam pembentukan dan memimpin Hizbullah, namun kapasitasnya saat itu lebih sebagai Ketua Umum Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

“Tapi soal NU yang punya gagasan untuk membangun monumen ini, harus dihargai dan didukung penuh oleh organisasi Islam lain,” kata saya. Bahkan, saya mengusulkan agar monumennya diberi nama Monumen Hizbullah. Alasannya, supaya lebih fokus.

Koreksi senada diutarakan Agah Handoko, putra Cibarusah, melalui pesan singkat telepon selular. “Bang Ali, di Cibarusah apa ada laskar Hizbullah lain? Setahu saya Masyumi yang mendirikan (Hizbullah). Dan pelatihannya di Cibarusah bukan 1937,” kata Agah.

Dari sejumlah referensi yang saya miliki, pembentukan Hizbullah bermula dari makin terdesaknya Tentara Pendudukan Jepang oleh Amerika Serikat dan sekutunya di Asia Pasifik sejak 1943. Untuk memperkuat pasukannya, sekaligus mendapat dukungan dari dalam Indonesia, Jepang mendekati para tokoh Islam dan nasionalis.

Konsekwesninya, Jepang memberi tempat kepada organisasi Islam, namun bukan Partai Sarekat Islam Indonesia dan Partai Islam Indonesia yang telah “dimatikan.” Melainkan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Umat Islam, dan Persyarikatan Umat Islam Indonesia.

Organisasi Islam ini diberi wadah federasi bernama Masyumi yang dibentuk pada 24 Oktober 1943. NU adalah salah satu organisasi massa Islam yang sangat berperan dalam pembentukan Masyumi. Tokoh kharismatis NU, Hadlratusy Syaikh Hasyim As’ari, terpilih sebagai pimpinan tertinggi Masyumi.

Karena Hasyim As’ari juga ditugaskan sebagai Kepala Jawatan Agama Pusat (Shumubucho), maka tugas sehari-hari Masyumi dipimpin oleh putranya yang juga mantan Ketua Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI), KH. A. Wahid Hasyim.

Organisasi Islam dan nasionalis, lantas difasilitasi Jepang untuk membentuk organisasi sayap semi-militer. Maksudnya, jika Amerika dan sekutunya menguasai Indonesia, pemuda-pemuda Indonesia siap melakukan perlawanan.

Kaum nasionalis membentuk Barisan Pelopor (Suishintai) pada 1 Nopember 1944, Barisan Berani Mati (Jibakutai) pada 8 Desember 1944. Adapun Masyumi membentuk Hizbullah (Kaikyo Seinen Teishintai) pada 15 Desember 1944. Hizbullah berarti “Tentara Allah.”

Pembinaan Hizbullah dipercayakan kepada Masjumi, sedangkan latihannya dilaksanakan oleh Kapten Yanagawa dari Beppan. Pusat latihan Hizbullah dikelola oleh Markas Tertinggi Hizbullah yang dipimpin oleh KH. Zainul Arifin, Konsul NU di Jakarta.


Anggotanya meliputi Abdul Mukti, Konsul Muhammadiyah Madiun, Ahmad Fathoni, Muhammad Syahid, Amir Fattah, Prawoto Mangkusasmito, dan KH Mukhtar.
Adapun penanggungjawab politik adalah KH A. Wahid Hasyim, didampingi KH Abdulwahab Hasbullah, Ki Bagus Hadikusumo, KH Masykur, Mr. Mohammad Roem, dan Anwar Tjokroaminoto.

Latihan semi-militer Hizbullah diselenggarakan selama dua bulan di Cibarusah, Bogor (sejak 1950 Cibarusah dimasukkan ke dalam wilayah Kabupaten Bekasi).
Pada angkatan pertama latihan, diikuti 150 pemuda yang dikirim dari tiap keresidenan di seluruh Jawa dan Madura. Masing-masing keresidenan sebanyak lima pemuda. Jumlah anggota Hizbullah diperkirakan mencapai 50 ribu orang.

Mengenai lokasinya persisnya, saya belum bisa memastikan. Namun, beberapa sumber yang keterangannya masih perlu dicross-check lagi, menduga bukan di mesjid Al-Mujahidin, melainkan di asrama bekas kongsi jaman Belanda.

Saifuddin Zuhri, tokoh NU yang pada 1944 sebagai sekretaris pribadi KH. A. Wahid Hasyim, ikut latihan Hizbullah di Cibarusah, mendeskipsikan bahwa pusat latihan terletak di sebuah tanah lapang seluas 20 hektare dekat perkebunan karet.

Beberapa bedeng terbuat dari bambu dan kayu yang didirikan untuk asrama, ruang belajar teori, mesjid, dapur, ruang makan dan sebagainya.

Barak-barak itu, kata dia, cuma bangunan sementara, tetapi mempunyai kelebihan dibanding dengan tangsi serdadu Jepang. Alasannya, bangunan terletak di alam terbuka yang berlatar belakang desa-desa dan perbukitan. Udaranya lebih jernih dibanding dengan udara kota.

Meski latihan semi-militer hanya dua bulan, namun Hizbullah cukup memberi “amunisi” kepada para pemuda Islam. Makanya, tatkala pecah perang kemerdekaan 1945-1949, Hizbullah bersama tentara reguler dan badan-badan perjuangan (termasuk Sabilillah) siap bertempur dan memainkan peran penting dalam perang kemerdekaan 1945-1949.

Ali Anwar, Sejarawan
Facebook : alianwar@yahoo.com Blog alianwar.wordpress.com

No comments: